Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016) Review: Komedi Yang Terlalu Bergantung Pada Bumbu Nostalgia

9/12/2016 06:46:00 PM

 


VERDICT: Keputusan Falcon dan Anggy Umbara untuk membagi Jangkrik Boss menjadi dua bagian membuat film ini kehilangan banyak momentumnya, dan seringkali, terasa terlalu bergantung pada elemen nostalgia-nya.

KOMEDI YANG TERLALU BERGANTUNG PADA BUMBU NOSTALGIA



Setelah dua orang personilnya, Wahyu Sardono dan Kasino Hadiwibowo, meninggal dunia dan menyisakan Indrodjojo Kusumonegoro seorang, tak ada yang menyangka grup lawak Warkop DKI bisa tampil kembali di layar lebar dengan sederet pemain baru, 22 tahun setelah film terakhir mereka, Pencet Sana Pencet Sini, dirilis tahun 1994 silam. Di film reboot ini, tugas sutradara Anggy Umbara dan para cast tidaklah mudah. Pasalnya, Warkop DKI Reborn tidak hanya harus bisa memuaskan para penggemar lamanya, tetapi juga memperkenalkannya kepada generasi baru yang belum pernah mengincip film bioskop dan serial TV Warkop.


Sebagai penonton yang tidak tumbuh bersama film-film komedi Warkop, saya cukup was-was ketika Falcon Pictures menyerahkan film Warkop DKI Reborn ke tangan Anggy Umbara. karena di balik film-film suksesnya itu, Anggy mempunyai style penyutradaraan dan gaya bercerita yang ‘unik’. Eksekusi visual berlebihan, forced humor, dan plot dengan terlalu banyak cabang adalah beberapa dari ciri khas Anggy Umbara yang membuat film-filmnya terasa menjenuhkan bagi beberapa kalangan penonton. Warkop DKI Reborn pun ternyata tak luput dari itu. 




Film Warkop DKI Reborn dibagi menjadi dua bagian dan berkisah tentang tiga anggota pasukan khusus CHIPS, Dono (Abimana Aryasatya), Indro (Tora Sudiro), dan Kasino (Vino G. Bastian) yang bertugas menertibkan masyarakat. Tetapi ketika mereka diberi tugas untuk menangkap para begal, ketiga sahabat ini secara tak sengaja menimbulkan kekacauan di jalanan Jakarta dan dipaksa untuk memberi ganti rugi sebesar delapan miliar rupiah atau hukuman penjara selama sepuluh tahun. Dengan batas waktu satu minggu saja untuk melunasi denda tersebut, Dono, Indro, dan Kasino berjuang keras mencari uang delapan miliar tersebut sampai harus melancong ke Negeri Jiran.


Film Warkop DKI Reborn dibuka dengan cukup baik dan berhasil menjadi babak perkenalan kegilaan trio Dono-Indro-Kasino lewat potongan-potongan komedi slapstick serta sindiran fenomena sosial masa kini yang cukup cerdas dan efektif mengundang tawa. Meski belum pernah mengincip pengalaman menonton Warkop era 80-90an, elemen nostalgia memang terasa sangat dominan sejak di awal film. Cukup dirasakan dari tone, musik, dan penampilan komedi slapstick-nya yang unik dan old fashioned itu, penonton awam dan generasi muda pun akhirnya tahu kenapa Warkop bisa menjadi sangat legendaris seperti itu. Sungguh sebuah awal yang sangat menjanjikan.




Tetapi sayang, ciri khas Anggy Umbara kembali mengambil alih setelah Jangkrik Boss masuk ke cerita utamanya. Joke-joke-nya mulai terlalu sering dipaksaan untuk muncul dan terasa repetitif tanpa ada staging dan timing komedi yang kuat seperti yang ditampilkannya di awal film. Beberapa memang sangat kreatif dan berhasil mengundang tawa meriah (joke Khong Guan adalah salah satunya yang terbaik), tetapi tak sedikit pula yang terasa seperti forced humor, di mana penonton dipaksa untuk tertawa meski adegan tersebut berakhir tidak lucu.

Permasalahan ini terutama disebabkan oleh pergerakan plot Warkop DKI Reborn yang sangat lambat dan amburadul demi memenuhi kuota dua buah fitur film yang mengusung satu jalinan plot yang sama. Cerita memang bukan hal yang esensial di film komedi seperti ini, tetapi tanpa kompleksitas materi seperti film-film yang dibagi dua bagian lainnya (Harry Potter and the Deathly Hallows adalah contoh terbaik), penonton pun cepat atau lambat akan menemukan kejanggalan dan kekosongan dalam Warkop DKI Reborn dalam bertutur.


Bahkan satu dua sindiran dari personil Warkop sendiri pun sempat tersisip di humor breaking the fourth wall mereka. Salah satunya yang paling saya ingat berada di dekat penghujung film, di mana Dono mengatakan bahwa adegan tersebut dapat memperlambat alur film. Ironis, hal ini memang terjadi di hampir sepanjang film. Anggy Umbara banyak menambal kekosongan itu dengan berjibun joke, karakter sampingan, dan cameo di paruh awal dan tengah film sebelum akhirnya Jangkrik Boss mulai seru dan menguak plot utama yang ingin disampaikan film tersebut. Alhasil, keseluruhan bagian pertama Jangkrik Boss ini terasa seperti first act sepanjang satu setengah jam dengan plot sederhana yang sebenarnya bisa dirangkum dengan sangat padat dan efektif dalam satu film.



Untung saja, di samping kekurangan-kekurangannya itu, Anggy Umbara paling tidak berhasil menahan ego-nya di Warkop DKI Reborn. Not to mention, ini adalah presentasi terbaiknya sejauh ini. Meski masih mengusung efek visual dan teknik green screen untuk latar adegan yang sangat overused, Anggy Umbara tak lagi meledakkan tone warnanya, ataupun menebar efek cahaya dan slow motion di mana-mana, seperti yang biasanya selalu ia lakukan di film-filmnya. Secara estetika, eksekusinya di sini cukup menghormati source material-nya tanpa harus melenyapkan seluruh signature sutradara Anggy Umbara.

Tetapi kehebatan Warkop DKI Reborn sebenarnya terletak pada tiga pelakon pengganti tim utama Warkop yang bermain dengan sangat bagus. Mereka adalah nyawa Warkop DKI Reborn yang berhasil membuat adegan terburuknya sekalipun termaafkan. Abimana Aryasatya tampil sempurna sebagai Dono, lengkap dengan gigi palsu merongos, perut buncit, dan logat yang meyakinkan. Ia berhasil mencuri perhatian penonton di setiap adegan yang ada di film ini. Vino G. Bastian juga sama mengesankannya. Dengan suaranya yang khas dan ekseskusi komedi yang fantastis, Vino sukses membangun chemistry yang kuat dengan dua rekannya dan membuat gerak-gerik mereka begitu nagih untuk disaksikan. Sedangkan Tora Sudiro, yang memerankan karakter Indro yang paling 'waras', berhasil menjadi penyeimbang kegilaan Dono dan Kasino. Meski cukup disayangkan, Anggy Umbara terlalu banyak mengganggunya dengan cameo Indro Warkop versi asli yang seringkali mengganggu performa Tora dan membuatnya tenggelam di antara Dono dan Kasino. 





Overall, dengan jajaran cast yang sempurna dan beberapa humor slapstick yang kreatif, Warkop DKI Reborn memang berhasil membangkitkan kembali franchise Warkop di layar lebar setelah hiatus cukup lama dengan beragam potensi yang menarik untuk menjadi landasan di puluhan filmnya yang akan datang. Tetapi sayang, keputusan Falcon dan Anggy Umbara untuk membagi Jangkrik Boss menjadi dua bagian membuat film ini kehilangan banyak momentumnya, dan seringkali, terasa terlalu bergantung pada elemen nostalgia-nya yang hanya akan memberi dampak maksimal pada penggemarnya, tetapi minim bagi para pendatang baru.


Rating: ★★½ /  50 


You Might Also Like

1 comments

Just do it.