THE BOURNE LEGACY (2012) : THERE WERE NEVER JUST THREE

9/02/2012 02:46:00 PM


"Jason Bourne was just the tip of the iceberg" -Byer
The Bourne Trilogy adalah salah satu trilogi terbaik yang pernah dihasilkan Hollywood. Banyak pula yang mengatakan kalau film ini berperan secara tidak langsung dalam penggodokan formula Casino Royale, film reboot James Bond, yang mengikuti jejak Bourne untuk tampil realistis, dark, cerdas, dan old-fashioned. Tetapi, berbeda dengan franchise Bond, The Bourne Trilogy memiliki kisah yang saling berkaitan dan sebenarnya sudah berakhir pada The Bourne Ultimatum tahun 2007 lalu. Yah, namanya Hollywood. Asal masih dapat dijadikan mesin pencetak uang, film yang berpotensi untuk dijadikan franchise seperti Bourne akan diperas habis - habisan sampai kering ring kemudian direboot. Bahkan saking serakahnya, Universal rela melepas dua pion terpenting franchise Bourne, yang tidak lain adalah Matt Damon dan Paul Greengrass. Apakah The Bourne Legacy berhasil menyuguhkan warisan Bourne secara spektakuler seperti yang diharapkan oleh para penonton dan penggemarnya?

THE BOURNE EXPERIENCE

The Bourne Legacy ternyata tidak diadaptasi dari novel keempat Bourne berjudul sama yang ditulis oleh Eric Van Lustbader (ditulis setelah Robert Ludlum meninggal dunia), melainkan sebuah lembaran cerita baru yang ditebar pada timeline The Bourne Ultimatum. 

Posisi Jason Bourne sebagai spotlight utama digantikan oleh Aaron Cross (Jeremy Renner), yang ternyata adalah bagian dari program penelitian super soldier rahasia milik pemerintah. Namun suatu hari, pemerintah menutup program tersebut secara tiba - tiba. Para agen - agen yang terlibat dalam program dimusnahkan, terkecuali Aaron Cross yang berhasil lolos. Bersama dengan Dr. Martha Shearing (Rachel Weisz) yang juga tengah diburu, Aaron berusaha untuk menguak misteri di balik semua ini.  

Tony Gilroy, penulis naskah seluruh film Bourne yang dibintangi Matt Damon, bisa dibilang sukses dalam menyuguhkan gaya penceritaan yang intense dan berlapis - lapis hingga adegan aksi penahan nafas ala Bourne dalam film ini. Para penonton yang berekspetasi tinggi dalam dua aspek tersebut sudah jelas akan keluar gedung bioskop dengan wajah berseri - seri.




TONY GILROY IS NOT ROBERT LUDLUM

Meski demikian, hal di atas bukan berarti Gilroy sanggup untuk melakukan apa yang dilakukan Robert Ludlum dalam novelnya. Seberapa besarnya usaha Gilroy untuk meyakinkan para penonton bahwa The Bourne Legacy ini adalah bagian dari universe Bourne, ia gagal dalam mengekspansi kisah Bourne yang setingkat dengan predesesornya. 

Gilroy terkesan hanya menggunakan formula dari ketiga film sebelumnya dan kemudian diaduk dengan cerita baru yang sebenarnya termasuk mengecewakan dan terkesan maksa untuk dipanjang - panjangkan. Hebatnya lagi, film ini harus berakhir di tengah jalan ketika rangkaian cerita yang dibangun susah payah oleh Tony Gilroy di awal film sampai harus mengorbankan pace segala itu mulai berkembang. 

Tetapi jangan salah, di luar segala kekurangannya, The Bourne Legacy still has its exciting moments. Beberapa poin cerita berhasil tampil memukau, cerdas dan menarik perhatian. Walau patut disayangkan karena Tony Gilroy tidak sanggup memaksimalkan dan merajutnya dengan poin cerita lain hingga menjadi satu - kesatuan yang baik. 


RENNER AND WEISZ SAVE BOURNE’S FACE

Untungnya, oh untungnya, keputusan Universal untuk mengkasting Jeremy Renner dan Rachel Weisz benar - benar menyelamatkan wajah franchise Bourne. Renner memang tengah pada puncak popularitasnya, tetapi ia selalu berhasil menunjukkan bahwa ia tidak mengandalkan keberuntungan saja untuk mencapai kesuksesan tersebut, tetapi juga karena kemampuan aktingnya yang berkelas (senggol Sam Worthington). Karakter Aaron Cross berhasil dilakoninya dengan amat baik, believable, dan menjauhkannya dari bayang - bayang kehebatan performa Matt Damon sebagai Jason Bourne.

Di sisi lain, Rachel Weisz sebagai Dr. Marta Shearing juga menunjukkan performa-nya sebagai aktris pemenang Oscar meski karakter yang ia perankan tidak lebih dari sekedar tokoh wanita stereotype dalam film - film action. Kinerja kedua orang ini bisa dibilang sukses menyulap beberapa scene yang seharusnya standard - standard saja menjadi sesuatu yang tak terlupakan dan sangat menegangkan (coba saksikan scene interogasi di rumah Dr. Shearing sebagai buktinya).


WE ARE NOT CROSSING WITH AARON

Hal lain yang menarik adalah absennya shaky cam ketika adegan aksi berlangsung. Walau metode tersebut sebenarnya digunakan Paul Greengrass dengan sangat brilian dalam film Bourne Supremacy dan Ultimatum, tentu absennya shaky cam ini tetap disambut gembira oleh casual audiences dan bahkan para pecinta film yang tidak menyukai metode cinematography seperti itu. 


Overall, posisi The Bourne Legacy jelas berada (sedikit) di atas standard film - film espionage biasanya, tetapi apabila dibandingkan dengan seri - seri Bourne terdahulu, film ini berada di posisi paling bawah. Tidak hanya itu, Tony Gilroy, selaku sutradara dan penulis naskah film ini, gagal untuk menunjukkan damage apa saja yang diakibatkan oleh Bourne setelah kejadian dari film ketiganya secara spektakuler seperti yang kita semua harapkan (yang seharusnya juga dapat mewakili kata ‘Legacy’ / warisan dalam sub judulnya). Film ini menurut saya lebih terkesan sebagai spin off “apa saja yang terjadi dalam film The Bourne Ultimatum” daripada sequel langsung dari franchise Bourne. Bagaimana menurut kalian? 

You Might Also Like

0 comments

Just do it.