KOALA KUMAL (2016) REVIEW: KOMEDI PATAH HATI YANG KUMAL

7/11/2016 03:50:00 PM




Satu hal yang pasti disinggung oleh Raditya Dika ketika ia menjadi pembicara adalah kisah perjuangannya dari nol hingga menjadi komedian paling terkenal di Indonesia saat ini. Dari penonton stand-up comedy yang hanya terdiri dari empat-lima orang termasuk ibunya, kini menjadi jutaan jiwa. Apa yang dilakukan Dika di masa remajanya itu memang adalah sesuatu yang luar biasa dan pantas untuk dibanggakan. Bahkan di film-film yang ditulisnya pun, ia seringkali menggunakan back story yang sama pada karakter yang dilakoninya sebagai solusi dari masalah yang dihadapi oleh karakter-karakter rekaannya itu.  






Cerita kesuksesan Raditya Dika memang sangat menginspirasi banyak orang, tetapi tidak dengan film-filmnya. Dibuat untuk target penonton dengan rentang usia ABG, film-film Dika sejauh ini tidak pernah menjadi film komedi yang dapat memuaskan semua kalangan. Tema jomblo dan patah hati, lengkap dengan rangkaian fart jokes dan humor slapstick, hanya ampuh merangsang saraf tawa para penonton remaja yang sampai saat ini masih menjadi pasar penonton terbesar di Indonesia. Tidak heran, sejak Cinta Brontosaurus meledak dengan 892.915 penonton pada tahun 2013, Raditya Dika langsung menjadi komoditas panas rumah-rumah produksi dan menjadikan kisah hidup dirinya sebagai salah satu “franchise” film terbesar di industri perfilman nasional.

Di film Koala Kumal, Raditya Dika kembali melanjutkan kisah hidupnya yang sebelumnya telah ia tuangkan di buku semi-biografi ke tujuhnya yang berjudul sama. Dika (Raditya Dika) kini sudah dewasa dan memasuki era di mana ia akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama tunangannya, Andrea (Acha Septriasa). Sayangnya, hanya beberapa bulan sebelum upacara pernikahan mereka berlangsung, Andrea membatalkannya dan berpaling ke pelukan James (Nino Fernandez) yang lebih tampan, kaya, dan sukses dibanding Dika. Diselimuti oleh rasa kecewa dan patah hati, hidup Dika menjadi berantakan dan membuatnya hiatus selama setahun dari pekerjaannya sebagai penulis. Sampai suatu ketika, seorang perempuan misterius bernama Trisna (Sheryl Sheinafia), masuk dalam kehidupannya dan berhasil mengubah caranya menghadapi patah hati dan moving on.

Dilihat dari premise dan tema pernikahan yang diangkat, Koala Kumal sekilas menjanjikan banyak hal. Film ini seharusnya bisa menjadi film Dika yang paling dewasa dan matang, di mana penonton akan disuguhi cara Dika menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya dengan sajian komedi yang ringan. Ternyata, saya salah besar. Koala Kumal kembali mengulang formula komedi yang sama, bahkan bisa dibilang lebih garing dan memaksa dari sebelumnya.

Permasalahan dimulai ketika karakter Trisna masuk ke dalam kehidupan Dika dan dibuat menjadi lebih dominan daripada karakter utamanya sendiri. Sosok Trisna yang (untungnya) diperankan dengan baik oleh Sheryl Sheinafia selalu menjadi solusi setiap kali karakter Dika mengalami masalah. Tetapi entah kenapa, dari cara Raditya Dika mengembangkan dan menulis karakter Trisna yang selalu muncul secara tiba-tiba tanpa motif ataupun tujuan yang masuk akal justru membuatnya berakhir seperti obat penawar untuk writer’s block penulis naskahnya sendiri, daripada penggerak plot yang substansial.

Selain itu, penyakit yang selalu menjangkiti film-film Raditya Dika, di mana first act-nya selalu menjadi menit-menit terbaik di keseluruhan film, juga kembali di film Koala Kumal, lengkap dengan guyonan-guyonan terbaik dan terkreatifnya. Sisanya? It’s Raditya Dika being Raditya Dika all over again. Mulai dari joke-joke jorok dan humor slapstick yang membuat penonton mempertanyakan saraf malu para pemainnya, semua tersebar dengan set-up dan comedy timing yang terkesan sangat memaksa dan mengada-ada daripada mengalir secara natural.

Karakter-karakter pembantu yang diperankan dengan cukup baik oleh Acha Septriasa, Adipati Dolken, dan Nino Fernandez pun tidak mendapatkan screen time yang cukup. Mereka hanya tampil sebagai pemanis yang tidak pernah berkembang lebih dari karakter-karakter stereotype yang tak pernah absen dari naskah racikan Raditya Dika.




Secara keseluruhan, setelah mengalami perkembangan yang cukup signifikan di film Single bulan Desember 2015 silam, Koala Kumal justru kembali tampil amatiran dan mengecewakan para penonton awam yang mulai memberi respect kepada Raditya Dika sebagai spesialis film komedi yang menjanjikan. Joke hambar, karakter dangkal, naskah berantakan, dan penutup film yang secara mengejutkan tidak dapat meninggalkan pesan mendalam seperti di film-filmnya sebelumnya adalah sekian dari banyak hal yang menyinalisir penurunan kualitas seorang Raditya Dika. Bahkan bagi para fans yang hanya ingin menikmati joke-joke khasnya sekalipun, Koala Kumal jauh dari kata menyenangkan.[]



You Might Also Like

1 comments

  1. kocak sumpah, meskipun menurutku msh lbh lucu yg film single,

    Download Film

    ReplyDelete

Just do it.