Akhir - akhir ini, para pecinta film telah dibuat trauma dengan film - film mandarin yang menyapa bioskop tanah air. Bayangkan, dari semua film Asia yang hadir tahun lalu, mungkin hanya Shaolin yang benar - benar sesuai dengan lidah kita. Belum lagi mendekati akhir tahun, kita disuguhi dua film Jet Li yang saking buruknya tidak bisa ditertawakan lagi. Dan untuk awal tahun 2012 ini, di tengah sepi - sepinya film blockbuster, 21cineplex menawarkan film mandarin berbudget besar, White Vengeance, kepada para peggemar film untuk mengisi waktu luang-nya. Berbeda dengan The Sorcerer and the White Snake, ataupun Flying Swords of Dragon Gate, White Vengeance tidak memiliki visual effects yang norak dan menjanjikan film kolosal "tradisional" yang spektakuler berseting masa peruntuhan Dinasti Qin. Namun, apakah janji sang sineas berhasil ditepati? Atau malah berakhir seperti The Lost Bladesman yang buruk dan membingungkan?
Siapa yang tidak mengenal Jet Li? Well, aktor satu ini tentunya sudah sangat dikenal hingga dua generasi, terutama di wilayah Asia. Hampir setiap filmnya selalu dinanti - nantikan banyak khalayak mulai dari yang bukan pecinta film sampai pecinta film, termasuk saya sendiri yang sangat menyukai film - film Jet Li. Walau film - filmnya tidak semuanya bagus, tetapi setiap adegan pertarungan yang melibatkan Jet Li selalu berhasil menghibur saya dan menutup - nutupi kekurangan film yang dibintanginya tersebut. Namun apakah hal ini juga berlaku untuk film terbarunya ini?
A Chinese Ghost Story adalah film remake dari film klasik yang diproduseri oleh Tsui Hark, salah satu sutradara papan atas China dan rilis pada tahun 1987 silam. A Chinese Ghost Story versi lama cukup terkenal dan memiliki banyak fans. Film ini diklaim berhasil mencampurkan unsur komedi, action, horror dan romansa menjadi sebuah film yang memorable. Sayangnya, film remake terbaru ini mendapat hujatan dari para fans maupun kritikus karena dianggap remake yang sama sekali tidak penting dan buruk, padahal film ini disutradarai oleh Wilson Yip, yang tidak lain adalah sutradara 2 film IP Man yang dipuji - puji kritikus.
Namun, apakah memang benar seburuk itu?
Ning Cai Chen dipanggil ke sebuah desa yang sedang mengalami kekurangan persediaan air. Setelah melakukan observasi, Ning Cai Chen memutuskan untuk mencari sumber mata air di Black Mountain, sebuah pegunungan dekat desa tersebut, bersama dengan beberapa "pengawal" yang ternyata adalah narapidana. Sesampainya di sana, rombongan tersebut diterjang badai. Mereka pun mencari tempat berteduh hingga menemukan sebuah kuil.
Di dalam kuil tersebut, Ning menemukan apa yang dicarinya : sumber mata air berlimpah. Namun, kuil tersebut bukan kuil biasa melainkan sarang para hantu. Ning berhasil selamat berkat ditolong oleh seorang hantu cantik yang bernama Nip Siu Sin, sedangkan rombongan lainnya tidak selamat. Ning tidak tahu kalau wanita yang menolongnya adalah seorang hantu dan parahnya, ia jatuh cinta pada hantu tersebut.
Masalah semakin rumit ketika kemunculan seorang pemburu hantu yang ternyata memiliki hubungan rahasia dengan Nip Siu Sin di masa lampau.
Seperti kebanyakan film remake yang telah beredar di bioskop sekarang, A Chinese Ghost Story versi baru ini dianggap gagal untuk menyamai kualitas film pertamanya. Namun, karena saya belum menonton film versi lamanya (dan saya juga cukup yakin banyak yang belum menonton versi lamanya yang dirilis tahun 1987 lalu, kecuali orang - orang yang lahir tahun 60-80an), saya cukup menyukai film ini.
A Chinese Ghost Story adalah film yang sangat menghibur (bahkan dengan berat hati, saya berani bilang film paling menghibur paska kehadiran Scre4m, Limitless dan Source Code di bioskop tanah air) berkat adegan aksi dan koreografi yang digarap sangat baik. Cinematography dalam film ini juga baik dan membuat tiap adegan aksi-nya dapat dilihat dengan nyaman karena (untungnya) Wilson Yip tidak menggunakan metode Shaky Cam yang memuakkan. Namun, penggunaan efek slow motion di sini agak terlalu berlebihan, yang terkadang membuat film ini malah terkesan lebay dan murahan. Cerita yang bergulir juga cukup menarik untuk disimak. Dari segi akting, di luar pemeran Ning Cai Chen, sudah bisa dibilang lumayan, terutama Louis Koo yang memerankan si pemburu hantu. Visual effects-nya, untuk ukuran film China, sudah termasuk bagus dibandingkan film Detective Dee tahun lalu, yang juga bertabur CGI.
Yang menjadi kendala di sini adalah naskahnya yang kacau balau dan tidak matang. Banyak sekali plot hole dalam film ini, mulai dari awal hingga akhir. Tidak hanya lubang cerita yang menganga lebar, terdapat banyak sekali kesalahan - kesalahan yang bisa dideteksi, bahkan oleh penonton yang tidak jeli sekalipun. Selain itu, lelucon yang disuguhkan juga terkesan garing walau kadang juga ada yang lucu.
Pada awalnya, saya sudah memberi film ini bintang 3 karena saya cukup menyukai film ini dari segi hiburan, setting tempat, maupun romansa antara manusia biasa dengan hantu yang menarik untuk disimak. Namun, dengan berbagai pertimbangan seperti naskah cerita semrawut dan plot hole di mana - mana, saya memutuskan untuk mengurangi nilainya. Tapi, bagi yang belum menonton versi aslinya, film ini pantas untuk dijadikan film alternatif di tengah usaha pemerintah untuk menghancurkan industri perbioskopan Indonesia.
Namun, apakah memang benar seburuk itu?
Ning Cai Chen dipanggil ke sebuah desa yang sedang mengalami kekurangan persediaan air. Setelah melakukan observasi, Ning Cai Chen memutuskan untuk mencari sumber mata air di Black Mountain, sebuah pegunungan dekat desa tersebut, bersama dengan beberapa "pengawal" yang ternyata adalah narapidana. Sesampainya di sana, rombongan tersebut diterjang badai. Mereka pun mencari tempat berteduh hingga menemukan sebuah kuil.
Di dalam kuil tersebut, Ning menemukan apa yang dicarinya : sumber mata air berlimpah. Namun, kuil tersebut bukan kuil biasa melainkan sarang para hantu. Ning berhasil selamat berkat ditolong oleh seorang hantu cantik yang bernama Nip Siu Sin, sedangkan rombongan lainnya tidak selamat. Ning tidak tahu kalau wanita yang menolongnya adalah seorang hantu dan parahnya, ia jatuh cinta pada hantu tersebut.
Masalah semakin rumit ketika kemunculan seorang pemburu hantu yang ternyata memiliki hubungan rahasia dengan Nip Siu Sin di masa lampau.
Seperti kebanyakan film remake yang telah beredar di bioskop sekarang, A Chinese Ghost Story versi baru ini dianggap gagal untuk menyamai kualitas film pertamanya. Namun, karena saya belum menonton film versi lamanya (dan saya juga cukup yakin banyak yang belum menonton versi lamanya yang dirilis tahun 1987 lalu, kecuali orang - orang yang lahir tahun 60-80an), saya cukup menyukai film ini.
A Chinese Ghost Story adalah film yang sangat menghibur (bahkan dengan berat hati, saya berani bilang film paling menghibur paska kehadiran Scre4m, Limitless dan Source Code di bioskop tanah air) berkat adegan aksi dan koreografi yang digarap sangat baik. Cinematography dalam film ini juga baik dan membuat tiap adegan aksi-nya dapat dilihat dengan nyaman karena (untungnya) Wilson Yip tidak menggunakan metode Shaky Cam yang memuakkan. Namun, penggunaan efek slow motion di sini agak terlalu berlebihan, yang terkadang membuat film ini malah terkesan lebay dan murahan. Cerita yang bergulir juga cukup menarik untuk disimak. Dari segi akting, di luar pemeran Ning Cai Chen, sudah bisa dibilang lumayan, terutama Louis Koo yang memerankan si pemburu hantu. Visual effects-nya, untuk ukuran film China, sudah termasuk bagus dibandingkan film Detective Dee tahun lalu, yang juga bertabur CGI.
Yang menjadi kendala di sini adalah naskahnya yang kacau balau dan tidak matang. Banyak sekali plot hole dalam film ini, mulai dari awal hingga akhir. Tidak hanya lubang cerita yang menganga lebar, terdapat banyak sekali kesalahan - kesalahan yang bisa dideteksi, bahkan oleh penonton yang tidak jeli sekalipun. Selain itu, lelucon yang disuguhkan juga terkesan garing walau kadang juga ada yang lucu.
Pada awalnya, saya sudah memberi film ini bintang 3 karena saya cukup menyukai film ini dari segi hiburan, setting tempat, maupun romansa antara manusia biasa dengan hantu yang menarik untuk disimak. Namun, dengan berbagai pertimbangan seperti naskah cerita semrawut dan plot hole di mana - mana, saya memutuskan untuk mengurangi nilainya. Tapi, bagi yang belum menonton versi aslinya, film ini pantas untuk dijadikan film alternatif di tengah usaha pemerintah untuk menghancurkan industri perbioskopan Indonesia.
RATING : 2.5 out of 5 Stars





