The Great Wall (2016): Movie + IMAX 3D Review

1/08/2017 03:39:00 PM

 


China (Universal, Legendary Pictures) | 103 minutes | PG-13
Genre: Action, Fantasy
Director: Zhang Yimou
Screenplay: Tony Gilroy, Carlo Bernard, Doug Miro
Cast: Matt Dammon, Pedro Pascal, Andy Lau, Jing Tian, Willem Dafoe
Wide Release: December 31, 2016 (midnight) / January 4, 2017 (Regular)

Verdict: 
Dahsyat secara visual dan berskala megah lantas tidak membuat The Great Wall keluar dari pola film-film east-meets-west yang sudah ada: naskah apa adanya dan karakter western yang lagi-lagi dibuat terlalu agung sebagai penyelamat dunia. Film ini bisa dibilang sebagai karya sutradara Zhang Yimou yang paling mengecewakan dalam filmografinya. | Rating: ★★  




Review: 

The Great Wall berkisah tentang dua orang pedagang dari barat, William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascall), yang terperangkap di tengah perjuangan pasukan khusus kerajaan mempertahankan tembok raksasa Cina dari serangan monster dari dimensi lain. Pemimpin pasukan itu, Komandan Lin Mei (Jing Tian), menganggap bahwa William adalah kunci untuk menyelamatkan Cina dan memusnahkan monster itu untuk selama-lamanya.

Sesuai ekspetasi ketika menyaksikan film Cina termahal yang pernah dibuat, The Great Wall memiliki tata visual yang dashyat dan berskala megah, bahkan tidak berlebihan apabila mengatakan kalau film ini adalah satu dari segelintir film kolaborasi Cina-Hollywood yang dibuat dengan sangat baik. Tetapi dengan konsep historical fiction-nya yang begitu konyol dan naskah yang dangkal, sutradara Zhang Yimou menuturkan film ini dengan tone yang kelewat serius, sampai segala unsur fun-nya meluntur dengan cepat dan berakhir menjadi tontonan penuh CGI yang menghina seluruh talenta kelas dunia yang terlibat di film ini dan juga, inteligensi penontonnya.

Jadi ya, in the end, di samping tata visualnya yang dahsyat itu, The Great Wall rupanya masih belum keluar dari pola film-film east-meets-west yang sudah ada: plot ala kadarnya dan karakter bule yang kembali menjadi penyelamat dunia.


IMAX Review:

About IMAX 3D Experience

Konsep dasar teknologi 3D yang diusung IMAX ini kurang lebih sama dengan Real D 3D, di mana layar dan proyektornya yang bekerja secara aktif, sedangkan kacamata 3D bekerja secara pasif. Alhasil, gambar yang dihasilkan lebih terang dan meminimalisir (bahkan hampir tidak ada) kemunculan ghosting atau gambar ganda ketika kepala anda bergerak. Kacamata IMAX 3D juga tidak membutuhkan baterai seperti teknologi Dolby 3D milik cinema 21 sehingga lebih nyaman dan ringan ketika dipakai. Keunggulan lain dari IMAX 3D adalah luas dan struktur layarnya yang didesain sedemikian rupa untuk mencakup seluruh area pandang mata penonton, sehingga otomatis efek 3D yang dihasilkan pasti akan jauh lebih dahsyat dibanding layar reguler.


Aspect Ratio: 2.39:1 (with black bar)

Aspect Ratio layar IMAX adalah 1.90:1 (sedikit lebih lebar dari standard TV 16:9) dan tidak dapat diubah lagi seperti yang banyak kalian jumpai di studio-studio reguler cinema 21. Sehingga ketika memutar film dengan aspect ratio 2.39:1 (lebih lebar), ada black bar di atas dan di bawah layar. Di film-film 3D, black bar tersebut sangat mengganggu dan membuat layar terlihat lebih kecil. Sedangkan di film 2D, hal ini tidak terlalu mengganggu.

———

The Great Wall dipresentasikan dengan menggunakan aspect ratio 2.39:1. Ada black bar di atas dan di bawah di sepanjang film.


Brightness: 4.5/5 

Level brightness bisa dibilang sebagai aspek paling krusial dalam kenikmatan kita menonton film 3D, karena kacamata yang kita kenakan membuat gambar di layar terlihat lebih gelap. IMAX memiliki dua proyektor yang digunakan untuk menembakkan gambar ke layar, sehingga otomatis film-film 3D yang diputar di studio IMAX tampak lebih terang dibanding layar reguler.

———

Sama seperti kebanyakan film-film yang tayang dalam format IMAX 3D, tingkat brightness dalam film The Great Wall tidak banyak terpengaruh oleh tone warnanya yang cenderung muted dan nuansa overall-nya yang ‘mendung’. Hanya di beberapa adegan (terutama di malam hari) film ini terlihat terlalu gelap dari balik kacamata 3D.


Depth: 3/5

Efek depth adalah kedalaman gambar di layar yang membuat penonton seolah-olah sedang menyaksikan peristiwa yang benar-benar terjadi dari balik jendela di depannya (layar). Singkatnya, efek depth membantu background terlihat lebih nyata dan membuat penonton merasa terlibat di dalam adegannya. Layar IMAX sangat membantu efek kedalaman gambar untuk bekerja lebih maksimal.

———

Depth seharusnya bisa menjadi salah satu aspek di mana The Great Wall bisa tampil unggul. Tetapi sayangnya, efek kedalaman gambar di film ini kebanyakan dihasilkan oleh tata sinematografinya yang banyak mengambil angle yang menonjolkan dimensi pada adegan tersebut, namun tidak didukung oleh efek 3D yang seharusnya bisa menghidupkan dimensi itu.


Pop-Out: 2/5

Efek pop-out adalah efek gambar yang keluar dari layar dan ‘menusuk’ mata penontonnya. Bagi penonton awam, efek pop-out ini sering dianggap sebagai definisi dari efek 3D.

———

Sama seperti efek depth-nya, The Great Wall juga mempunyai banyak shot gimmick untuk mendukung efek pop-out-nya, mulai dari monster yang melompat keluar dari layar, pedang-pedang yang menusuk ke arah penonton, hingga asap dan serpihan ledakan yang terbang ke mana-mana. Dan lagi-lagi, shot itu tidak berhasil dihidupkan oleh efek 3Dnya.



The IMAX Experience: 3.5/5


The Great Wall memang berhasil memanfaatkan layar besar IMAX untuk memberi suguhan visual dan menonjolkan skala megah set produksinya menjadi jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan layar reguler. Buat kalian yang tidak begitu suka dengan 3D, tetapi masih ingin merasakan kemegahan yang diberikan oleh The Great Wall, saya anjurkan kalian untuk menyaksikannya dalam format Sphere X 2D.



You Might Also Like

1 comments

Just do it.