SELAMAT PAGI, MALAM (2014): MEMOAR DI MALAM JAKARTA

6/26/2014 08:43:00 PM



2014 / Indonesia / Lucky Kuswandi / 90 Minutes / 1.85:1 / R 

Ada tiga hal yang langsung muncul di benak saya ketika mendengar kata 'Jakarta'. Hal pertama, jelas, dia adalah ibukota Indonesia, pusat dari segala corak dan sistem pemerintahan di Tanah Air. Dia adalah jantung yang siap memompa segala hal ke seluruh pembuluh negara Indonesia. Hal kedua, tentu saja, kepadatan lalu lintasnya. Media asing sering menyebutnya sebagai salah satu kota paling sibuk dengan tingkat polusi tertinggi di dunia; yang tentunya tidak terlalu mengherankan, karena hampir setiap penduduk di sana mempunyai kendaraan pribadi. Yang terakhir, adalah bagaimana kota ini begitu identik dengan banjir, kejahatan, dan infrastrukturnya yang tidak karuan. Bahkan penduduknya sendiri pun membicarakan hal serupa di jejaring-jejaring sosial. 




Tetapi itu hanya kulit luarnya saja. Media-media jarang berbicara tentang perilaku, mental, dan habit para penghuni di jantung Indonesia tersebut, ntah karena mereka takut secara tidak langsung membicarakan diri mereka sendiri, atau mungkin karena mereka merasa bahwa itu hanyalah borok  yang tidak perlu diketahui oleh masyarakat luar. 

Berbeda dengan dunia perfilman. Sineas-sineas Tanah Air justru sudah beberapa kali mencoba menceritakan kisah para penghuni Jakarta ini lewat film-film mereka, ntah itu dengan tujuan menyindir, menyampaikan pesan tertentu, melayangkan protes, atau memberitahu kepada penduduk kota lain tentang para penghuni di ibukota tanah airnya. Dan itu tidak sedikit. Sebut saja: Arisan! dan sekuelnya, Arisan!2, film dokumenter Jalanan, lalu film-film yang menyematkan nama 'Jakarta' di judulnya, seperti Sanubari Jakarta, Jakarta Maghrib, dan Jakarta Hati


Sama seperti film-film sindiran sosial yang sudah lebih dulu dirilis, Selamat Pagi, Malam juga mengupas banyak hal tentang kehidupan di kota Jakarta. Tetapi yang menjadi keistimewaannya kali ini adalah, bahwa film ini mengambil sudut pandang tiga karakter perempuan dengan latar belakang dan kisah yang berbeda-beda dalam set waktu satu malam yang sama di kota Jakarta.



Topik utama yang didiskusikan oleh Selamat Pagi, Malam adalah ‘discovery’—yakni bagaimana ketiga karakter sentral tersebut menemukan hal baru dalam hidupnya di suatu malam, dan bagaimana usaha mereka dalam menghadapinya.


Ada Gia (Adinia Wirasti) yang mengalami culture shock ketika dia akhirnya memutuskan untuk menetap di Jakarta setelah bertahun-tahun bekerja di New York sebagai seorang filmmaker. Bahkan dia tidak menyangka kalau sahabat karibnya, Naomi (Marissa Anita), sudah berubah menjadi seorang sosialita yang tidak dikenalnya. Lalu ada Indri (Ina Panggabean), seorang pegawai tempat gym papan atas yang sedang berhubungan dengan seorang pria kaya raya di dunia maya. Dia merasa pria tersebut adalah jawabannya untuk bisa menikmati kehidupan mewah seperti para pengunjung tempat dia bekerja sekarang. Kemudian ada Cik Surya (Dayu Wijanto), seorang istri konglomerat yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Di tengah kedukaannya itu, dia tanpa sengaja mengetahui rahasia besar yang disimpan oleh suaminya selama bertahun-tahun.




Sejak awal, film Selamat Pagi, Malam telah menjanjikan banyak hal. Lucky Kuswandi, selaku penulis dan sutradara film ini, sudah menanamkan benih-benih masalah dan tema yang akan dia kembangkan lewat story arc ketiga karakter sentralnya sejak di babak perkenalan. Penonton pun, secara refleks, mengharapkan bahwa ide-ide tersebut bisa menghantarkan sesuatu yang besar dan menohok di lembaran cerita berikutnya. 

Seiring perjalanan durasi, Selamat Pagi, Malam lambat laun mulai mempertontonkan rekaman corak kehidupan dan watak para penduduk di Jakarta secara jujur dan blak-blakan, seperti status sosial yang kini sudah dijadikan tolak ukur martabat manusia, ketergantungan mereka terhadap jejaring sosial, bagaimana kemiskinan dan dunia hitam Jakarta yang kelam telah berkembang biak di balik bayang-bayang gedung pencakar langit dan para sosialita yang berlalu-lalang dengan sepatu Louboutin dan tas Chanel, sampai beragam hal-hal kecil menarik yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya.

Tetapi sayangnya, konsep dan tema yang sangat menarik tersebut kurang dapat dieksekusi secara maksimal di layar lebar. Keputusan Lucky Kuswandi untuk tidak menyajikan Selamat Pagi, Malam sebagai sebuah film omnibus adalah sebuah problem utama yang membuat konsep semi-interwoven plot-nya cenderung mengalir kacau dalam durasi 90 menitnya (yang kalau dibagi rata, tiap cerita hanya memiliki screen time sepanjang 30 menit.) 


Hal inilah yang lantas membuat transisi perpindahan cerita antar karakternya terasa kasar dan terlalu cepat, terutama di awal film, dan terus berlanjut sampai ke akhir film. Alhasil, penonton merasa mood-nya sedang dipermainkan, karena seringkali, ketika penonton sudah mulai terkoneksi dan melebur dalam cerita salah satu karakternya, fokus cerita justru langsung beralih ke karakter lain. Dan akhirnya, semua itu membuat Selamat Pagi, Malam tidak terasa maksimal dalam bercerita dan membuat segala sindiran sosial yang ingin disampaikan tidak berhasil menampar penonton sekeras yang diharapkan. Dan ketika segalanya menjadi semakin menarik, Lucky Kuswandi justru mengakhirinya begitu saja, tanpa konklusi dan penyelesaian konflik yang memuaskan sama sekali dan membuat cerita dalam film ini seakan mengalir tanpa tujuan yang kuat dan terarah, selain mengintip kehidupan orang Jakarta di malam hari. Penonton pada akhirnya dibiarkan menulis sendiri cerita ketiga karakter perempuan ini untuk malam-malam mereka berikutnya dan Lucky Kuswandi sendiri telah membantah janji-janjinya di awal film. 




Problem kedua adalah suntingan tata suaranya yang kurang baik dan cukup mengganggu di sepanjang film, seperti suara dan gerak mulut para karakternya yang tidak pernah bertemu di frame yang sama, efek suara yang tidak sesuai, detil suara yang hilang, dan lain sebagainya. Mungkin hal ini bisa dimaklumi karena Selamat Pagi, Malam memang diproduksi secara indie dengan dana yang terbatas. Problem serupa juga dialami oleh film Demi Ucok (2013), film produksi Kepompong Gendut sebelumnya.


Untunglah, segala kekurangan-kekurangan yang dimiliki Selamat Pagi, Malam berhasil terkamuflase oleh pertunjukan akting spektakuler dari para aktor-aktrisnya serta kemasan bertuturnya yang diarahkan dengan ciamik oleh Lucky Kuswandi, membuat alur film ini menjadi enak untuk diikuti, meski penonton tahu kalau tidak ada sesuatu yang istimewa dalam materi film Selamat Pagi, Malam.




Overall, di atas kertas, Selamat Pagi, Malam mungkin tampak sangat menarik dan memiliki banyak potensi untuk menjadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Tetapi, eksekusi terhadap naskah yang kabarnya dikembangkan selama delapan tahun ini terasa kurang maksimal, dengan banyaknya kekurangan di sana-sini dan pokok masalah para karakter utamanya yang terkesan terlalu kompleks dan lebih layak untuk disajikan sebagai sebuah fitur film terpisah daripada dalam durasi tiga puluh menit. Alhasil, Selamat Pagi, Malam justru berakhir hampa, seperti langit Jakarta yang indah, tetapi tidak ada bintangnya.[]


Rating: 3 out of 5 stars


You Might Also Like

0 comments

Just do it.