Titanic (1997) - 3D Review

4/04/2012 08:13:00 PM

Dalam rangka mengambil kesempatan peringatan 100 tahun tenggelamnya kapal Titanic, 20th Century Fox dan Paramount bersama dengan James Cameron kembali merilis ulang salah satu film terlaris sepanjang masa, Titanic, di bioskop seluruh dunia (termasuk Indonesia). Seperti kebanyakan film re-release akhir - akhir ini, Titanic juga mendapatkan 3D treatment dan 4K restoration yang menelan biaya $18 million dan waktu setahun dalam prosesnya. Apakah usaha James Cameron ini berhasil dan membayar lunas harga tiket anda?


Cinema : Ciputra World XXI, Studio 3 (April 4, 2012)
3D Technology : Dolby Digital 3D.


Shot in 3D : NO.
Obviously no. Titanic dirilis tahun 1997 dan sama sekali tidak ada niat untuk merilis versi 3D dari Titanic. Oleh karena itu, banyak yang meragukan kualitas efek 3D dalam film Titanic, meski James Cameron sendiri yang turun tangan.


Brightness : 5/5
Menggunakan kacamata 3D itu ibaratnya memakai kacamata hitam ketika menonton film di bioskop, sehingga gambar di layar akan menjadi lebih gelap. 
Level Brightness dalam Titanic sangat baik dan cerah, termasuk adegan minim cahaya yang mencakup kurang lebih 1 jam terakhir dari film ini. Saya sendiri bisa bernafas lega, karena sesi ini adalah sesi yang paling saya takutkan, mengingat film ini berdurasi 190 menit. Bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada mata, kepala dan perut anda apabila brightness dalam film ini buruk? 


Depth : 2.5/5
Depth adalah ilusi kedalaman gambar di layar yang membuat para penonton merasa tengah menyaksikan adegan - adegan film tersebut dari balik jendela raksasa atau bahkan merasa ikut terlibat dalam adegan tersebut.
Sayangnya, James Cameron tidak berhasil dalam memberi efek depth yang baik ke film ini. Beberapa adegan memang terlihat memiliki depth, tetapi menurut saya masih kurang maksimal dan tidak begitu terasa. Well, sebenarnya hal ini bisa dimaklumi karena film Titanic sudah berusia 15 tahun. 

Pop Out : 0.5/5
Pop Out adalah ilusi gambar yang keluar dari layar. Dan biasanya efek pop - out-lah yang dinanti - nantikan para penonton awam karena unsur hiburannya ataupun karena persepsi mereka terhadap efek 3D adalah gambar keluar layar. Namun, perlu dicatat bahwa pembuatan efek pop out dalam sebuah film bisa dibilang gampang - gampang susah. Dibuat berlebihan, akan menimbulkan gimmick dan membuat film tersebut tampak murahan. Oleh karena itu, dibutuhkan kreatifitas dan perencanaan yang matang agar efek pop out yang dihasilkan tidak terkesan dipaksakan.
Pop out adalah bagian tersulit dalam mengkonversi film ke wujud 3D, terlebih yang sudah berusia tahunan. Titanic sama sekali tidak memberi efek pop-out, bahkan adegan bawah laut di menit - menit awal, di mana banyak kotoran yang melayang - layang, juga tidak berhasil keluar dari layar. 


Health : 5/5
Tidak semua orang tahan ketika menyaksikan film 3D. Ada yang mengalami rasa pusing dan mual seusai menonton film 3D. Sebagai pecinta film dan 3D enthusiast, saya sangat bersyukur tidak dianugrahi "bakat" tersebut. 
Saya merasa sangat sehat seusai menyaksikan film ini, berkat level brightness-nya yang baik. 


Total Score : 3.25/5
Worth It? YES.
Well, rating untuk kategori depth dan pop-out memang termasuk buruk. Tetapi, apakah anda akan benar - benar melewatkan moment re-release ini begitu saja? 
Jujur saja, saya sangat menanti - nantikan rilis ulang film Titanic ini; bukan karena film ini tampil dalam wujud 3D, tetapi karena ingin merasakan sensasi kedahsyatan film Titanic di bioskop, paska perilisannya tahun 1997 lalu. Saya sendiri belum pernah menyaksikan film ini setelah lulus dari SD (yang saya ingat saya pernah menyaksikan film ini di bioskop waktu kelas 1 atau 2 SD bersama orang tua), bahkan VCD/DVDnya saya tidak punya (blu-ray Titanic belum pernah dirilis) dan tidak pernah menyaksikannya di televisi swasta sekalipun (karena banyak iklan dan dipecah jadi dua, lebih baik tidak nonton sekalian). 
Oleh karena itu, kapan lagi kita akan mendapatkan kesempatan yang langka ini, terlebih kalau anda "bernasib" seperti saya. Dengan level brightness yang sangat baik, saya rasa tidak akan ada kendala ketika menyaksikan Titanic 3D di bioskop. Believe me, sekali film mulai diputar, anda tidak akan mempedulikan ataupun menyadari bahwa anda tengah menyaksikan film 3D (no pun intended).

Wait for my movie review! 

You Might Also Like

3 comments

  1. Oh no, Star Wars re-release 3D aja gw nggak akan nonton apalagi ini... Haha...

    ReplyDelete
  2. Nih Film yang dari dulu ane tunggu....
    Nice Share bro..

    ReplyDelete

Just do it.