Flying Swords of Dragon Gate (2011) Review : Simply The Next Sorcerer and the White Snake.

1/01/2012 05:37:00 PM



Apakah Tsui Hark akhirnya berhasil mengangkat nama Jet Li kembali di kancah dunia perfilman Asia? Atau malah terpengaruh dengan popularitas penggunaan efek CGI dan efek 3D seperti yang tengah melanda film - film blockbuster Hollywood? 

Banyak pecinta film yang masih trauma dengan film Jet Li terbaru, Sorcerer and the White Snake, yang rilis akhir bulan September lalu. Sebab, tidak hanya taburan Visual Effects-nya yang begitu ‘mengerikan’, alur cerita, adegan aksi hingga naskah filmnya berkualitas sangat buruk, hingga banyak yang menyebutnya sebagai ‘Film silat Indosiar nyasar masuk bioskop’. Padahal nama Jet Li biasanya adalah jaminan mutu sebuah film. Karena seburuk apapun film yang dibintanginya, adegan aksi-nya paling tidak mampu menghibur penonton (see : The One, The Forbidden Kingdom, The Mummy 3). Selang 2-3 bulan kemudian, Jet Li kembali menyapa bioskop. Dan kali ini ia bekerja sama dengan Tsui Hark, sutradara film legendaris di dunia perfilman Asia. Apakah akhirnya mereka bisa menghadirkan film martial arts yang menghibur seperti yang kita semua harapkan?


UNFORTUNATELY, NO. Dunia perfilman China sepertinya tengah dilanda krisis ‘jati diri’, bahkan termasuk sineas legendaris semacam Tsui Hark. Seperti yang kita ketahui, film - film di setiap negara tentu memiliki ciri khas ataupun trademark yang tidak bisa dijiplak begitu saja, seperti Hollywood yang terkenal dengan Visual Effects-nya yang canggih, China dengan martial arts dan sejarahnya yang luar biasa, hingga Indonesia yang populer dengan film - film horror-porno-nya. Dan apa yang terjadi ketika dunia perfilman China mengikuti gaya perfilman Hollywood? Hasilnya ya seperti Sorcerer and the White Snake dan Flying Swords of Dragon Gate (FSDG) : kacau - balau. 


Dalam film ini anda tidak akan menemukan adegan aksi tradisional seperti yang banyak orang gemari dari film - film China, karena hampir semua adegan aksi yang membutuhkan stuntman, hingga set tempatnya pun sebagian besar diganti dengan CGI yang kualitasnya sangat buruk. Contohnya seperti adegan pembuka film. Di mana para pendekar akan melakukan aksi di udara (terbang - terbang, whatever..) dan melibatkan balok kayu raksasa, semua di-replace dengan CGI. Hasilnya terlihat murahan dan tidak nyata, terutama ketika para pendekar beraksi di udara. Saya jauh lebih menyukai menggunakan cara tradisional (menggunakan Wire / kabel). Belum lagi banyak-nya gimmick yang terkesan seperti dipaksakan untuk memberi efek pop out 3D yang disukai penonton - penonton. Well, lewat film ini, paling tidak penonton tersebut (yang senang mencaci - maki efek 3D tidak terasa, dsb) bisa belajar bahwa efek gambar keluar layar yang mereka nantikan malah membuat sebuah film terlihat sangat murahan dan buruk.


Tidak berhenti sampai di situ. Set tempat padang pasir yang mencakup tiga per empat durasi film ini juga kebanyakan direplace dengan CGI dan teknik Green Screen. Alhasil, beberapa adegan akan terlihat sangat kasar dan tidak nyata berkat terbatasnya budget serta teknologi Visual Effects yang tidak mumpuni. 
Selain visual effects-nya yang ‘mengerikan’, aliran plot film ini juga tidak kalah rancu-nya. Paruh awal FSDG menceritakan mengenai kaum pemberontak yang berisi pendekar hebat dan dipimpin oleh Zhou Huai’an (Jet Li). Mereka memiliki misi untuk membunuh pejabat - pejabat korup pada masa Dinasti Ming. Pada pertengahan film, fokus para penonton dipindahkan ke kisah pelarian seorang pembantu kerajaan (Mavis Fan) bersama seorang pendekar perempuan, Ling Lanqiu (Zhou Zun) dari kejaran pasukan kerajaan yang hendak membunuhnya. Kedua cerita ini kemudian digabung bersama dengan kisah terakhir, yakni mengenai perburuan harta karun kerajaan yang hanya akan muncul setiap 60 tahun sekali di Dragon Gate Inn yang terletak di padang pasir.

Ketiga plot di atas digabung dalam 1 film berdurasi 120 menit yang mengalir dengan tidak rapi, tidak konsisten, membingungkan dan tidak nyambung. Selain itu, film ini juga memiliki kualitas naskah yang ababil : kadang tampak begitu cerdas (lihat taktik pertarungan di Dragon Gate Inn), kadang juga terasa sangat bodoh dan konyol (dialog - dialog bodoh, adegan aksi yang konyol, twist di akhir film yang membuat saya tertawa terbahak - bahak). Sehingga seusai menyaksikan film ini, saya lebih menginginkan agar Tsui Hark menghapus kisah Jet Li dan organisasi-nya yang tidak jelas itu, karena FSDG akan jauh lebih bagus apabila dijadikan film silat perburuan harta karun.

VERDICT :
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penggunaan Visual Effects dan CGI dalam film - film China asal digunakan seperlunya dan tidak berlebihan (contoh : Detective Dee). Namun tidak ddngan FSDG. Naskah amburadul dan taburan Visual Effects murahan yang tidak tanggung - tanggung, sanggup membuat FSDG terlihat begitu murahan dan tidak menyenangkan untuk ditonton; meski tidak separah Sorcerer and the White Snake berkat beberapa elemen cerdas, adegan aksi yang oke (waktu belum mulai beraksi di udara), dan akting yang cukup menyenangkan dari jajaran cast pendukungnya.

You Might Also Like

2 comments

  1. This is my first time visiting your Blog. I love it, and it helps me a lot. Keep it up ;-)

    ReplyDelete

Just do it.