MALAVITA / THE FAMILY (2013) REVIEW

9/22/2013 08:35:00 PM



2013 / Europa Corp. / France / Luc Besson / 111 Minutes / 2.39:1 / R 


Konon, sutradara film asal Perancis, Luc Besson, pernah mengungkapkan dalam salah satu wawancaranya bahwa beliau hanya akan menyutradarai 10 film dan kemudian menghabiskan sisa hidupnya untuk duduk di kursi produser dan membimbing sutradara-sutradara muda. Namun pada kenyataannya, sepak-terjangnya di dunia perfilman dan penyutradaraan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan Malavita, atau dikenal juga dengan judul The Family di wilayah Amerika, merupakan film ke-20 yang disutradarainya. Yep, dua kali lipat dari yang pernah beliau janjikan. 

Tapi, toh, tidak ada yang keberatan kalau Luc Besson terus menerus melanjutkan pekerjaannya sebagai sutradara--meski film-filmnya kebanyakan hit-and-miss di kalangan para kritikus--selama itu masih mendatangkan banyak keuntungan. Terlebih lagi, mayoritas masyarakat dunia juga menyukai film-film besutan Luc Besson karena, biar mau sejelek apapun, film-film dengan brand Luc Besson, ntah yang disutradarai atau diproduserinya, selalu berhasil menyuntikkan kadar hiburan yang tidak main-main enjoyable-nya dan sukses mendatangkan banyak dollar dari pendapatannya di seluruh dunia. Apakah hal ini juga berlaku untuk Malavita? Let’s find out.


Setelah berhasil memenjarakan raja kriminal, Don Luchese, mantan bos mafia Giovanni Manzoni (Robert DeNiro) bersama keluarganya diasingkan ke kota terpencil di Perancis oleh CIA demi menjaga mereka dari para pembunuh bayaran yang dikirim Don Luchese. Tetapi, kebiasaan tetaplah menjadi kebiasaan. Giovanni, termasuk istrinya Maggie (Michelle Pfeiffer), dan anak-anaknya, Belle (Dianna Agron) serta Warren (John D’Leo), tidak dapat berhenti menyiksa, menipu, dan membunuh orang agar semua hal di sekelilingnya berjalan sesuai dengan kehendak mereka. Sayangnya, hal ini membuat agen CIA Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) kewalahan menutup jejak karena perbuatan dan kebiasaan keluarga Manzoni yang nyentrik ini lambat-laun menarik perhatian para pembunuh bayaran Luchese.

Dilihat dari sudut pandang manapun, kisah yang disajikan Malavita memang sama sekali tidak berada satu level dengan film-film gangster garapan Martin Scorsese (FYI, beliau turut menjabat sebagai excecutive producer film ini) ataupun yang pernah dibintangi oleh Robert DeNiro. Jadi, apabila cerita solid dan studi karakter yang dapat menarik perhatian juri Oscar adalah apa yang anda semua harapkan dari Malavita, maka sebaiknya anda tidak usah menyaksikan film ini. 

Luc Besson yang menulis script film ini bersama dengan penulis novel ‘Malavita’ lebih menitik-beratkan film ini di segmen black-comedy-nya yang sangat kental sembari berusaha menceritakan apa jadinya kalau keluarga bos mafia kelas kakap berada di dalam program witness-protection dengan tone yang “ceria”. Jadi, ringan adalah kata kunci film ini. Anda tidak akan menemukan politik kotor, pengkhianatan, balas dendam, dan lain sebagainya yang sering mewarnai film-film gangster seperti ini. It’s as simple as that.

Untunglah, film ini memiliki aktor-aktris kaliber Oscar seperti Robert DeNiro (beliau memang terlahir untuk menjadi mafia. He’s so damn good), Michelle Pfeiffer, sampai Tommy Lee Jones yang benar-benar berhasil membuat Malavita begitu asyik untuk diikuti. Lawakan-lawakan mereka yang sadistik, dialog-dialog cerdas, aksi-aksi psikopat yang kreatif, dan beberapa hommage untuk karir Robert DeNiro serta Martin Scorsese akan membuat para penonton tertawa terbahak-bahak dari awal sampai akhir. But beware, seperti kebanyakan film bergenre komedi hitam, sifatnya cukup segmented. Jadi, kalau anda mengerti dan gaya humornya dapat merangsang saraf tawa anda, maka anda akan selalu tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Tetapi kalau tidak, maka anda akan selalu bertanya-tanya apa yang membuat penonton lain tertawa. 



Selain itu, dukungan supporting cast-nya juga sanggup menyeimbangi senior-senior mereka. Dianna Aggron dan John D’Leo, yang berperan sebagai anak-anak Giovanni, berhasil mengerahkan segala kekuatan akting dan kelebihan yang mereka punya untuk membangun chemistry yang luar biasa dengan Robert DeNiro dan Michelle Pfeiffer. 

Di samping unsur black comedy-nya yang benar-benar dibuat standout, adegan aksi penutup di third act-nya juga tidak kalah asyiknya. Bagi yang sering menonton film-film garapan Luc Besson, hal ini sudah bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi.

Sayangnya, Malavita agak kedodoran di pertengahan film akibat alur ceritanya yang dangkal dan kelewat sederhana untuk film berdurasi 2 jam. Minimnya konflik dan tensi dalam plotnya membuat penonton seringkali bertanya-tanya apa maunya film ini, sampai kemudian secara tiba-tiba, segala permasalahan diselesaikan pada third act-nya yang kelewat cepat. Penceritaan backstory para keluarga Manzoni juga terasa kurang bumbu sehingga membuat para penonton gemas dan menginginkan sesuatu yang lebih. Jadi, meski Luc Besson dapat dikatakan sukses dengan humor-humor cerdasnya, kekuatan narasi Malavita justru gagal untuk membuat film ini dapat meninggalkan kesan mendalam di memori penonton setelah credit title-nya bergulir.


Overall, Malavita memang merupakan film yang dibuat untuk bersenang-senang. Bahkan Martin Scorsese, Robert DeNiro, Michelle Pfeiffer, dan Luc Besson pun juga tampak sangat bersenang-senang di film ini. Jadi, tunggu apalagi, buang semua logika anda, turunkan ekspetasi, dan anda pasti dapat merasakan betapa fuck*-nya Malavita ini sebagai salah satu film black comedy terbaik di tahun 2013.


Rating :  ½
FOLLOW ME ON TWITTER : @Elbert_Reyner 



You Might Also Like

0 comments

Just do it.