ONE DIRECTION : THIS IS US (2013) 3D REVIEW

9/03/2013 07:53:00 PM



Menentukan pilihan untuk menyaksikan versi 3D atau 2Dnya memang masih terasa sulit di tengah masyarakat meski pihak grup 21 sekarang sudah mempermudahnya dengan menyetarakan harga tiket masuknya. Ya, kalau dulu kita punya alibi tentang masalah perbedaan harga, sekarang hanyalah masalah kualitas : apakah efek 3Dnya sanggup memberikan movie experience yang luar biasa, yang tidak dapat kita peroleh dari versi regulernya (2D) sehingga kita diharuskan untuk menyaksikan film tersebut dalam format 3D demi mendapatkan experience yang diharapkan sang sineas? Well, post ini saya harapkan dapat semakin mempermudah kalian untuk mengambil keputusan! 
Note : saya SEDIKIT membahas isi filmnya dalam post ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cinema : Ciputra World XXI, Studio 3 (August 29, 2013)

Tiap bioskop memiliki teknisi dan kualitas studio yang berbeda-beda sehingga pengalaman menonton saya kemungkinan juga akan berbeda dengan anda apabila anda menyaksikannya di bioskop lain. Saya juga sengaja mencantumkan tanggal saya menyaksikan film tersebut karena terkadang beragam bentuk perbaikan (upgrade software, firmware, pengaturan ulang, kalibrasi, dsb) juga bisa terjadi 1-2 hari setelah film tersebut tayang perdana di bioskop.

3D Technology : Dolby Digital 3D

Dolby Digital 3D adalah teknologi 3D yang digunakan oleh Cinema 21. Sedangkan Blitzmegaplex menggunakan teknologi Real-D 3D di bioskop jaringannya. Keduanya adalah teknologi 3D yang berbeda sehingga otomatis pengalaman menonton kemungkinan besar juga berbeda.

Shot in 3D : NO

One Direction : This is Us adalah film dokumenter yang sebagian besar footage-nya diambil dari behind-the-scenes tur konser mereka. 

THE MOVIE : 

Sebenarnya tidak banyak yang diceritakan oleh film dokumenter One D. Morgan Spurlock lebih memfokuskan alurnya di segmen fans-service dengan hanya sedikit menyinggung kisah hidup kelima personel One D ini bagi para penonton yang masih awam. Tetapi "sedikit" bukan berarti buruk. One D masih berhasil memberikan hiburan yang sangat refreshing di sepanjang durasi 90 menitnya dengan beragam keusilan para personel One D yang fun untuk diikuti dan juga beberapa scene mengejutkan yang akan membuat anda tersentuh dan tersenyum sendiri (seperti, SPOILER : cameo the great MARTIN SCORSESE), bahkan mungkin bagi para haters dan casual audiences sekalipun. 

Brightness : 5/5
Menggunakan kacamata 3D itu ibaratnya memakai kacamata hitam ketika menonton film di bioskop, sehingga gambar di layar akan menjadi lebih gelap. 
Meski sebagian besar footage One D dishot secara indoor dan nuansa panggung mereka yang cenderung gelap, tingkat brightness film ini benar-benar sangat cerah.

Depth : 3.5/5
Depth adalah ilusi kedalaman gambar di layar yang membuat para penonton merasa tengah menyaksikan adegan - adegan film tersebut dari balik jendela raksasa atau bahkan merasa ikut terlibat dalam adegan tersebut.

Footage interview-nya bisa dibilang sangat flat (bahkan ketika anda melepas kacamata 3D anda, adegan di layar masih terlihat jelas), tetapi hal ini tidak berlaku ketika mereka mulai naik ke panggung dan bernyanyi. Depth yang luar biasa, dibantu dengan kualitas kamera high-class dan teknik editing yang jitu, anda akan dibuat merasa sedang menonton konser mereka di barisan paling depan secara live.

Pop Out : 3/5
Pop Out adalah ilusi gambar yang keluar dari layar. Dan biasanya efek pop - out-lah yang dinanti - nantikan para penonton awam karena unsur hiburannya ataupun karena persepsi mereka terhadap efek 3D adalah gambar keluar layar. Namun, perlu dicatat bahwa pembuatan efek pop out dalam sebuah film bisa dibilang gampang - gampang susah. Dibuat berlebihan, akan menimbulkan gimmick dan membuat film tersebut tampak murahan. Oleh karena itu, dibutuhkan kreatifitas dan perencanaan yang matang agar efek pop out yang dihasilkan tidak terkesan dipaksakan.

Tidak perlu terkejut kalau efek pop-out ini sebagian besar dibantu dengan efek CGI seperti sinar-sinar laser yang menembus keluar layar. Tetapi tenang saja, Morgan Spurlock mengerti apa yang penonton inginkan. Beragam jenis fans-service seperti shot close-up wajah personel, tangan mereka yang keluar menembus layar, dsb (please use your imagination) cukup banyak bertebaran di sepanjang durasi 90 menitnya. Hal ini jelas dapat menembus harga uang tiket 3D anda.

Health : 5/5
Tidak semua orang tahan ketika menyaksikan film 3D. Ada yang mengalami rasa pusing dan mual seusai menonton film 3D. Sebagai pecinta film dan 3D enthusiast, saya sangat bersyukur tidak dianugrahi "bakat" tersebut. 

Worth It? YES

Overall, 1D This is Us bukanlah sebuah film penting yang wajib anda saksikan di bioskop. Tetapi jika anda seperti saya yang sudah jenuh dengan beragam film-film blockbuster penuh ledakan tumpahan musim panas lalu, maka 1D This is Us jelas dapat dijadikan sebuah film alternatif yang fun, refreshing dan tidak akan membuat anda menyesal telah menyaksikannya di bioskop. 


1D This is Us adalah film dokumenter musik kedua yang dirilis serentak di bioskop Indonesia setelah Michael Jackson's This is It (2009).
Hanya tersedia dalam format 3D.






You Might Also Like

2 comments

  1. ya, kadang saya juga bingung menentukan 2D/3D. pihak 21 kadang menempatkan film 3D di studio yang kecil jadi kurang berasa gitu.

    ReplyDelete
  2. bagus min reviewnya :3 aku boleh ngasih saran gak min? yang mau baca review film terbaru, bisa lansung ke http://gostrim.com/category/movie-review/ disitu reviewnya lengkap :) selamat membaca

    ReplyDelete

Just do it.