The Adventures of Tintin (2011) Review

11/29/2011 11:37:00 AM



Apakah duet maut Steven Spielberg dan Peter Jackson berhasil menyajikan film adaptasi petualangan Tintin yang memukau, atau malah tampil mengecewakan para penggemar Tintin yang telah menunggunya cukup lama? Let’s Find out.


Proyek film adaptasi komik Tintin versi Hollywood sebenarnya sudah akan dibuat sejak lama. Bahkan si sutradara sendiri, Steven Spielberg, sudah berangan - angan untuk menggarap proyek ini semenjak film Indiana Jones-nya rilis di bioskop. Keinginannya itu juga didukung oleh sang pengarang Tintin sendiri, Herge. Beliau mengemukakan bahwa hanya Steven Spielberg lah yang sanggup merealisasikan dunia Tintin ke layar lebar dengan baik. Pernyataan itu dikatakannya setelah menyaksikan film Indiana Jones, tepat 2 tahun sebelum kematiannya. Dan ternyata, pernyataan Herge tersebut benar adanya. Film The Adventures of Tintin terbaru ini tidak hanya mendebarkan dan tak terlupakan, melainkan juga menjadi salah satu film Treasure Hunter terbaik yang pernah saya saksikan.


Tintin (Jamie Bell) adalah seorang jurnalis surat kabar sekaligus arkeolog yang terkenal. Suatu hari, Tintin menemukan sebuah replika kapal ‘The Unicorn’ di pasar loak dengan tingkat kedetailan yang tinggi. Tanpa pikir panjang, Tintin langsung membelinya dengan harga murah. Namun, sesaat kemudian, muncul Ivan Sakharine (Daniel Craig), seorang bangsawan kaya raya yang hendak membeli kapal itu dari Tintin. Bisa ditebak, Ivan tidak berhasil membelinya dari Tintin. Malam harinya, Tintin mendapati replika kapalnya telah dicuri dari apartemennya yang telah diobrak - abrik. Masalah tidak berhenti sampai di situ, karena keesokan paginya, Tintin diculik Ivan dan dibawa ke kapal SS. Karaboudjan. Tintin berhasil melarikan diri dan bertemu dengan Captain Haddock (Andy Serkis). Bersama dengan anjingnya yang cerdas, Snowy, Tintin dan Captain Haddock berpetualang memecahkan misteri kapal Unicorn yang akan membawa mereka ke sebuah peninggalan harta karun tak ternilai.


Steven Spielberg adalah salah seorang sutradara favorit saya. Beliau sanggup membuat semua genre film mulai dari horror, comedy, action, sci-fi hingga film yang mengangkat tema perang dunia dengan luar biasa baik. Sayangnya, semenjak tahun 2000, sutradara yang telah memenangkan 3 piala Oscar ini lebih senang duduk di kursi Producer saja. The Adventures of Tintin sendiri merupakan film pertama yang disutradarainya paska film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull tahun 2008 lalu. Menariknya, film ini adalah film animasi pertama yang ditangani langsung oleh Spielberg sendiri.


Keputusan Steven Spielberg dan Peter Jackson untuk menjadikan Tintin sebagai film animasi sebenarnya sangat mengecewakan para penggemar Tintin dan pecinta film. Selain karena akan terlihat kekanak - kanakan, Tintin memang lebih pantas apabila dibuat live action seperti Indiana Jones. Namun setelah menyaksikan film ini sendiri, keputusan mereka berdua sangat tepat. Dunia Tintin terlihat sangat indah dan luar biasa tanpa harus melancangi design dalam komiknya. Design karakter - karakternya sendiri juga sangat setia dengan goresan tangan Herge, di mana karakternya dipoles sedimikian rupa  oleh tim WETA digital sehingga terlihat nyata dan detail dengan teknologi Motion Capture teranyar mereka. Dead Eye Syndrome (pandangan mata kosong) yang sering ditemui di film animasi yang menggunakan teknologi Motion Capture juga secara mengejutkan berhasil dihilangkan. Hasilnya, Tintin adalah film animasi terindah dan terlihat paling nyata yang pernah dibuat hingga saat ini.


Selain animasinya yang superb, adegan aksi petualangan film ini juga sangat menegangkan, kreatif, gila dan tak terlupakan--sangat khas film - film Steven Spielberg. Hal ini didukung pula oleh gubahan musikus paling jenius saat ini, John Williams, yang berhasil menciptakan musik yang enak didengar dan memancarkan atmosfir yang tepat sepanjang film; meski harus diakui, alunan musiknya tidak sememorable karya - karya sebelumnya. Cinematographer andalan Steven Spielberg, Janusz Kaminski, juga menunjukkan kebolehannya lewat film ini. Pergerakan camera ataupun angle di film Tintin sangat stylish dan unik, di mana kita akan terasa seperti ikut berlari dan berpetualang bersama Tintin tanpa harus membuat penonton pusing. 


Sayangnya, alur yang terlalu cepat dan naskah yang straight to the point terpaksa menjadi borok dalam kemegahan film Tintin ini. Dengan menggabungkan unsur - unsur dari ketiga buku komik sekaligus dalam sebuah film hanya berdurasi 107 menit saja, tentu hal ini tidak mungkin bisa dihindari. Spielberg lalu mensiasati dengan perkenalan karakternya yang dimulai sejak opening credit, di mana para penonton disuguhi beberapa gambaran tangan komik Tintin yang bercerita mengenai latar belakang tokoh - tokoh utama film ini. Tapi menurut saya, siasat tersebut tidak berlaku bagi para penonton yang masih belum mengenal Tintin, seperti saya contohnya (hanya pernah sekilas baca - baca). Apalagi paska opening credit, The Adventures of Tintin justru terasa seperti sebuah sequel daripada film pertama. Untungnya, pencampuran ketiga unsur komik ini cukup halus dan tidak terasa loncat - loncat, sehingga Tintin memiliki plot yang kaya dan sangat nikmat untuk diikuti dari awal hingga akhir. 


Fantastis, menegangkan, cantik dan tak terlupakan, The Adventures of Tintin, tidak dipungkiri lagi adalah film animasi terbaik tahun ini (untuk sementara waktu), sekaligus film perburuan harta karun favorit saya pribadi setelah Indiana Jones Quadrilogy, yang secara kebetulan juga lahir dari tangan dingin Steven Spielberg. Jadi tunggu apa lagi, saksikan film ini di bioskop secepat mungkin!

You Might Also Like

0 comments

Just do it.