
Masih ingat dengan post Movie Trip part 1 dan part 2 saya pada awal berdirinya blog ini? Well, seperti kebanyakan film - film blockbuster yang sukses besar di tangga box office, Movie Trip akan kembali dilanjutkan ke part 3. Plot yang diusung jelas jauh berbeda dengan movie trip part 1 dan part 2 yang berkisah mengenai perjalanan hidup seorang cinephile yang mencari bagian hidupnya yang hilang sampai ke negeri antah - berantah sambil berjuang melawan kebijakan pemerintah yang berniat untuk menghancurkan kehidupan kaum cinephile. Movie Trip part 3 berfokus pada tiga cerita yang saling berhubungan, yakni mengenai pesta akbar seusai peperangan sengit satu tahun yang lalu, kebangkitan sebuah media massa, hingga kisah akhir dari kisah seorang ksatria kegelapan. Dengan budget yang lebih rendah dari part 1 dan 2-nya, Movie Trip part 3 diharapkan bisa menjadi jembatan untuk sebuah trilogi baru berikutnya.
Kungfu Panda merupakan sebuah kejutan bagi berbagai kalangan pada saat dirilis pada tahun 2008 silam. Bagaimana tidak, proyek animasi yang awalnya tidak begitu diperhatikan, ternyata berhasil mencuri perhatian masyarakat dunia dan dipuji - puji kritikus berkat filmnya yang bagus, lucu, dan sangat menghibur. Bahkan Kungfu Panda sempat dinominasikan sebagai Best Animated Feature Film di ajang Golden Globe dan Academy Award yang sayangnya dimenangkan oleh Wall-E. Dengan pendapatan sebesar US$ 631,744,560 di seluruh dunia, wajar apabila DreamWorks segera menggarap sequelnya yang baru saja dirilis Mei lalu di seluruh dunia. Sayangnya, Po tidak berhasil memakan seluruh popcorn dan camilan di bioskop Indonesia karena panda dilarang ke Indonesia oleh pemerintah.
Setelah dilantik menjadi Dragon Warrior, Po kini bekerja sama dengan The Furious Five melindungi The Valley of Peace, kota tempat Po tinggal. Suatu hari, muncul gerombolan pasukan serigala yang menyerang The Valley of Peace. Seperti biasa, Po dan kawan - kawan langsung bertindak melawan pasukan - pasukan tersebut, namun Po tiba - tiba sangat terkejut ketika melihat tattoo milik salah satu pasukan serigala tersebut. Ntah kenapa Po menjadi teringat masa kecilnya. Sementara itu, Po dan The Furious Five diutus oleh Master Shifu ke Gongmen City karena kerajaannya tengah diserang oleh Lord Shen, yang ternyata menciptakan senjata yang dapat menghancurkan China.
Kungfu Panda adalah salah satu film DreamWorks Animation yang saya sukai, di luar franchise Shrek dan How to Train Your Dragon, dan merupakan film animasi paling lucu yang pernah saya tonton. Saya masih ingat dulu tertawa - tawa sendiri bersama teman - teman saya seusai menontonnya karena teringat adegan - adegan konyol dalam Kungfu Panda. Dan terus terang saja, ketika mengetahui Kungfu Panda 2 tidak akan masuk ke Indonesia, saya sangat kecewa. Apalagi review - review film tersebut positif, membuat saya semakin menanti - nantikan film ini dan berekspetasi sangat tinggi.
Sayangnya, ekspetasi tinggi tersebut tampaknya terlalu berlebihan. Kungfu Panda 2 ternyata tidak berhasil memenuhi ekspetasi saya karena film ini tidak seorisinil dan selucu film pertamanya, tapi bukan berarti film ini jelek.
Bisa dibilang, konsep dalam sequel ini berbeda dengan predecessor-nya. Kalau dalam film pertamanya penuh keceriaan, maka sequel-nya kali ini lebih serius, fokus pada penokohan karakter Po, dan sedikit kelam. Meski kisah yang dihadirkan dalam Kungfu Panda 2 sudah cukup sering diangkat, kisahnya menarik dan lebih complex dari film pertamanya. Bahkan di beberapa adegan dapat memancing tangis haru ataupun membuat bulu kuduk penonton berdiri. Selain itu, Kungfu Panda 2 juga berhasil menjawab pertanyaan yang sudah pasti muncul di benak semua penonton Kungfu Panda 1 lalu : bagaimana bisa seekor bebek punya anak seekor panda?
Selain kisah yang lebih menarik, adegan aksi yang disuguhkan juga jauh lebih epic, penuh ledakan dan lebih keren dari seri pendahulunya, meski cukup disayangkan, adegan aksi itu tidak selucu seri ke satunya. Animasi dan visual-nya juga sangat indah dan halus, meski tidak jauh berbeda dengan animasi - animasi CGI kelas A lainnya. Sementara untuk efek 3Dnya, seperti film animasi 3D garapan DreamWorks lainnya, Kungfu Panda 2 menghadirkan efek 3D yang baik dan ada beberapa yang tak terlupakan seperti ketika Po dan bakpao - bakpao-nya keluar dari layar. Selain itu, musik garapan Hans Zimmer (musisi favorit saya) masih sangat bagus, enak didengar dan benar - benar mendukung tiap adegan yang ada. Belum lagi remix theme song Kungfu Panda yang unik di credit title-nya, menjadi nilai plus tersendiri.
Kekurangan dari film ini bisa dibilang sekaligus menjadi kelebihannya. Perasaan saya sendiri agak mixed antara senang dan benci. Dengan cerita yang lebih serius dan kelam, Kungfu Panda 2 tentunya akan meninggalkan kesan yang berbeda. Ada yang senang karena bisa mengetahui masa lalu Po yang mengharukan dan mengetahui karakter Tigress lebih dalam. Ada juga yang membencinya karena formula yang digunakan sangat berbeda dengan film pertamanya yang mereka sukai. Namun kekurangan berikutnya yang masih di bawa - bawa dari film pertamanya adalah karakter yang terlalu banyak sehingga tidak bisa digali lebih dalam. Karakter - karakter barunya pun juga terkesan pajangan saja, di luar tokoh Lord Shen dan si tukang ramal (lupa namanya :P).
Overall, Kungfu Panda 2 adalah film animasi yang bagus dan mengandung banyak nilai moral. Menurut saya, film ini merupakan peningkatan dari segi cerita dan adegan aksinya dibanding film terdahulunya, namun juga sekaligus mengecewakan para fans karena penurunan dari segi komedinya.
Setelah dilantik menjadi Dragon Warrior, Po kini bekerja sama dengan The Furious Five melindungi The Valley of Peace, kota tempat Po tinggal. Suatu hari, muncul gerombolan pasukan serigala yang menyerang The Valley of Peace. Seperti biasa, Po dan kawan - kawan langsung bertindak melawan pasukan - pasukan tersebut, namun Po tiba - tiba sangat terkejut ketika melihat tattoo milik salah satu pasukan serigala tersebut. Ntah kenapa Po menjadi teringat masa kecilnya. Sementara itu, Po dan The Furious Five diutus oleh Master Shifu ke Gongmen City karena kerajaannya tengah diserang oleh Lord Shen, yang ternyata menciptakan senjata yang dapat menghancurkan China.
Kungfu Panda adalah salah satu film DreamWorks Animation yang saya sukai, di luar franchise Shrek dan How to Train Your Dragon, dan merupakan film animasi paling lucu yang pernah saya tonton. Saya masih ingat dulu tertawa - tawa sendiri bersama teman - teman saya seusai menontonnya karena teringat adegan - adegan konyol dalam Kungfu Panda. Dan terus terang saja, ketika mengetahui Kungfu Panda 2 tidak akan masuk ke Indonesia, saya sangat kecewa. Apalagi review - review film tersebut positif, membuat saya semakin menanti - nantikan film ini dan berekspetasi sangat tinggi.
Sayangnya, ekspetasi tinggi tersebut tampaknya terlalu berlebihan. Kungfu Panda 2 ternyata tidak berhasil memenuhi ekspetasi saya karena film ini tidak seorisinil dan selucu film pertamanya, tapi bukan berarti film ini jelek.
Bisa dibilang, konsep dalam sequel ini berbeda dengan predecessor-nya. Kalau dalam film pertamanya penuh keceriaan, maka sequel-nya kali ini lebih serius, fokus pada penokohan karakter Po, dan sedikit kelam. Meski kisah yang dihadirkan dalam Kungfu Panda 2 sudah cukup sering diangkat, kisahnya menarik dan lebih complex dari film pertamanya. Bahkan di beberapa adegan dapat memancing tangis haru ataupun membuat bulu kuduk penonton berdiri. Selain itu, Kungfu Panda 2 juga berhasil menjawab pertanyaan yang sudah pasti muncul di benak semua penonton Kungfu Panda 1 lalu : bagaimana bisa seekor bebek punya anak seekor panda?
Selain kisah yang lebih menarik, adegan aksi yang disuguhkan juga jauh lebih epic, penuh ledakan dan lebih keren dari seri pendahulunya, meski cukup disayangkan, adegan aksi itu tidak selucu seri ke satunya. Animasi dan visual-nya juga sangat indah dan halus, meski tidak jauh berbeda dengan animasi - animasi CGI kelas A lainnya. Sementara untuk efek 3Dnya, seperti film animasi 3D garapan DreamWorks lainnya, Kungfu Panda 2 menghadirkan efek 3D yang baik dan ada beberapa yang tak terlupakan seperti ketika Po dan bakpao - bakpao-nya keluar dari layar. Selain itu, musik garapan Hans Zimmer (musisi favorit saya) masih sangat bagus, enak didengar dan benar - benar mendukung tiap adegan yang ada. Belum lagi remix theme song Kungfu Panda yang unik di credit title-nya, menjadi nilai plus tersendiri.
Kekurangan dari film ini bisa dibilang sekaligus menjadi kelebihannya. Perasaan saya sendiri agak mixed antara senang dan benci. Dengan cerita yang lebih serius dan kelam, Kungfu Panda 2 tentunya akan meninggalkan kesan yang berbeda. Ada yang senang karena bisa mengetahui masa lalu Po yang mengharukan dan mengetahui karakter Tigress lebih dalam. Ada juga yang membencinya karena formula yang digunakan sangat berbeda dengan film pertamanya yang mereka sukai. Namun kekurangan berikutnya yang masih di bawa - bawa dari film pertamanya adalah karakter yang terlalu banyak sehingga tidak bisa digali lebih dalam. Karakter - karakter barunya pun juga terkesan pajangan saja, di luar tokoh Lord Shen dan si tukang ramal (lupa namanya :P).
Overall, Kungfu Panda 2 adalah film animasi yang bagus dan mengandung banyak nilai moral. Menurut saya, film ini merupakan peningkatan dari segi cerita dan adegan aksinya dibanding film terdahulunya, namun juga sekaligus mengecewakan para fans karena penurunan dari segi komedinya.
RATING : 3.5 out of 5 Stars
X-Men First Class Review + Bunch of Screenshots, Posters and Official Clips
5 stars movies 7/03/2011 08:44:00 PM
X-Men adalah salah satu franchise kebanggaan milik 20th Century Fox. Seluruh seri-nya laris manis di berbagai belahan dunia dan memunculkan banyak fanbase baru. Saya adalah salah satu yang menyukai franchise film X-Men ini. Sayangnya, 2 film terakhir X-Men, X-Men The Last Stand dan X-Men Origins Wolverine mendapat cercaan dari kritikus, meski secara pendapatan film ini sukses besar.
Semenjak proyek prequel / semi reboot X-Men First Class diumumkan, nasib film ini sangat tidak jelas dan sangat tergesa - gesa dalam proses produksi-nya. Para fans dan penikmat film pun mencaci maki dan memprediksi film ini akan gagal total. Belum lagi cara marketing 20th Century Fox yang payah dengan mengeluarkan poster - poster buruk (untuk ukuran Hollywood), dsb. Meski demikian, ketika trailer pertama film ini dirilis, X-Men First Class langsung mendapat positive buzz dari berbagai kalangan.
1960s.
Charles Xavier adalah seorang mutant dari keluarga kaya raya. Ia baru saja lulus dari kuliahnya dan berusaha mempelajari mutasi dalam dirinya dengan mencari mutan - mutan baru. Mystique, yang merupakan adik angkatnya, juga ikut mendampingi kakaknya dalam pencarian mutan - mutan tersebut. Suatu hari, seorang agen rahasia menemui Charles Xavier untuk meminta bantuan karena ia mengetahui bahwa musuh yang tengah di mata - matainya bukan manusia biasa melainkan mutan - mutan yang tergabung dalam Hellfire Club. Saat penyelidikan berlangsung, Charles bertemu dengan Eric Lessher yang tengah sedang mengejar musuh lamanya yang telah membunuh ibunya, Sebastian Shaw. Sebastian Shaw ternyata adalah orang yang sama yang juga dimata - matai oleh pemerintah. Bersama dengan Eric, Charles membentuk pasukan mutan yang kemudian diberi nama X-Men untuk menghentikan rencana busuk Shaw.
Kala menonton film ini di Golden Village Vivo City, saya tak henti - hentinya mencubit diri saya sendiri. Selain karena sudah berkali - kali bermimpi nonton film ini, X-Men First Class adalah film superhero yang paling saya tunggu tahun ini. Belum lagi masalah pajak film di Indonesia dan review - review super positif dari kritikus, menambah keruh suasana hati, jiwa dan pikiran saya. Bagi kalian mungkin saya lebay, atau apa, tapi di kalangan Cinephile [pecinta film] hal ini sudah biasa :P
Back to topic. Sipnosis di atas hanya menggambarkan film ini sekitar 20% saja dari total keseluruhan demi menjaga kejutan - kejutan yang ada. Ya, bisa dibilang, X-Men First Class adalah film X-Men terbaik dan sekaligus merupakan film terbaik yang pernah saya tonton di luar Inception, Watchmen, Avatar, dsb. Film ini juga memberikan experience yang sangat jarang saya alami, di mana dari awal film hingga akhir, film ini berhasil membuat pandangan saya terpaku terus ke layar. Tentu saja semua ini berkat plot cerita yang sangat baik dan naskah film yang ditulis dengan luar biasa. Kecepatan alur yang diusung juga terasa sangat pas sehingga film ini terasa padat tanpa ada 1 momen pun yang terasa membosankan ataupun kedodoran. Bisa dibilang, 20th Century Fox tidak salah memilih Matthew Vaughn (sutradara Kick-Ass) untuk menduduki kursi sutradara karena menurut saya, ia seperti cloning-an Christopher Nolan yang sama - sama brilliant-nya. Bayangkan dengan waktu produksi yang sangat terbatas ini ia bisa memimpin produksi film ini dengan baik dan hasilnya adalah film yang unggul hampir di semua aspek. Tidak lupa pula bantuan dari Brian Singer yang kini duduk di kursi produser, benar - benar memberi nafas baru terhadap franchise ini.
Selain storyline, performa para bintangnya juga patut diacungi jempol. James Mc. Avoy, dengan aksen British-nya yang kental berhasil menghidupkan karakter Professor X dengan amat baik. Michael Fassbender, pemeran Eric (Magneto) juga menunjukkan bakat James Bond-nya di awal - awal film sehingga tidak mengherankan apabila ia digadang - gadang akan menggantikan Daniel Craig paska film Bond terbaru yang rencananya akan dirilis November 2012. Jennifer Lawrence yang memerankan Mystique semakin menunjukkan bahwa ia memang pantas mendapatkan nominasi Oscar tahun ini. Sedangkan Kevin Bacon yang tampaknya tengah bangkit dari keredupan karirnya juga memerankan Sebastian Shaw dengan brilliant dan membuktikan dirinya adalah aktor yang masih patut diperhitungkan.
Jika kalian berpikir kalau film yang diproduksi terburu - buru akan memiliki visual effects yang buruk, maka anda salah besar. Visual effects dalam X-Men First Class dibuat dengan bagus, walau tidak dahsyat. Sepertinya 20 Century Fox ingin 'nempui' visual effects cacat dari X-Men Origins Wolverine lalu. Yang mengejutkan, adegan aksi yang ditampilkan dalam film ini ternyata cukup banyak dan bagus, tidak seperti dalam trailernya yang terkesan minim adegan aksi.
Apabila anda jeli (rasanya sudah pasti kelihatan deh :hammer) dan menonton salah satu film X-Men yang lama , kostum para X-Men di sini kembali ke akarnya, yaitu berwarna kuning dan biru yang notabene adalah warna kostum asli dalam komik X-Men. Keputusan untuk kembali ke kostum tradisional terasa sesuai dengan setting film ini yang tentunya, serba kuno. Walau ada 1 kostum salah satu tokoh mutan yang baru muncul di akhir film yang terkesan aneh dan konyol (tebak siapa deh).
Meski terlihat sempurna, X-Men First Class memiliki kekurangan yang sebenarnya tidak pernah hilang dan seakan - akan menjadi trademark dari franchise X-Men, yakni : karakter - karakter yang terlalu banyak sehingga ada beberapa yang sama sekali tidak tergali. Memang dari kubu X-Men, karakter mutan yang ada sudah diekspos dengan baik terutama hubungan antara Professor X dengan Magneto, namun dari kubu Hellfire Club, ada beberapa karakter mutan yang tidak diketahui asal - usulnya. Bahkan ada yang tidak pernah berbicara. Ntah ini karena dampak dari proses produksi yang terburu - buru atau apa, tetapi so far saya bisa memaklumi kekurangan ini karena bisa dilihat dari judulnya, X-Men First Class lebih fokus ke awal mula berdirinya X-Men dan kelas pertama dari sekolah Professor X.
Neh, bonus OFFICIAL clip super keyen yang pasti bikin kalian tambah pengen nonton :P
Jangan lupa pasang mupeng ya! XD
[SPOILER ALERT!! Apalagi yang belum menonton film - film X-Men sebelumnya]
-
-
-
-
-
-
Mystique dan Charles berusaha meyakinkan pemerintah bahwa mutant eksis di dunia.
Shaw menyerbu markas pemerintah untuk merekrut mutan - mutan yang dikumpulkan professor X dan Magneto.
Salah satu adegan paling keren dalam film X-Men First Class. Adegan ini adalah adegan klimaks film ini.
Adegan pencarian kapal selam Sebastian Shaw.
Usaha Shaw merekrut mutan - mutan X-Men
Good Question
Pemberian nama para mutan. Ternyata yang mengusulkan nama Professor X dan Magneto adalah Mystique.
Adegan pertemuan Charles dengan mystique untuk pertama kalinya. Mystique diangkat menjadi adik angkat Charles.
Beast dan Mystique saling mencintai. Sayangnya cinta mereka bertepuk sebelah tangan karena berbedaan pandangan hidup.
Inilah awal mula percikan cinta antara Mystique dengan Magneto. Dan akhirnya Mystique mengkhianati kakak angkatnya sendiri.
Adegan pelatihan Banshee menemukan potensi dari kekuatannya.
Semenjak proyek prequel / semi reboot X-Men First Class diumumkan, nasib film ini sangat tidak jelas dan sangat tergesa - gesa dalam proses produksi-nya. Para fans dan penikmat film pun mencaci maki dan memprediksi film ini akan gagal total. Belum lagi cara marketing 20th Century Fox yang payah dengan mengeluarkan poster - poster buruk (untuk ukuran Hollywood), dsb. Meski demikian, ketika trailer pertama film ini dirilis, X-Men First Class langsung mendapat positive buzz dari berbagai kalangan.
1960s.
Charles Xavier adalah seorang mutant dari keluarga kaya raya. Ia baru saja lulus dari kuliahnya dan berusaha mempelajari mutasi dalam dirinya dengan mencari mutan - mutan baru. Mystique, yang merupakan adik angkatnya, juga ikut mendampingi kakaknya dalam pencarian mutan - mutan tersebut. Suatu hari, seorang agen rahasia menemui Charles Xavier untuk meminta bantuan karena ia mengetahui bahwa musuh yang tengah di mata - matainya bukan manusia biasa melainkan mutan - mutan yang tergabung dalam Hellfire Club. Saat penyelidikan berlangsung, Charles bertemu dengan Eric Lessher yang tengah sedang mengejar musuh lamanya yang telah membunuh ibunya, Sebastian Shaw. Sebastian Shaw ternyata adalah orang yang sama yang juga dimata - matai oleh pemerintah. Bersama dengan Eric, Charles membentuk pasukan mutan yang kemudian diberi nama X-Men untuk menghentikan rencana busuk Shaw.
Kala menonton film ini di Golden Village Vivo City, saya tak henti - hentinya mencubit diri saya sendiri. Selain karena sudah berkali - kali bermimpi nonton film ini, X-Men First Class adalah film superhero yang paling saya tunggu tahun ini. Belum lagi masalah pajak film di Indonesia dan review - review super positif dari kritikus, menambah keruh suasana hati, jiwa dan pikiran saya. Bagi kalian mungkin saya lebay, atau apa, tapi di kalangan Cinephile [pecinta film] hal ini sudah biasa :P
Back to topic. Sipnosis di atas hanya menggambarkan film ini sekitar 20% saja dari total keseluruhan demi menjaga kejutan - kejutan yang ada. Ya, bisa dibilang, X-Men First Class adalah film X-Men terbaik dan sekaligus merupakan film terbaik yang pernah saya tonton di luar Inception, Watchmen, Avatar, dsb. Film ini juga memberikan experience yang sangat jarang saya alami, di mana dari awal film hingga akhir, film ini berhasil membuat pandangan saya terpaku terus ke layar. Tentu saja semua ini berkat plot cerita yang sangat baik dan naskah film yang ditulis dengan luar biasa. Kecepatan alur yang diusung juga terasa sangat pas sehingga film ini terasa padat tanpa ada 1 momen pun yang terasa membosankan ataupun kedodoran. Bisa dibilang, 20th Century Fox tidak salah memilih Matthew Vaughn (sutradara Kick-Ass) untuk menduduki kursi sutradara karena menurut saya, ia seperti cloning-an Christopher Nolan yang sama - sama brilliant-nya. Bayangkan dengan waktu produksi yang sangat terbatas ini ia bisa memimpin produksi film ini dengan baik dan hasilnya adalah film yang unggul hampir di semua aspek. Tidak lupa pula bantuan dari Brian Singer yang kini duduk di kursi produser, benar - benar memberi nafas baru terhadap franchise ini.
Selain storyline, performa para bintangnya juga patut diacungi jempol. James Mc. Avoy, dengan aksen British-nya yang kental berhasil menghidupkan karakter Professor X dengan amat baik. Michael Fassbender, pemeran Eric (Magneto) juga menunjukkan bakat James Bond-nya di awal - awal film sehingga tidak mengherankan apabila ia digadang - gadang akan menggantikan Daniel Craig paska film Bond terbaru yang rencananya akan dirilis November 2012. Jennifer Lawrence yang memerankan Mystique semakin menunjukkan bahwa ia memang pantas mendapatkan nominasi Oscar tahun ini. Sedangkan Kevin Bacon yang tampaknya tengah bangkit dari keredupan karirnya juga memerankan Sebastian Shaw dengan brilliant dan membuktikan dirinya adalah aktor yang masih patut diperhitungkan.
Jika kalian berpikir kalau film yang diproduksi terburu - buru akan memiliki visual effects yang buruk, maka anda salah besar. Visual effects dalam X-Men First Class dibuat dengan bagus, walau tidak dahsyat. Sepertinya 20 Century Fox ingin 'nempui' visual effects cacat dari X-Men Origins Wolverine lalu. Yang mengejutkan, adegan aksi yang ditampilkan dalam film ini ternyata cukup banyak dan bagus, tidak seperti dalam trailernya yang terkesan minim adegan aksi.
Apabila anda jeli (rasanya sudah pasti kelihatan deh :hammer) dan menonton salah satu film X-Men yang lama , kostum para X-Men di sini kembali ke akarnya, yaitu berwarna kuning dan biru yang notabene adalah warna kostum asli dalam komik X-Men. Keputusan untuk kembali ke kostum tradisional terasa sesuai dengan setting film ini yang tentunya, serba kuno. Walau ada 1 kostum salah satu tokoh mutan yang baru muncul di akhir film yang terkesan aneh dan konyol (tebak siapa deh).
Meski terlihat sempurna, X-Men First Class memiliki kekurangan yang sebenarnya tidak pernah hilang dan seakan - akan menjadi trademark dari franchise X-Men, yakni : karakter - karakter yang terlalu banyak sehingga ada beberapa yang sama sekali tidak tergali. Memang dari kubu X-Men, karakter mutan yang ada sudah diekspos dengan baik terutama hubungan antara Professor X dengan Magneto, namun dari kubu Hellfire Club, ada beberapa karakter mutan yang tidak diketahui asal - usulnya. Bahkan ada yang tidak pernah berbicara. Ntah ini karena dampak dari proses produksi yang terburu - buru atau apa, tetapi so far saya bisa memaklumi kekurangan ini karena bisa dilihat dari judulnya, X-Men First Class lebih fokus ke awal mula berdirinya X-Men dan kelas pertama dari sekolah Professor X.
![]() |
| Kevin Bacon as Sebastian Shaw |
Overall, X-Men First Class adalah film kelas satu (sesuai judulnya :P) dan berhasil melampau ekspetasi tinggi saya. Sehingga wajar apabila film ini berhasil menggusur Watchmen ke posisi nomor 2 dalam daftar film favorite saya.
Neh, bonus OFFICIAL clip super keyen yang pasti bikin kalian tambah pengen nonton :P
Jangan lupa pasang mupeng ya! XD
[SPOILER ALERT!! Apalagi yang belum menonton film - film X-Men sebelumnya]
-
-
-
-
-
-
Mystique dan Charles berusaha meyakinkan pemerintah bahwa mutant eksis di dunia.
Shaw menyerbu markas pemerintah untuk merekrut mutan - mutan yang dikumpulkan professor X dan Magneto.
Salah satu adegan paling keren dalam film X-Men First Class. Adegan ini adalah adegan klimaks film ini.
Adegan pencarian kapal selam Sebastian Shaw.
Usaha Shaw merekrut mutan - mutan X-Men
Good Question
Pemberian nama para mutan. Ternyata yang mengusulkan nama Professor X dan Magneto adalah Mystique.
Adegan pertemuan Charles dengan mystique untuk pertama kalinya. Mystique diangkat menjadi adik angkat Charles.
Beast dan Mystique saling mencintai. Sayangnya cinta mereka bertepuk sebelah tangan karena berbedaan pandangan hidup.
Inilah awal mula percikan cinta antara Mystique dengan Magneto. Dan akhirnya Mystique mengkhianati kakak angkatnya sendiri.
Adegan pelatihan Banshee menemukan potensi dari kekuatannya.
RATING : 5 out of 5 Stars
JACK SPARROW CURED FROM HIS INSANITY
[this review is part of my previous post --> Movie Trip]
Semenjak debutnya lewat Pirates of the Caribbean : Curse of the Black Pearl tahun 2003 lalu, Pirates of the Caribbean (PotC) langsung menjadi salah satu franchise terlaris sepanjang masa dan sequel - sequelnya telah memecahkan rekor box office di seluruh dunia. Meski Disney sempat mengklaim bahwa PotC series berakhir di "At World's End", sequel ke-empat petualangan Jack Sparrow pun dirilis Mei tahun ini (kalo dipikir - pikir bodo amat kalo Disney mau melepas mesin uangnya begitu saja :P). Sutradara Gore Verbinski pun diganti oleh Rob Marshall yang berhasil membawa film "Chicago" memenangkan Oscar.
Dan keputusan Disney untuk melanjutkan franchise PotC sangat tepat, karena setelah sebulan berlayar di berbagai bioskop di seluruh penjuru dunia (kecuali Indonesia karena film - film horror-sexnya yang lebih bagus daripada film - film Hollywood) PotC 4 telah berhasil meraup pendapatan sebesar $985,160,000 di seluruh dunia yang nantinya akan masih bertambah (saya berani bertaruh, kalau PotC ditayangkan di Indonesia Mei lalu pasti sekarang jumlah pendapatannya sudah menembus angka $990 million).
Keuntungan boleh besar, tetapi apakah kualitas PotC masih setara dengan seri - seri sebelumnya?
Jack Sparrow dan Mr. Gibbs kini tengah berpetualang mencari "The Fountain of Youth". Sayangnya, Mr. Gibbs tertangkap dan tengah diadili di London karena ia adalah seorang bajak laut. Jack Sparrow berusaha menyelamatkan rekannya tersebut namun gagal dan dibawa menghadap ke King George II. King George II ternyata menginginkan Jack Sparrow untuk bergabung dengan ekspedisinya mencari The Fountain of Youth sebelum ditemukan oleh Spanyol. Ekspedisi itu dipimpin oleh musuh lama Jack, Hector Barbossa, yang ternyata telah kehilangan Black Pearl, kapal kesayangan Jack, dan kakinya sendiri. Jack marah dan berhasil melarikan diri.
Jack terdampar di sebuah bar dan bertemu dengan ayahnya. Ayah Jack memberitahu bahwa Jack tengah dijebak oleh seseorang yang mengaku sebagai "Jack Sparrow" yang sedang mencari crew kapal. Dan di sanalah ia bertemu kembali dengan cinta lamanya, Angelica, yang menyamar sebagai Jack Sparrow.
Ternyata, Angelica diutus oleh ayahnya, Blackbeard, seorang bajak laut kejam yang menguasai sihir Voodo dan sedang mencari The Fountain of Youth.
Maka dimulailah kisah perebutan the Fountain of Youth antar pihak Inggris, Spanyol, Blackbeard, dan Jack Sparrow sendiri.
Apabila sipnosis di atas menumbuhkan rasa penasaran anda untuk menonton film ini, anda tidak sendirian. Semenjak debut trailer pertamanya, para fans dan penggemar film menyambut positif sequel terbaru PotC ini karena petualangan terbaru captain Sparrow ini tampak sangat seru dan imajinatif dengan kemunculan makhluk - makhluk fantasi seperti putri duyung, zombie, blackbeard, dan lain - lain. Belum lagi inti kisahnya sendiri tampak menarik : mencari sumber mata air yang bisa memberi kehidupan abadi.
Sayang sekali, sequel terbaru PotC ini malah terasa hambar dan tampaknya sudah kehabisan ide. Plot yang disuguhkan memang menarik, tetapi tidak berkembang dan cenderung berdiam di tempat padahal durasinya cukup panjang. Si penulis naskah juga bingung bagaimana harus menyuguhkan kisah petualangan seru mencari harta karun. Dari durasi 140 menit, bagi saya hanya ada 2 adegan yang benar - benar menarik yaitu kemunculan para putri duyung dan ketika Jack Sparrow melarikan diri di awal film. Jadi, bagi yang mengharapkan petualangan Jack Sparrow mencari Fountain of Youth akan seperti petualangan harta karun kebanyakan (atau paling tidak seperti film - film sebelumnya), bersiap - siaplah untuk kecewa. Tidak akan ada pemecahan teka - teki yang menarik, ataupun pintu rahasia, makhluk penjaga yang ganas maupun plot twist, seperti dalam film perburuan harta karun kebanyakan : Tomb Raider, Indiana Jones series, National Treasure, The Mummy, dll.
Mengenai characternya sendiri, character - character baru yang dihadirkan dalam PotC tidak berhasil mengambil hati penonton. Philip dan Syrena tampak seperti pengganti Elizabeth dan Will namun kisah cinta mereka tidak semenarik kisah Elizabeth dan will. Kemudian, Jack Sparrow tidak segila dan tidak selucu seperti di seri - seri sebelumnya. Sifat unpredictable-nya malah hilang sama sekali. Johnny Depp sendiri, walau masih briliant dan menyenangkan, terkesan agak jenuh dalam memerankan Jack. Tokoh Angelica juga tidak berhasil memberi nafas segar dalam franchise ini. Blackbeard mungkin adalah tokoh antagonis baru yang paling kejam sekaligus paling "payah". Kita tidak tahu mengenai masa lalu Blackbeard atau bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatannya tersebut, tidak seperti Barbossa dan Davy Jones yang dijelaskan asal - muasalnya.
Kekecewaan belum berhenti sampai di sini. Memang adegan aksi yang disuguhkan cukup seru dan menghibur terutama pada awal film, namun adegan - adegan tersebut tidak kocak, dahsyat dan memorable, yang bisa dibilang, telah menjadi trademark Pirates of the Caribbean series.
Overall, penggantian Sutradara benar - benar sangat berpengaruh. Sequel terbaru PotC ini memang bisa dibilang tontonan yang menghibur namun serasa kehilangan "nyawa" dan tekesan datar. Sebagai penggemar berat PotC series, saya sangat kecewa dengan installment terbaru PotC ini. Beberapa hal yang benar - benar saya sukai dari film ini hanyalah 30 menit awal film yang terasa seperti PotC series yang saya kenal, musiknya yang masih enak didengar, Johnny Depp (tentu saja!) dan adegan pertarungan dengan Putri Duyung yang mendebarkan.
Untuk lebih mudahnya, transisi PotC ini seperti transisi The Mummy 1,2 ke The Mummy 3, yang juga terasa sangat berbeda baik secara kualitas maupun pengeksekusiannya.
Bagi saya, On Stranger Tides adalah The worst PotC yet.
[this review is part of my previous post --> Movie Trip]
Semenjak debutnya lewat Pirates of the Caribbean : Curse of the Black Pearl tahun 2003 lalu, Pirates of the Caribbean (PotC) langsung menjadi salah satu franchise terlaris sepanjang masa dan sequel - sequelnya telah memecahkan rekor box office di seluruh dunia. Meski Disney sempat mengklaim bahwa PotC series berakhir di "At World's End", sequel ke-empat petualangan Jack Sparrow pun dirilis Mei tahun ini (kalo dipikir - pikir bodo amat kalo Disney mau melepas mesin uangnya begitu saja :P). Sutradara Gore Verbinski pun diganti oleh Rob Marshall yang berhasil membawa film "Chicago" memenangkan Oscar.
Dan keputusan Disney untuk melanjutkan franchise PotC sangat tepat, karena setelah sebulan berlayar di berbagai bioskop di seluruh penjuru dunia (kecuali Indonesia karena film - film horror-sexnya yang lebih bagus daripada film - film Hollywood) PotC 4 telah berhasil meraup pendapatan sebesar $985,160,000 di seluruh dunia yang nantinya akan masih bertambah (saya berani bertaruh, kalau PotC ditayangkan di Indonesia Mei lalu pasti sekarang jumlah pendapatannya sudah menembus angka $990 million).
Keuntungan boleh besar, tetapi apakah kualitas PotC masih setara dengan seri - seri sebelumnya?
![]() |
| Hector Barbossa |
Jack terdampar di sebuah bar dan bertemu dengan ayahnya. Ayah Jack memberitahu bahwa Jack tengah dijebak oleh seseorang yang mengaku sebagai "Jack Sparrow" yang sedang mencari crew kapal. Dan di sanalah ia bertemu kembali dengan cinta lamanya, Angelica, yang menyamar sebagai Jack Sparrow.
Ternyata, Angelica diutus oleh ayahnya, Blackbeard, seorang bajak laut kejam yang menguasai sihir Voodo dan sedang mencari The Fountain of Youth.
Maka dimulailah kisah perebutan the Fountain of Youth antar pihak Inggris, Spanyol, Blackbeard, dan Jack Sparrow sendiri.
![]() |
| HHHHHAAAAAANNNNNGGGGGG!!! |
Sayang sekali, sequel terbaru PotC ini malah terasa hambar dan tampaknya sudah kehabisan ide. Plot yang disuguhkan memang menarik, tetapi tidak berkembang dan cenderung berdiam di tempat padahal durasinya cukup panjang. Si penulis naskah juga bingung bagaimana harus menyuguhkan kisah petualangan seru mencari harta karun. Dari durasi 140 menit, bagi saya hanya ada 2 adegan yang benar - benar menarik yaitu kemunculan para putri duyung dan ketika Jack Sparrow melarikan diri di awal film. Jadi, bagi yang mengharapkan petualangan Jack Sparrow mencari Fountain of Youth akan seperti petualangan harta karun kebanyakan (atau paling tidak seperti film - film sebelumnya), bersiap - siaplah untuk kecewa. Tidak akan ada pemecahan teka - teki yang menarik, ataupun pintu rahasia, makhluk penjaga yang ganas maupun plot twist, seperti dalam film perburuan harta karun kebanyakan : Tomb Raider, Indiana Jones series, National Treasure, The Mummy, dll.
![]() |
| Philip and Syrena |
![]() |
| Angelica, Jack, and Blackbeard |
![]() |
| Action sequences on the first 30 minutes |
Untuk lebih mudahnya, transisi PotC ini seperti transisi The Mummy 1,2 ke The Mummy 3, yang juga terasa sangat berbeda baik secara kualitas maupun pengeksekusiannya.
Bagi saya, On Stranger Tides adalah The worst PotC yet.
Rating : 2 out of 5 Stars





















































