TABULA RASA (2014) : KETIKA HATI DAN BUDAYA BERSATU DALAM RASA

10/11/2014 07:06:00 PM



 2014 / Indonesia / Life Like Pictures / Adriyanto Dewo / PG / 2.39:1

Adalah sebuah keironisan ketika keanekaragaman dunia kuliner autentik yang ada di Indonesia justru sangat jarang diangkat oleh sineas tanah air sebagai topik utama dalam film-film mereka. Padahal, lewat ledakan tren mengupload foto makanan di Instagram, foodblogger baru yang terus lahir setiap hari, dan puluhan website ataupun aplikasi yang akan membantu anda mencari makanan lezat, seharusnya tidaklah terlalu sulit menggandeng mereka untuk melakukan kegiatan positif membudidayakan dan membangkitkan awareness masyarakat terhadap dunia kuliner nasional, daripada bakat dan ketertarikan mereka disalurkan pada makanan-makanan yang lahir dengan ilmu dan aliran dari negeri seberang. Tentu saja, semua itu hanya tinggal menunggu waktu, karena pada akhirnya, selalu ada yang pertama dalam segala sesuatunya. Produser Vino G. Bastian, Sheila Timothy, bersama dengan sutradara Adriyanto Dewo mengangkat masakan Padang ke medium layar lebar lewat film bertajuk ‘Tabula Rasa’, sebuah persembahan yang mereka klaim sebagai film Indonesia pertama yang mengangkat dunia kuliner sebagai inti dari segala hal yang terjadi dalam film ini.





Tetapi, sebelum kita berpikir macam-macam seperti, apakah film ini hanya akan sesumbar soal masakan-masakan Padang yang tidak fotogenik, atau apakah film ini akan bercerita soal asal mula masakan rendang sampai ia mendapatkan predikat sebagai salah satu masakan terenak di dunia, mari kita bedah terlebih dahulu, senyawa-senyawa yang terkandung dalam film Tabula Rasa. 

Sekilas, judul ‘Tabula Rasa’ memang terdengar seperti sesuatu yang indah yang berhubungan dengan cita rasa dalam masakan, tentu saja, karena adanya unsur ‘rasa’ dalam judul itu. Tetapi apabila anda meluangkan sedikit waktu untuk mencari tahu, arti sebenarnya dari istilah ‘tabula rasa’ itu justru jauh dari pemahaman yang muncul pertama kali di benak anda ketika mendengarnya.


Tabula Rasa berasal dari bahasa latin yang berarti ‘kanvas kosong’. Dalam ilmu filosofi, istilah ‘tabula rasa’ digunakan dalam teori epistemologi untuk menjelaskan bahwa setiap individu pada dasarnya lahir seperti sehampar kanvas kosong, di mana semua pengetahuan yang akan mengisi kanvas tersebut akan mereka dapatkan melalui pengalaman dan persepsi mereka terhadap segala sesuatu yang mereka lihat, sentuh, cium, dengarkan, dan rasakan. Saya tidak akan membahas atau menafsirkan maksud dari pemakaian judul ‘Tabula Rasa’ ini lebih lanjut, karena pada dasarnya, film Tabula Rasa justru jauh dari film dengan muatan filosofis yang pretensius. Tabula Rasa adalah film tentang keluarga, moral, dan masakan yang disajikan dengan amat sederhana.



Kisah Tabula Rasa dimulai ketika Emak (Dewi Irawan) dan Natsir (Ozzol Ramdan) menemukan seorang remaja dari Papua bernama Hans (Jimmy Kobogau) yang tergeletak di tengah jembatan yang selalu dilaluinya ketika dia hendak berangkat ke pasar di pagi hari. 

Karena kasihan, Hans kemudian diajak oleh Emak ke restoran Padang miliknya untuk mengenyangkan perut dengan masakan padang dan menghangatkan tubuhnya yang menggigil lewat kehangatan keluarga yang sudah lama tidak dirasakannya. Konflik dimulai ketika Parmanto (Yayu Unru) menolak kehadiran Hans karena situasi keuangan restoran Padang Emak sedang di ujung tanduk, belum lagi seorang pengusaha mendirikan restoran Padang yang lebih mewah di dekat situ. Di tengah ledakan konflik yang semakin hari semakin memuncak, masa lalu Emak yang kelam mulai terkuak, membuat Hans dan Natsir harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan restoran Padang miliknya. 

Seperti yang sudah kita singgung tadi, Tabula Rasa adalah sebuah suguhan foodporn yang lebih dari sekedar film kuliner yang mengajak para penontonnya untuk mengimajinasikan rasa dari aneka masakan-masakan Padang di lidah mereka lewat tata sinematografinya yang akbar, ataupun lewat proses penggambaran masakan tersebut yang disalurkan melalui dialog. Tabula Rasa juga bercerita mengenai sebuah keluarga yang menggantungkan hidup mereka pada masakan Padang, bagaimana masakan itu bisa mengubah hidup mereka masing-masing, dan bagaimana masakan itu bisa menjadi sentral dari segala permasalahan yang mereka hadapi dan sekaligus menjadi solusi untuk memecahkannya. Tidak hanya itu, sentuhan budaya yang kental, beserta dengan penampilan cemerlang dan logat yang terlatih dengan baik dari jajaran pemerannya juga tak hengkang dari racikan spesial Tabula Rasa yang membuatnya terasa begitu nikmat untuk diikuti. 

Akan tetapi, di luar keberhasilan film ini dalam memanfaatkan dukungan bumbu-bumbu berkualitas, penata naskah Tumpal Tampubolon kurang cermat dalam mengolah alur ceritanya. Alur yang disuguhkan Tabula Rasa memang tidak mendatangkan hal baru dalam genre film-film feel-good movie, mulai dari formulanya yang familiar, sampai perkembangan karakter-karakternya yang begitu-begitu saja. Dan Tumpal Tampubolon membuatnya semakin terasa kurang bumbu berkat pendekatakan yang dilakukannya cenderung bermain aman dan tampak takut untuk mengarahkan ceritanya keluar dari rumus dan template yang sudah ada. 


Hal ini, tentunya, membuat Tabula Rasa menjadi mudah ditebak, terasa sangat familiar, dan tidak menarik lagi setelah para penonton selesai berkenalan dengan jenis-jenis masakan padang dan bagaimana cara memasaknya. Untung saja, berkat chemistry antar pemainnya yang luar biasa dan tata sinematografi yang cantik dan cermat dari Amalia TS, penonton menjadi tidak begitu keberatan untuk mengikuti aliran kisahnya yang familiar dan sudah sering kali diangkat ke medium feel-good movie tersebut. 




Overall, di luar kelemahan-kelemahan yang sepertinya tidak bisa dihindari demi memuaskan penonton awam kita, Tabula Rasa tetaplah sebuah suguhan film kuliner yang terasa lezat di lidah, dengan semangat kekeluargaan yang menghangatkan hati, sebagaimana sebuah masakan lezat sejati yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mempengaruhi emosi dan perasaan anda.[]

Rating: 3.5 out of 5 stars


You Might Also Like

2 comments

  1. salam hnagat dari kami ijin menyimak sahabat dari kami pengrajin jaket kulit

    ReplyDelete
  2. salam kenal dari saya
    :)
    kunjung dan vote ya
    http://goo.gl/SqjHEx

    ReplyDelete

Just do it.