10 REASONS WHY SPECTRE IS ONE OF THE BEST JAMES BOND MOVIE EVER

11/09/2015 09:06:00 PM



Spectre, saya yakin kalian semua sudah tahu, telah dirilis hari Jumat 6 November kemarin dengan sambutan yang kurang meriah dari penonton. Ada yang bilang Spectre adalah film Bond terburuk sepanjang masa, ada yang bilang membosankan, ada juga yang bilang bagus banget. Entah itu penonton awam, atau kritikus, atau fans Bond era Daniel Craig, pendapat mereka soal Specte kebanyakan sangat kontras. Tapi sebagian besar fans Bond fanatik pasti setuju pada satu hal: Spectre adalah film James Bond yang sebenarnya. 

Oh, tentu kalian semua sudah tahu soal pro dan kontra James Bond versi Daniel Craig yang terus menjadi perbincangan setiap kali filmnya dirilis. Sebagian besar fans yang sudah terbiasa dengan era Roger Moore dan Pierce Brosnan tidak menyukai Bond era Daniel Craig yang sangat serius, brutal, dan telanjang tanpa gadget. Ketika film espionage lain mulai banyak yang mengekor formula James Bond, sang trendsetter sendiri justru mulai kehilangan identitasnya. That’s what we thought about Casino Royale, Quantum of Solace, and Skyfall.
Dan entah apa yang dipikirkan oleh Sam Mendes, Spectre justru keluar dari formula Bond era Daniel Craig dan tampil seperti fans service yang luar biasa bagi pecinta film-film Bond klasik. Sementara para penonton yang mengharapkan nuansa Spectre seperti film-film sebelumnya justru kecewa berat dengan beragam alasan.

Menurut kami, para fans Bond yang tidak menyukai Quantum of Solace dan Skyfall kemarin, berikut sepuluh alasan mengapa Spectre adalah salah satu film James Bond terbaik yang pernah dibuat. 
[SPOILERS AHEAD!]



Classic Gunbarrel Sequence is Back at the Beginning

Mungkin terlihat sepele, tetapi bagi para fans, gunbarrel sequence ini sudah seperti opening crawl yang selalu menjadi pembuka film Star Wars. It’s the cue that you are watching a James Bond movie. Dari total 24 film Bond, hanya tiga film Daniel Craig yang dengan kurang ajarnya memodifikasi dan meletakkan gunbarrel sequence ini di belakang film. Saya tidak percaya kalau mereka butuh waktu 13 tahun hanya untuk mengembalikannya di depan, tanpa modifikasi, lengkap dengan musik temanya yang khas itu. But one thing for sure: it will literally make every Bond fans cry!





The Opening Action Sequence is Simply One of the Greatest in the Franchise

Lima menit shot tanpa cut, ribuan extras yang menutup jalanan Mexico, helikopter yang berputar 360 derajat, ledakan dahsyat, dan US$20 juta untuk membuat semuanya itu menjadi mungkin, Bond 25 jelas punya banyak PR untuk mengalahkan, atau paling tidak, menyamai kemegahan opening Spectre ini.

Hilarious Dark Humors and Catchy One Liners

Bond sudah dikenal dengan selera humornya dan cara dia menanggapi percakapan dengan satu kalimat pendek yang cerdas. Spectre punya itu semua.

Here’s some of my favorite lines:
Swan: You shouldn’t stare.
Bond: Well, you shouldn’t look like that.
-
Blofeld: So, why did you come?
Bond: I came here to kill you.
Blofeld: And I thought you came here to die.
Bond: Well, it’s all a matter of perspective.
-
Bond: Bond… James Bond. (duh)





Classic Plot with Classic James Bond Formulas

Dari review-review negatif yang beredar, banyak yang menyalahkan alur cerita Spectre yang dangkal dan tidak masuk akal. Let’s say… sejak kapan kita menonton film James Bond untuk ceritanya? Tiga film Daniel Craig sebelumnya, Casino Royale, Quantum of Solace, dan Skyfall terlalu banyak bercerita, terlalu personal (QoS dan Skyfall), dan terlalu serius. Tentu, untuk ukuran film action thriller, ketiga film ini sangat luar biasa. Tapi sebagai film Bond? Mereka kehilangan identitasnya.

Spectre akhirnya kembali menggunakan formula film-film James Bond yang sebenarnya: alur cerita yang hanya digunakan sebagai excuse untuk rentetan adegan aksi yang dahsyat dan mengajak Bond keliling dunia. Spectre juga punya markas besar milik musuh Bond, algojo bisu yang punya kekuatan superhuman, penampilan super villain yang komikal, pidato evil plan untuk menguasai dunia, torture scene, Q’s gadgets, dan hommage untuk film-film Bond klasik yang bertebaran di mana-mana. Sweet!

Oke, saya setuju dengan durasinya yang terlalu panjang, tetapi siapa yang bisa menolak berlama-lama dengan James Bond experience seperti ini?



The Perfect Blend of Classic and Modern Bond

Tidak hanya menggunakan kembali formula film Bond, Sam Mendes juga dengan lihainya menyelipkan elemen-elemen tiga film Daniel Craig sebelumnya. Nuansanya yang serba dark dan realistis, gadget yang tidak norak, motif villain yang “believable”, plot yang saling berkaitan, serta karakter James Bond yang lebih manusiawi, semua masih dipertahankan di Spectre.

The Whole Family is Back and Better Than Ever

Salah satu aspek yang paling saya sukai dari Skyfall adalah cara ia memperkenalkan kembali Q dan Moneypenny menjadi dua karakter yang mempunyai peran penting dan backstory yang menarik. Spectre menaikkan derajat mereka berdua lebih lagi dari sebelumnya. Kini Q, Moneypenny, bersama dengan M yang baru ikut terlibat secara langsung di lapangan membantu Bond menuntaskan misinya, sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.

Spectre Operates Like Hydra

Masih ingat waktu Sam Mendes mengakui kalau dirinya terinspirasi The Dark Knight ketika memfilmkan Skyfall? Kali ini, saya yakin Sam Mendes terinspirasi The Winter Soldier: mulai dari metode organisasi Spectre yang beroperasi dari dalam MI6, anggota-anggotanya yang mempunyai jabatan politik, hingga aksi mereka yang menekan Bond sampai di titik batasnya. Ring any bell?





Bond Style Action Sequences


Salah satu ciri khas film-film James Bond adalah adegan aksinya. Bond era Pierce Brosnan masih menjadi yang terbaik dan terdahsyat di antara film-film lainnya (adegan car chase dengan tank di Goldeneye itu masih tak terkalahkan). Setelah dikecewakan oleh adegan aksi Quantum of Solace yang memusingkan dan Skyfall yang kelewat minim untuk ukuran film Bond, Spectre memberi peningkatan yang cukup drastis. Mulai dari parade Day of the Death di Meksiko, balapan di Roma (walau lebih seperti iklan mobil), car chase di pegunungan Austria, pertarungan di kereta api yang banyak mengingatkan kita dengan The Spy Who Love Me (1977), hingga adegan klimaksnya yang sangat menegangkan itu, semua tampil dengan porsi yang pas tanpa ada rasa berlebihan ataupun kekurangan. Bravo, Mendes!





“It was me James, The Author of all Your Pain.”

Ketika kucing putih khas itu muncul di layar, saya sudah mau loncat-loncat kegirangan. CHRISTOPH WALTZ IS ERNST STRAVO BLOFELD ((with hair, CGI scar, and silly motives!)).

The Ending


Adegan penutup film Spectre memberi efek yang sama ketika kita disuguhi adegan ‘Bond… James Bond’ di penghujung Casino Royale. It’s super exciting dan membuat kita tak sabar untuk menyaksikan lanjutan pertarungan Bond dengan arch-enemy-nya. Blofeld is still alive!





You Might Also Like

3 comments

  1. Akhirnya nemu review spectre yang bagus, soalnya lainnya banyak yang bilang jelek (saya salah satunya, btw :p ).

    Alurnya lambat, chemistry dengan Bond girl yang lemah, dan villain utama yang cuma segitu doang.

    Nggak tau kenapa lebih suka sama Skyfall dan Casino Royale. Imo.

    ReplyDelete
  2. Gw termasuk yg ga terlalu suka ama bond versi craig ini. Ga tau knp kayany ga kerasa jiwa bondnya seperti film2 sebelumnya. Okelah klo seandainya ga menggunakan embel2 james bond, bisa jd film action yg lbh bagus, tp sebagai film bond gw kecewa beratlah.

    Bagi gw tetep roger moore & sean connery is the best. Brosnan yg plg mendekati keduany.

    ReplyDelete

Just do it.