300 : RISE OF AN EMPIRE (2014) REVIEW

3/08/2014 04:28:00 PM



2014 / US / Warner Bros. Pictures / 102 Minutes / Noam Murro / 2.39:1 / R

Bersetting pada masa sebelum dan sesudah event dalam film 300, 300 Rise of an Empire berkisah tentang seorang pemimpin pasukan Yunani, Themistocles (Sullivan Stapleton), yang berusaha melindungi negaranya dari serangan pasukan Persia yang dipimpin oleh Xerxes (Rodrigo Santoro) dan tangan kanannya, Artemisia (Eva Green). 
Sayangnya, armada Kerajaan Persia sudah terlalu kuat pada waktu itu dan sekutu-sekutu Yunani lebih memilih untuk mengibarkan bendera putih daripada menumpahkan darah sia-sia setelah mengetahui bahwa Leonidas (Gerard Butler) bersama 300 prajuritnya kalah telak melawan pasukan Persia. Alhasil, Themistocles berdiri sendirian bersama dengan beberapa ratus prajurit-prajurit setianya melawan puluhan ribu pasukan Persia meski mereka tahu mereka kalah telak dalam hal jumlah dan teknologi perang. 



Film 300 (2007) garapan Zack Snyder tujuh tahun silam memang bukan film yang bisa dibilang bagus-bagus banget. The plot was as simple as a war film can be. Tetapi berkat tampilan visual yang memukau, salah satu penampilan terbaik dari Gerard Butler, dan rentetan adegan aksi stylish yang tidak pernah mampir di layar lebar sebelumnya, 300 berhasil menjadi sebuah film yang disukai oleh banyak orang, terbukti lewat pendapatannya yang hampir mencapai setengah miliar dollar di box office dunia tanpa bantuan 3D dan IMAX 3D, sekaligus melambungkan nama Zack Snyder sebagai seorang sutradara spesialis film adaptasi komik (Man of Steel, Watchmen).

Tetapi itu tujuh tahun silam. Dan tujuh tahun adalah gap yang cukup lebar. Gaya visual film 300 sudah banyak ditiru oleh rumah produksi lain yang menginginkan kesuksesan serupa, sebut saja Immortals, serial TV Spartacus, dan bahkan film parodinya, Meet the Spartans, sehingga ia bukan sesuatu yang baru lagi untuk membuat masyarakat berbondong-bondong ke bioskop. Alur ceritanya sendiri juga dapat dikatakan sudah selesai lewat konklusi di akhir film 300, terlebih lagi, sang bintang utamanya, Gerard Butler, menolak untuk memerankan Leonidas lagi. Dengan segala kondisi yang tidak memungkinkan itu, memang terasa sangat aneh ketika Warner Bros. dan Zack Snyder mengumumkan untuk membuat film prekuel-sekuel-spin off dari film 300. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau mereka hanya berpegang pada harapan kalau 300 nantinya bisa menjadi franchise mereka yang baru (duh), bukan untuk melanjutkan ceritanya. Bahkan installment terbarunya ini pun “diadaptasi” dari buku graphic novel Frank Miller yang belum selesai ketika proyek Rise of an Empire sudah berjalan dan belum juga diterbitkan sampai film ini dirilis di bioskop.
Pandangan skeptis para fans pun kemudian terbukti menjadi kenyataan. 300 Rise of an Empire adalah sebuah film yang seharusnya tidak dibuat sejak awal. Alur ceritanya terasa kacau balau karena Zack Snyder, selaku produser dan penulis naskah film ini, melakukan tambal sulam di mana-mana untuk meyakinkan penonton bahwa cerita dari film 300 ini memang belum selesai dan hanyalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dalam universe 300 yang dipaksa untuk ekspansi seluas mungkin. Meski terkesan lebih epik dan lebih kompleks dari film 300 pertama, Rise of an Empire tidak lebih dari sebuah jalinan plot yang mengalir berdasarkan paksaan dan memutar-mutar cerita yang sebenarnya sudah selesai. Kalau kalian sudah menyaksikan The Bourne Legacy, maka kalian pasti mengerti betul problematika yang dialami oleh Rise of an Empire. 

Rise of an Empire juga cenderung banyak memakai template yang hampir persis sama dengan predesesornya. Noam Murro bisa dipastikan telah menjiplak seluruh gaya film 300 dan mengimplementasikan dalam Rise of an Empire, tetapi dengan keahlian setingkat-dua tingkat di bawahnya. Alhasil, rentetan adegan aksi dalam film ini tidak pernah berhasil memberi hiburan berkualitas dan intensitas thrill yang membuat 300 pertama begitu dicintai. Bahkan tata visual yang ditampilkannya juga sudah bukan lagi barang baru (terkesan usang malah). Kebrutalan dan cipratan darah digital di sepanjang film juga tidak pernah berhasil meyakinkan penonton kalau itu adalah darah sungguhan dan kalau pasukan Persia memang benar-benar barbar. Efek slow motion juga digunakan secara sangat berlebihan oleh sutradara Noam Murro di sepanjang film dan hanya sebagian saja yang benar-benar memukau. Kesimpulannya, Rise of an Empire tidak memiliki keanggunan visual dan imaginasi yang dimiliki oleh 300. Ia cenderung gagal total memberi suguhan sinematik dan saya yakin tidak sedikit penonton yang seringkali merasa seperti sedang melihat orang bermain video game hack-and-slash lebay dengan cheat efek slow motion yang tak terbatas. 
Salah satu hal terbaik dari Rise of an Empire adalah performa Eva Green sebagai tokoh antagonis Artemisia. Tatapannya yang dingin dan karakterisasinya yang sangat menarik itu begitu kontras dengan Sullivan Stapleton yang sama sekali tidak memiliki wibawa seorang pemimpin seperti Leonidas. Stapleton gagal total memimpin perhatian dan fokus penonton dengan baik di sepanjang film sehingga membuatnya begitu mudah dilupakan. Demikian pula dengan karakter pendukung lainnya yang terkesan seperti angin lewat. 


Overall, 300 Rise of an Empire adalah sebuah film eye-candy dengan tata visual megah dan efek 3D yang dahsyat. Tetapi itu tidak cukup untuk membuatnya menjadi lebih dari sekedar mesin uang bagi Warner Bros.—hal yang sepertinya sudah menjadi prioritas studio-studio besar Hollywood saat ini. Segala praduga negatif yang kita sematkan untuk film prekuel / spin-off / sekuel 300 ini hampir sepenuhnya berhasil terwujud.[]


Rating : ★ ★ 



You Might Also Like

1 comments

  1. Review nya keren bro :D salam kenal,ane lagi jalan2 aja nyari refrensi,bro kunjung balik ya http://cingconglu.blogspot.com/

    ReplyDelete

Just do it.