Cinema 21/XXI : Frequently Asked Question (FAQ) - Part 1

10/30/2011 06:03:00 PM


Berikut beberapa jawaban dari pertanyaan yang mungkin sering muncul di benak kalian mengenai bioskop di tanah air ini, sekaligus juga membantah beberapa mitos yang sering beredar di kalangan penonton. Karena saya tinggal di Surabaya, jadi mungkin ada beberapa perbedaan signifikan dan saya hanya membahas mengenai bioskop milik 21cineplex saja, karena di Surabaya belum ada Blitzmegaplex. Selain itu, apabila ada kesalahan / kekurangan satu apapun, harap dimaklumi. Karena meski di mata teman - teman, saya adalah master film, saya yakin saya masih newbie dan masih banyak sekali yang pengetahuannya di atas saya. XP

Q : Bedanya 21 ama XXI, apa sih?
A : Ok, sebelumnya gw mau bilang kalo gw tidak bermaksud rasis di sini, jadi seandainya jika nada bicara gw agak nyerempet, harap dimaklumi ya. Dulu sebelum Sutos didirikan, bioskop di Surabaya hanya ada bioskop yang kelas 21 saja. Yang membedakan hanyalah golongan penontonnya saja, sehingga waktu zaman gw masih SMP dulu, ada bioskop yang dipandang sebagai bioskop 21 yang XXI abis (karena sering dikunjungi kalangan atas, seperti Galaxy 21) sehingga filmnya yang diputar pun juga mayoritas film - film Hollywood, interior-nya pun juga agak berbeda. Lalu, semenjak Sutos didirikan, bioskop XXI pertama di Surabaya pun ikut didirikan. Dan mulailah kelas bioskop 21 dan XXI dipisahkan perlahan - lahan seiring dengan didirikannya bioskop - bioskop XXI; perbedaan yang paling mencolok itu mulai dari kualitas interior XXI yang rata - rata berkelas, elegan dan eksklusif, filmnya yang 99% film asing semua (1%nya mungkin hanya film Indonesia yang bergengsi; contoh : Laskar Pelangi, Catatan Harian Si Boy, dsb); tiketnya berwarna kuning (21 cenderung biru muda putih) dan kualitas cetakan tiketnya yang lebih bagus, cafe-nya yang lebih mahal dan berkelas, dsb. Sedangkan bioskop 21 pun sekarang hanya memutar film - film Indonesia saja (beberapa film asing yang terkenal / diprediksi bakal rame penonton, juga ikut masuk 21) dan karena mayoritas peminatnya adalah orang yang "gitu - gitu tuh", interior bioskop 21 tidak bagus dan cenderung tak begitu terawat. 

Q : Harga tiketnya pasti lebih mahal dong... :(
A : Ya nggak juga, harga tiket bioskop XXI bervariasi. Tetapi per bulan october 2011, HTM bioskop XXI paling murah Rp 20.000,- di hari biasa (semua XXI di Surabaya, kecuali Tunjungan XXI 25.000); lalu hari Jumat / hari di mana besoknya tanggal merah HTMnya 25.000,- (kecuali Ciputra World, Pakuwon City dan Lenmarc tetep 20.000; Tunjungan XXI 35.000) dan Sabtu / minggu / hari libur : 35.000 (Ciputra World, Pakuwon City, Lenmarc 25.000; Tunjungan XXI 50.000).

Q : duh ribet bacanya. Buat yang bagus dong daftar harganya!
A : Astaga... ngrepotin ae.. tapi, ya wes la.. --v

Khusus HTM di Surabaya aja ya ;
-----------------------------------------------------------
MONDAY - THURSDAY : IDR 15.000
Delta 21

MONDAY - THURSDAY : IDR 20.000
Galaxy XXI
Pakuwon City XXI 
Lenmarc XXI 
Sutos XXI
Ciputra World XXI 
Supermal XXI 
Grand City XXI
Cito 21
Tunjungan 21
Royal 21

MONDAY - THURSDAY : IDR 25.000
Tunjungan XXI

-------------------------------------------------------------
FRIDAY : IDR 20.000
Ciputra World XXI
Lenmarc XXI
Pakuwon City XXI
Delta 21
Cito 21
Tunjungan 21

FRIDAY : IDR 25.000
Galaxy XXI
Sutos XXI
Grand City XXI
Supermal XXI
Royal 21

FRIDAY : IDR 35.000
Tunjungan XXI
----------------------------------------------------------------
SATURDAY / SUNDAY / HOLIDAY : 25.000
Ciputra World XXI
Lenmarc XXI
Pakuwon City XXI
Delta 21
Cito 21
Tunjungan 21

SATURDAY / SUNDAY / HOLIDAY : 30.000
Royal 21

SATURDAY / SUNDAY / HOLIDAY : 35.000
Galaxy XXI
Sutos XXI
Grand City XXI
Supermal XXI

SATURDAY / SUNDAY / HOLIDAY : 50.000
Tunjungan XXI
----------------------------------------------------------------

HTM 3D :

MONDAY - THURSDAY : 25.000
Ciputra World XXI
Lenmarc XXI

MONDAY - THURSDAY : 30.000
Galaxy XXI
Grand City XXI
Sutos XXI
Tunjungan XXI
Supermal XXI

FRIDAY : 30.000
Ciputra World XXI
Lenmarc XXI


FRIDAY : 35.000
Galaxy XXI
Grand City XXI
Sutos XXI
Tunjungan XXI
Supermal XXI

SATURDAY/ SUNDAY / HOLIDAY : 40.000
Ciputra World XXI
Lenmarc XXI

SATURDAY / SUNDAY / HOLIDAY : 50.000
Galaxy XXI
Grand City XXI
Sutos XXI
Tunjungan XXI
Supermal XXI

Q : Yah, kalo harga tiketnya sama dengan bioskop 21, paling cuman interior-nya aja ya yang beda... Kualitas studio-nya gimana?
A : Nah, ini pertanyaan yang agak tricky. Layar, kursi dan interior Studio-nya sama persis dengan bioskop 21 (mungkin beda warna kursi aja). Sedangkan speaker-nya berbeda dengan bioskop 21. Speaker XXI lebih bagus daripada bioskop 21 karena sudah pake teknologi Dolby Digital Surround Ex. Tetapi, waktu dulu sekali, gw nganggep speaker di XXI itu sama dengan 21, cuman volume-nya aja yang dibesarkan. hahaha.

Q : Btw, sama - sama bergelar XXI, tapi HTMnya kok beda - beda ya?!
A : Tergantung frekuensi pengunjung mall-nya juga. Semakin sepi pengunjungnya, semakin murah HTMnya (ini kalau di Surabaya sih). Mall baru kadang juga memasang HTM lebih murah untuk menarik pengunjung / sekedar promo, contoh Ciputra World XXI. Suatu saat pasti dinaikin harganya. Mengenai kualitas bioskopnya, semua sama dan standard XXI (mungkin beda ukuran aja)

Q : Duh, HTM itu singkatan dari apa sih?! Jangan disingkat - singkat dong!
A : Harga Tiket Masuk, mosyok olo --" 

Q : Bioskop favoritmu di mana sih? 
A : Gw pribadi paling suka Ciputra World XXI ya. Hehehe. Kalau ingin menyendiri atau mepet dengan jam kuliah, gw suka di Lenmarc XXI. Terus kalau musim liburan gw suka di Grand City XXI karena deket rumah (Sekitar 10 menit perjalanan aja) dan tata letaknya gw suka.  

Q : Kalau bioskop yang paling lu benci?
A : Tunjungan XXI, of course, karena tiketnya mahal dan parkirnya susah. Lalu, Supermal XXI dan Sutos XXI (dua bioskop ini nggak tau kenapa. Masuk bioskopnya aja udah ga suka). Lalu kalau nonton rame - rame dan orang - orangnya suka telat dateng, gw paling anti ngajak mereka di Grand City XXI. Lo? Bukannya itu bioskop favoritmu? Iya, favorit sih favorit. Tapi Grand City Mall ini anti signal banget, termasuk di bioskopnya sendiri. Ga bisa BBMan, ga bisa telp, sms pun kadang ga nyampe. Kalo pintu studio udah dibuka, dan temen - temen gw belum dateng semua, gw cuman bisa keringet dingin dan galau sampai mau kayang di depan studio. 

Q : Jadwal bioskop ini sebenernya gimana sih? Kadang dateng on time, tapi filmnya udah tayang.. Kadang datang lebih awal, tapi pintu studionya ga buka - buka...
A : Pintu studio selalu dibuka 15 menit lebih awal. Misalnya di jadwal pukul 15:00; pintu studio udah buka 14:45. Jadi kalo dateng jangan pas jam 15:00 karena itu adalah jam tayang. Ya, tolong dipahami, jam tayang artinya : jam di mana film tersebut akan ditayangkan, bukan jam pintu studio dibuka. Sedangkan untuk film 3D yang ramai, jam tayangnya biasanya agak molor karena kacamata 3Dnya harus dicuci dahulu. Belum lagi credit title-nya terkadang juga penuh efek 3D, membuat banyak penonton betah duduk menyaksikannya sampai habis. 
Kalau gw sih, jam tangan gw set 20 menit lebih cepat dari jam normal. 5 menit untuk membuang air kecil - kecilan dan beli camilan, kemudian setelah 5 menit pintu studio akan dibuka. Asal tahu aja, kita ini juga bayar untuk nonton trailer - trailernya lo ya, jadi jangan terlambat! ;-)

Q : The Premiere itu benernya worth apa nggak dengan harga tiketnya yang mahal itu?
A : Kalo gw sih, tergantung filmnya ye. hahahaha. Kalo filmnya dapet review positif di situs film luar atau film yang gw tunggu - tunggu dan tidak ada versi 3Dnya, pasti gw tonton di The Premiere. Sedangkan kalo dilihat dari fasilitasnya, menurut gw fasilitas yang diberikan memang berbeda dengan bioskop reguler. Lounge-nya sangat eksklusif dan pelayanannya jauh lebih ramah. Menu makanannya juga berbeda dengan cafe XXI biasanya, kisaran harganya juga setara dengan Starbucks, Excelso, dsb. Jadi masih terjangkau. Tapi jujur aja, gw ga suka makan di The Premiere, karena gw pernah coba makan sambil nonton film, alhasil malah jadi nggak konsen sama sekali. Kesimpulannya, makan ya di restoran, bukan di bioskop. Kalo ngemil aja gpp sih, jangan makan nasgor, pancake, apalagi ramen (walau enak sih). Studio The Premiere termasuk kecil banget. Hanya 5-6 baris kursi aja. Namun tenang saja, layarnya sangat besar (sebenarnya standard, tapi karena studionya kecil, jadi terasa besar). Proyektornya juga sudah memakai teknologi 2D Digital Cinema. Kualitas gambar akan lebih bagus dan suara juga lebih menggelegar hingga seisi studio akan bergetar (tergantung filmnya juga). Kursinya sangat empuk dan sangat nyaman. Bisa dinaik - turunkan juga, sehingga berasa seperti menonton di bioskop pribadi. Ada bonus selimutnya juga. Di sebelah kiri dan kanan kursi ada meja kecil (sesudah arm rest). Leg room-nya juga luar biasa lebar. Overall, nonton di the premiere sangat nyaman, apalagi kalau filmnya berdurasi 2 jam lebih (sayang sekali kenapa The Lord of the Rings 3 dan King Kong rilis waktu belum ada the premiere). Kelemahannya, dompet ga bisa mengalami obesitas. Kesimpulan : worth banget; kecuali weekend, terlalu mahal menurut gw.


Q : Jadi, lu sering nonton di the premiere dong? Apalagi lu movie maniac.. 
A : Gak juga. Seperti yang gw bilang di atas, tergantung filmnya. Kalo dapet review positif / gw tunggu dan tidak ada versi 3D pasti gw tonton di the premiere, kalo film jelek, ngapain buang duit nonton di premiere? Hahaha. Dan sekarang kebanyakan film yang gw tunggu kebanyakan ada versi 3Dnya, jadi gw tonton versi 3D daripada di the premiere. Beberapa film bagus yang baru - baru ini saya saksikan di the premiere (dan tidak ada versi 3Dnya) : Super 8 dan Real Steel (akan segera gw tonton :P)

Q : Dulu sempet ada ya yang namanya 2D digital cinema, kalo nggak salah mulai waktu Iron Man 2 dulu. Katanya gambar lebih jernih, suara lebih mantap. HTMnya sama dengan HTM 3D. Trus tiba - tiba kok menghilang?
A : Ok. 2D digital cinema adalah bioskop yang projector-nya memakai teknologi terbaru, yakni menggunakan hard disc. Projector-nya untuk di bioskop XXI sama dengan projector film 3D, oleh karena itu muternya di studio 3D. Mungkin karena banyak yang kecele atau protes karena ternyata bukan 3D (padahal HTMnya 3D) dan ga ada bedanya dengan 2D, XXI ga munculin lagi. Sebenarnya, perbedaan antara studio reguler dengan 2D digital cinema cukup signifikan bagi penonton yang jeli (terutama pecinta film). Kualitas gambarnya, mungkin kalau hari pertama pemutaran filmnya tidak terasa berbeda antara studio reguler dengan 2D digital cinema. Namun setelah seminggu, akan terlihat bedanya. Gambar film di studio reguler (yang masih muter pake pita seluloid) akan terlihat banyak scratch, semacam bintik / garis - garis hitam yang muncul secara random; sedangkan digital cinema masih berkualitas prima. Selain itu, kualitas gambar digital cinema juga lebih bagus, tajam, dan lebih detail. Text subtitle-nya juga lebih tajam dan lebih terbaca (terutama di adegan yang terang / berwarna putih) daripada yang masih pakai pita seluloid. Suaranya juga lebih dahsyat dan menggelegar. Ga ngerti? Ya sudah, gampangannya, kalau kamu melihat ada animasi barco (yang anak kecil duduk di kursi bioskop trus muncul kunang - kunang) atau DLP digital cinema (gunung dengan sambaran petir); maka film yang anda tonton berformat digital cinema. Memang sekarang XXI tidak membedakan harga digital cinema dengan studio reguler, dan juga tidak bilang - bilang, namun kita bisa jeli sendiri. Biasanya film - film berformat digital akan diputar di studio 3D (studio 2 Grand City, studio 1 Galaxy, dsb). Walau belum tentu tepat 100%, tetapi cukup besar kemungkinannya. Beberapa waktu lalu, saya menonton Killer Elite di studio 1 Ciputra World, dan formatnya adalah digital cinema, padahal bukan studio 3D (mungkin studio 1 ciputra world memang dijadikan digital cinema). Sedangkan The Premiere 100% digital cinema.


Q : Trus kenapa gak semua studio XXI pake 2D digital cinema ya! Katanya bioskop berkelas!
A : membangun digital cinema memakan biaya sangat mahal. Memang lebih praktis karena menggunakan hard disc (daripada pita seluloid yang ukurannya besar). Selain itu, mengingat penonton juga ga terlalu jeli dan merasa kalau perbedaan gambar 2D digital cinema dengan studio reguler tidak signifikan, pihak bioskop lebih main 'aman' dan hanya membangun paling tidak 2-3 studio yang menggunakan digital cinema (biasanya di studio besar). Bioskop di luar negeri sendiri juga melakukan trik yang sama. Bedanya, mereka lebih transparan dalam memberitahukan film yang mereka putar ini formatnya digital atau reguler (sama halnya dengan Blitzmegaplex).

Q : [mitos] Film di bioskop kok sering kepotong ya, atau loncat - loncat adegannya. Apa ini bener - bener disensor? Masak film animasi aja disensor, keterlaluan banget sih!
A : Hahahaha. Gw yakin ini mitos yang paling sering dipercaya para penonton awam. Salah satu kelemahan teknologi pita seluloid adalah 1 film bisa terdiri dari beberapa roll (rata - rata 6-8 roll; tergantung durasi film). Sehingga, dalam sekali pemutaran, pihak technician harus mengganti roll 6-8 kali yang kalau penggantian roll-nya tidak tepat waktu, akan mengakibatkan filmnya terputus atau beberapa adegan terkesan seperti terpotong atau bahkan tidak tepat di layar (gambar kenaikan atau terlalu turun). Tetapi gw tidak tahu apakah XXI menggunakan mesin projector yang bisa ganti roll otomatis, tetapi melihat kekasaran penggantian adegannya, sepertinya masih pakai cara manual, atau pemasangan roll-nya yang nggak pas di mesin projector otomatis.
Tapi bukan berarti ga ada yang bener - bener dipotong loh. Film - film R-Rated yang memuat adegan seksual / telanjang yang tidak sopan biasanya dipotong. Untuk lebih lanjut bisa lihat di www.lsf.go.id . Film yang sudah lulus sensor dan ada tulisan SDP (sudah dipotong) berarti akan ada adegan dari film tersebut yang kena sensor.

Q : XXI teknologi 3Dnya pake apa sih?
A : Dolby Digital 3D by Barco / DLP Digital Cinema.

Q : [mitos] dasar Indonesia, kalo masalah teknologi selalu terbelakang. Apaan nih efek 3D ga berasa banget..
A : Hoi.. efek 3D itu tergantung filmnya!! Selain itu, sudah tahu gak kalau efek 3D ada 2 macem : efek depth (kedalaman gambar) dan efek pop out (efek keluar layar)? Hollywood lebih suka efek depth daripada efek pop-out yang bagi mereka keliatan murahan, childish dan gimmick (maksa / main tipu). Dolby 3D yang digunakan XXI termasuk teknologi yang sangat bagus, walau kalah populer dengan real D 3D. Masing - masing punya keunggulan dan kelemahan sendiri, tetapi pada dasarnya sama - sama bagus.


Q : XXI ama Blitzmegaplex bagus mana?
A : Di Surabaya ga ada Blitzmegaplex.

Ditunggu ya part 2-nya! Kalo bisa sekalian tulis pertanyaan kalian di comment ;-)
[to be continued]

UPDATE :
Semua XXI di Indonesia sudah memakai teknologi Digital untuk projector-nya.
Harga tiket bioskop di atas sudah tidak berlaku.

You Might Also Like

20 comments

  1. Btw, kalo film yang ditayangin midnite.. Err, parkiran mobil or motornya masih dibuka kah kalo kita dateng jam 10an malem? Atau tergantung mall nya yak? Masuknya juga entah lewat pintu mana, kan harusnya udah pada dikunci tuh dalem mall :))

    ReplyDelete
  2. Gw baru nonton midnight 2x, masih dibuka kok. hahahah. Baik sebelum dan sesudah show (sekitar jam 1an). Pintu2nya masih dibuka juga. Pasti sudah kerja sama dengan pihak bioskop juga, jadi kalo sabtu gitu buka sampe subuh. Tapi kalo di mall2 tertentu agak ribet mungkin, kalo di surabaya sini ada Tunjungan Plaza yang ribet.

    ReplyDelete
  3. Overall masih belum ngalamin sesuatu yg mbuat trauma nonton midnight :P

    ReplyDelete
  4. nguakak. ini pertanyaan mbo tulis dewe mbo jawab dewe?

    ReplyDelete
  5. Bukane FAQ emang kyk gini ya? berupa tanya jawab. hahaha.

    ReplyDelete
  6. Pertanyaannya juga kebanyakan yang ditanyain orang2 sih. wkwk. Semoga membantu. ;-)
    Maaf kalo ada salah.

    CMIIW

    ReplyDelete
  7. embo, nguakak ,mbacae

    "Q : duh ribet bacanya. Buat yang bagus dong daftar harganya!
    A : Astaga... ngrepotin ae.. tapi, ya wes la.. --v"

    karepe opo! hahaha. ambek sg htm --"

    ReplyDelete
  8. Wahahahahha. Biar ada humor2nya dikit dong B-)

    Btw ini sapa? Milla? :0

    ReplyDelete
  9. Wah, informsai berharga nich... part 2 ditunggu ya...

    ReplyDelete
  10. minta info luasnya bioskop XXI di Surabaya donkk.. khususnya bioskop XXI di Ciputra World yg katanya XXI terbesar di Surabaya.. tolong yaa infonya penting bangett buat TA nihh..>.< Thx youu..

    ReplyDelete
  11. @fanboy :oke bro. Saya berjuang untuk nulis part 2nya. hihihi

    @anonymous maret 4, 2012 : Info yang bagaimana ya? Bisa kasih daftar pertanyaan mungkin? Hehehe.

    btw, beberapa yang di atas mungkin sudah expired. Karena sekarang bioskop2 XXI udah diganti dengan digital (ga pake seluloid lagi).

    ReplyDelete
  12. waa..., infonya menarik.
    terima kasih ya.
    :)

    ReplyDelete
  13. post nya menarik, seru, kocak ! Keep writing :D

    ReplyDelete
  14. pengen tau banget,, merk speaker apa yg dipake di XXI? Suaranya jauh lebih halus, natural n nggak peak kalo dibandingin ma 21.

    ReplyDelete
  15. Tau ga film animasi 3D soal anak cowok yang suka sm jam n akhirnya tinggal di menara jam stasiun, judulnya apa ya?

    ReplyDelete
  16. Review yg bgus...
    Sya suka.. sya suka..
    Part 2e kpan cak?
    Dah bnyak prubahan nih, hmpir 5 taun sjak ulsan ini.
    Coba explore ini, efek 3D. Sbrpa trsa, di cnema dn studio mna yg pling bgus, film genre apa yg enak dn gk enak bwt 3D. Scra 3D ato tdk HTMnya sma ja. Ato ulas hal2 laen, sputar prbioskopan di Indo dn Sby khsusnya.
    Suwon....

    ReplyDelete
  17. Kak? Saya juga mau nambah 1 pertanyaan nih, klo misalnya kita udah beli tiket, trus kita mau ganti tiket film itu untuk waktu tayang yang berbeda itu bisa gak?

    ReplyDelete
  18. kok harga tiket di internet dgn harga tiket langsung di bioskop beda yah ?

    ReplyDelete
  19. wahhhh... saya baru nemu postingan ini hehehe. Kita punya alasan yg sama kenapa tidak menonton film di TP, ya karena parkirannya susayaaahhh. Saya juga suka nonton di Grand City karena deket, dan kapasitas studionya besar2, sehingga tidak takut kehabisan tiket. *efek sering kehabisan tiket di Galaxy Mall :D

    ReplyDelete

Just do it.