Real Steel (2011) Review

11/01/2011 02:28:00 PM



Apakah Real Steel sukses menjadi film blockbuster yang punya hati seperti yang dijanjikan Shawn Levy atau malah hanya sekedar ajang pamer special effects seperti Transformers? Let's find out.




Fortunately, dengan hanya memakan biaya sepertiga-nya budget Transformers, Real Steel malah tampil jauh lebih memuaskan, memorable dan menunjukkan bahwa tidak butuh budget besar untuk menghasilkan pertarungan antar robot yang seru. Michael LeBay sebaiknya juga menonton ini dan belajar bagaimana menghasilkan film blockbuster dengan ingredient yang pas di segala aspeknya. Selepas menonton film ini, saya merasa bahwa beginilah seharusnya film Transformers dibuat : pertarungan antar robot yang tidak lebay, human drama yang oke, karakter - karakter utama yang memorable dan cerita yang ditulis serta dieksekusi dengan baik di layar. Tidak perlu Megan Fox dan model celana dalam untuk membuat penonton tetap terjaga, melainkan cukup dengan menyajikan hubungan antar ayah dan anak yang memikat sudah cukup membuat pandangan penonton lekat di layar. Selain itu, sutradara film ini, Shawn Levy tampaknya juga menunjukkan bakat yang sebenarnya di mana dia lebih superior menggarap film drama sci-fi seperti ini daripada film komedi (Night at the Museum 1-2, the Pink Panther, dsb).


Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah seorang petinju profesional yang "pekerjaan"nya telah digantikan oleh robot. Mau tidak mau, ia pun harus beralih profesi menjadi pengendali para robot tersebut. Sayangnya, sifat temperamental dan keserakahannya membuat Charlie selalu gagal memenangkan pertandingan - pertandingan tersebut dan bangkrut karena banyak hutang. Namun, pertemuannya dengan Max Kenton (Dakota Goyo), yang tidak lain adalah anak dari mantan istrinya, dan robot usang bernama Atom, berhasil mengubah hidup Charlie hingga membawanya ke pertandingan robot kelas dunia.


Inti kisah yang disadur dalam film Real Steel sebenarnya tidak orisinil. Siapa yang belum pernah menyaksikan film drama mengenai hubungan antar ayah dan anak yang saling tidak cocok? Obviously, sudah ada beratus - ratus judul film yang mengangkat tema ini. Tentu saja yang membedakan adalah bagaimana kisah cliche tersebut disajikan. Dan untungnya, Real Steel berhasil menyajikannya dengan baik.


Ya, kekuatan utama Real Steel adalah karakterisasi dan hubungan antar ayah-anak yang digali dengan baik, semua ini tentu saja berkat chemistry antara Hugh Jackman dan Dakota Goyo yang sangat luar biasa. Bahkan saking intimnya, saya merasa bahwa fokus film ini adalah drama antar ayah dan anak tersebut, sedangkan pertandingan boxing antar robot hanya sebagai selingan ataupun untuk membuat film ini agar tampak lebih orisinil. Kasus seperti ini mirip dengan film Avatar. Bagi yang sudah menyaksikan film Pocahontas dan sebangsanya, tentu merasa bahwa inti kisahnya sangat mirip di mana (Spoiler??) seorang mata - mata yang disuruh menyelidiki musuhnya malah berganti pihak. Namun dengan balutan ide - ide orisinil, film Avatar menjadi terlihat fresh serta sukses memikat ratusan juta penonton di dunia hingga menjadi film terlaris sepanjang masa. Kira - kira strategi itulah yang dipakai dalam film Real Steel, di mana kisah drama ini disupport dengan sub-plot robot boxing yang cukup orisinil; well, tentunya tidak sedahsyat dan se-wah Avatar.



Sayangnya, konsep robot boxing ini tidak dijelasken lebih dalam, bahkan hanya disentil sedikit saja. Dan menurut saya inilah kekurangan terbesar dari film ini. Dari dulu, saya paling membenci film yang tidak jelas, seperti Skyline dan kebanyakan film alien invasion budget raksasa tapi berkualitas rendah yang tidak jelas asal usul dan motif aliennya, ataupun film superhero Green Lantern yang juga tidak begitu jelas. Memang hal - hal tersebut bisa dipikirkan sendiri oleh penonton, tapi menurut saya masih perlu ada penjelasan sendiri di filmnya. Meskipun subplot mengenai asal muasal World Robot Boxing (WRB) bisa disimpan untuk sekuelnya (yang memang sudah direncanakan), menurut saya sebaiknya dijelaskan sebagian besar lewat narasi di awal film, daripada opening credit mobil berjalan dengan nama - nama kru yang tidak penting. Gunakan durasi film dengan bijak dong B-)
Lalu tokoh antagonis-nya juga mengecewakan karena peran mereka tidak begitu jelas maksudnya dan dibuat tidak menarik. Mereka hanya berperan sebagai penghubung cerita saja dan tidak ada hubungan dengan para hero kita. Bahkan bisa dibilang salah satu karakter antagonis paling payah dalam film blockbuster. Sangat disayangkan.



Nah hebatnya, Shawn Levy berhasil menutup - nutupi kekurangan tersebut yakni dengan memberikan nafas kekeluargaan terhadap film ini lewat drama hubungan antar ayah dan anak (astaga sudah diulang berapa kali nih. haha) yang dibuat sangat menarik, sangat menghibur dan tidak membosankan. Sehingga, jangan salahkan para penonton apabila mereka lupa bahwa konsep WRB tidak jelaskan lebih detail.
Selain itu, Real Steel menurut saya juga terlalu fokus pada kedua karakter utama tersebut, sehingga dari kubu supporting actor - actress, hanya performance dari Evangeline Lily (Lost), yang memerankan kekasih Charlie Kenton, yang berhasil mencuri perhatian. Bahkan bakat akting Anthony Mackie (The Hurt Locker) pun juga tidak digunakan dengan baik berkat screen time-nya yang sedikit.



Sekarang mari berbicara mengenai pertarungan robot dan special effects-nya. Saya yakin banyak yang memasang ekspetasi tinggi bahwa film ini akan seperti Transformers : para robot petinju error, lalu mengamuk di kota. Menghancurkan segalanya. Boom! Boom!
Well, saya hanya bisa bilang orang - orang seperti ini akan kecewa berat. Namun, jangan salah, bukan berarti adegan aksi dalam film ini tidak seru dan kacangan. Saya malah menganggap adegan aksi di film sangat pas dan tidak overdone / berlebihan. Visual Effects-nya juga mantap karena menggunakan motion capture seperti dalam film Avatar. Tampilan dan gerakan robotnya juga sangat halus, bahkan menyamai Transformers. Parahnya lagi, Atom terlihat lebih punya perasaan padahal ia tidak bisa berbicara (sedangkan robot - robot di transformers bisa berbicara). Hubungan Atom dengan Max terlihat seperti Andy dan mainannya dalam Toy Story. Pergerakan kamera juga sangat mendukung dan mengingatkan saya akan photography Danbo, yang membuat benda mati ini layaknya benda hidup yang punya perasaan. Selain itu, adegan klimaksnya juga mengingatkan saya terhadap film The Fighter, di mana  pertarungan terakhirnya sangat seru dan memacu adrenalin; walau bisa dibilang predictable. Saking serunya, anak kecil di sebelah saya sampai main tinju - tinjuan. Hahahaha.
Set dunia masa depan-nya juga cukup believable dan realistis. Kita tidak akan menemukan mobil - mobil terbang ataupun benda - benda canggih lainnya yang terlalu norak dan tidak masuk akal.



Overall, di luar beberapa kekurangannya, Real Steel adalah film ringan yang sangat menghibur dan memberikan cinematic experience yang tak terlupakan. Saya pribadi juga berharap bahwa sekuel (reboot?) Transformers nantinya akan memiliki human drama dan karakter yang kuat seperti Real Steel. Kisahnya mungkin biasa saja dan cenderung cliche di beberapa bagian, tapi kalau dibuat dan dieksekusi dengan baik, hasilnya film tersebut tidak hanya menghibur namun juga berkesan di hati penonton.
Selain itu, meski rating-nya PG-13, menurut saya film ini adalah film yang layak untuk ditonton bersama keluarga. Tidak ada adegan sex, profanity-nya pun juga sangat mild. Pertarungan antar robot mungkin agak mencengkam, but boys will absolutely love it.
Jadi intinya, tonton film ini secepatnya selama masih ada di bioskop!



You Might Also Like

4 comments

  1. ....sedikit banyak hubungan Max dan Atom meninggalkan kesan seperti hubungan Hogarth Hughes dan si Iron Giant di film animasi The Iron Giant (1999)....very classic....and unforgettable...5 stars..!

    ReplyDelete
  2. Iyup. Film model begini replay value-nya tinggi.

    ReplyDelete

Just do it.