WARM BODIES (2013) : BEAUTY AND THE ZOMBIE

3/04/2013 11:03:00 AM



WARM BODIES
2013 / 97 Minutes / Jonathan Levine / US / 2.39:1 / PG-13

Warm Bodies bisa dibilang merupakan salah satu bentuk usaha Summit Entertainment untuk mencari pengganti franchise The Twilight Saga mereka yang telah usai tahun lalu. Bisa ditebak, temanya tidak jauh-jauh dari cinta terlarang dan elemen fantasi. Formulanya pun masih sama--juga merupakan adaptasi novel--yakni mengenai kisah cinta antara makhluk tidak normal dengan manusia beserta dengan beragam konsekuensi atas keputusan mereka yang melanggar peraturan antar dua dunia yang berbeda itu. Tidak tanggung-tanggung, kali ini mereka menggunakan zombie untuk dijadikan "korban" pelembutan PG-13 oleh Hollywood. Yeah, sekali lagi, ini adalah kisah cinta antara zombie dengan manusia biasa. Iya, zombie dengan manusia. Iya, zombie yang itu, yang sering dibantai tanpa ampun di film Resident Evil dan of-the-dead saga. 



Kisah film ini diceritakan dari sudut pandang seorang Zombie remaja berusia 20an tahun bernama R (Nicholas Hoult) yang ingin sembuh dari penyakit yang membuatnya menjadi seperti mayat hidup. Suatu ketika, sekelompok sukarelawan dari wilayah bebas virus menuju ke kota para zombie untuk mengumpulkan bahan pangan dan obat-obatan (lucu juga produknya tidak ada yang expired karena sudah 8 tahun industri dunia berhenti). Sayang, peruntungan yang buruk telah membawa mereka bertemu dengan R bersama teman-temannya yang pada saat itu sedang berburu mencari daging. 

Kelompok sukarelawan itupun berhasil dibantai dengan mudah, namun karena satu-dua hal, R justru menyelamatkan Julie (Teresa Palmer), seorang wanita pemberani yang bergabung di kelompok sukarelawan itu. Peristiwa yang tidak biasa itu membuat Julie lambat-laun menyadari bahwa dirinya memiliki koneksi spesial dengan R dan juga para zombie lainnya. 


Ide Konyol yang Berkembang Nyaris Sempurna

Kalau ditilik dari kulit luarnya, premise yang diusung Warm Bodies kurang lebih sama nyeleneh dan konyolnya dengan film Abraham Lincoln : Vampire Hunter yang sudah dirilis tahun lalu. Dan bisa jadi Warm Bodies lebih parah lagi karena film ini ditujukan untuk menggantikan Twilight dengan inti cerita yang sama : cinta terlarang antar dua spesies yang berbeda. Dan tidak hanya satu-dua orang saja yang pesimis terhadap film ini, tetapi hampir seluruh orang yang pernah mendengar premise Warm Bodies pasti langsung mentertawakannya, “Ah mana mungkin film beginian dibuat sungguan!” Ya, pada kenyataanya Summit mau mengucurkan uang sebesar $35 juta untuk melancarkan produksi film ini. 

Untungnya, segala buzz negatif ini terbukti hanya “salah kaprah” setelah produk akhirnya sudah dapat dicecap oleh khalayak di bioskop. First thing first--hal pertama yang harus ditanamkan pada benak para penonton adalah bahwa Warm Bodies is not Twilight. Jonathan Levine, selaku sutradara film ini, mengerti betul apa yang harus dilakukannya agar film ini jauh dari kesan ketwilight-twilight-an dan yang lebih penting lagi, membuat para lelaki tidak mencemooh film ini dan kemudian berlomba-lomba untuk memberi rating 1 bintang di imdb.com

Secara keseluruhan, alur Warm Bodies dapat dikatakan sebagai gabungan dari formula zombie ala Resident Evil dengan kisah romance ala Beauty and the Beast atau Romeo and Juliet--anyway, pengarang novel Warm Bodies sepertinya memang berniat untuk menyajikan twist di kisah Romeo and Juliet. Lihat saja nama karakter utamanya juga R(omeo) dan Julie(t). 

Dengan formula gado-gado seperti itu, Warm Bodies merupakan proyek yang susah untuk diwujudkan karena kalau salah sedikit saja, para penonton tidak akan menganggap film ini serius dengan ide nyelenehnya itu dan akan lebih parah lagi kalau mereka juga enggan untuk menerima keorisinalitasan film ini sebagai ide yang brilian dan memukau, melainkan sebaliknya. Banyak sekali film yang mempunyai ide luar biasa nan exciting namun justru gagal total dalam hal eksekusinya (see Abraham Lincoln Vampire Hunter or Chernobyl Diaries).


This is no Twilight

Warm Bodies memang jauh dari kualitas, ya sebut saja, Inception dalam hal pengeksekusian ide fresh, tetapi film ini tetap tidak boleh dianggap remeh. Mr. levine berhasil menyuguhkan--oke, mengadaptasi twist baru pada genre zombie yang begitu-begitu saja dari hasil buah pikir novelis Isaac Marion ke layar lebar dengan begitu sempurna, menyenangkan, dan kreatif. Setiap momen dan kejadian yang disuguhkan, terutama yang melibatkan titik utama keunikan film ini, tidak pernah sampai terpeleset masuk ke dalam kategori menjijikkan dan konyol. Beberapa konsep mitosnya seputar zombie pun diceritakan dengan cukup menarik, kreatif dan beberapa di antaranya cukup mind-blown dan tidak terpikirkan, bahkan bagi para penggemar zombie-flick sekalipun. 

Segala hal di atas itu kemudian dikemas dalam formula Romeo and Juliet dengan sedikit bumbu fairy tale serta parodi-parodi di dalam campurannya (lihat saja kemunculan blu-ray film cult berjudul Zombie [1979] lengkap dengan slipcovernya). Hasilnya, Warm Bodies berhasil merubah image-nya dari film bodoh-dengan-premise-nyentrik-tidak-karuan menjadi sebuah tontonan dengan ide orisinil yang surprisingly fun, tidak biasa, lucu, fresh dan sangat menyenangkan untuk diikuti dari awal hingga akhir. 

Mungkin anda baru percaya omongan saya setelah menyaksikannya sendiri bagaimana sang sutradara film hits 50/50 ini sanggup mengembangkan premise yang awalnya terlihat sangat mustahil untuk difilmkan dengan baik. O ya, satu hal lagi yang membedakan Warm Bodies dengan Twilight, para karakter utama film ini bisa berakting dan mengunci perhatian penonton.


Sayangnya, Warm Bodies masih memiliki beberapa kekurangan di samping ide spektakulernya itu. Side story, terutama untuk para pejuang manusia, nyaris tidak terdevelop dan semua durasinya hanya dikuasai oleh kedua insan yakni R dan Julie sendiri. Tidak salah sebenarnya selama fokus utama tersebut tergarap dengan baik (untungnya memang iya), tetapi alangkah baiknya menambah durasi beberapa menit demi memperkuat mythology dan juga menambal-sulam beragam plot hole yang beberapa di antaranya cukup mengganggu--seperti nafas para zombie--secara ini adalah film fantasi dengan dunia hasil rekaan sang penulis. Para penonton berhak untuk tahu lebih detil lagi mengenai dunia baru ini, terlebih lagi kalau Warm Bodies memang direncanakan sebagai franchise di masa mendatang. 

Penghujung akhir Warm Bodies juga jatuhnya a little bit formulaic yang cukup disayangkan sebenarnya, apalagi adegan-adegan itu hadir setelah para penonton disuguhi dengan rentetan kreatifitas tingkat tinggi di satu jam awalnya. 


Overall, Warm Bodies memang tidak dapat memuaskan dahaga para fans berat zombie yang mengharapkan banyak adegan pelanggaran hak asasi zombie yang berdarah-darah dalam film ini. Tetapi, bagi yang menyukai film homage ala Cabin in the Woods dan mengharapkan kalau suatu hari genre zombie juga bisa mendapat giliran untuk ditwist-twist sedemikian rupa, maka ini adalah saatnya. Warm Bodies berhasil membuktikan bahwa genre zombie masih memiliki banyak potensi mengejutkan yang dapat digali. Oh, dan genre romance juga. 



You Might Also Like

1 comments

  1. Ada beberapa adegan yang kayanya disengaja mirip ama twiligth.Trus menurut saya, pemeran julie,sepintas juga mirip2 ma si Bella swan hahaha...

    Sayang musuhnya terlalu cupu ya menurut saya,padahal idenya udah OK.saya kasih rating 5/10

    ReplyDelete

Just do it.