FILOSOFI KOPI (2015): DONGENG SECANGKIR KOPI

4/10/2015 03:06:00 PM



Mengadaptasi buku ke medium film memang selamanya tidak pernah menjadi perkara mudah. Ada dua pertimbangan yang harus diperhatikan benar-benar oleh sang pembuat film, antara misinya untuk menyeimbangkan egonya dengan ego sang penulis, dan misinya untuk memuaskan penonton yang sebelumnya sudah membaca sumber materi ceritanya. Perselisihan antara pembuat film dan penonton seringkali terjadi pada materi cerita yang sudah terlebih dahulu terkenal di khayalak ramai, seperti, misalnya, buku-buku gubahan Dewi Lestari (Dee). Semenjak Rectoverso yang cukup bagus, film adaptasi berikutnya cenderung kurang memenuhi ekspetasi para penggemarnya, seperti Perahu Kertas, Madre, sampai Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh




Belajar dari kesalahan-kesalahan itu, Visinema Pictures pun menunjuk Angga Dwimas Sasongko, sutradara yang sebelumnya telah menyapu bersih penghargaan-penghargaan film nasional lewat film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku tahun 2014 kemarin, untuk mengadaptasi Filosofi Kopi ke layar lebar. Tentu saja, dengan harapan kalau film ini bisa menjadi yang terbaik dari seluruh film adaptasi buku-buku Dewi Lestari sekaligus memuaskan pembaca bukunya.

Sekilas, cerita yang diangkat Filosofi Kopi memang mengalir pada pembuluh yang sama dengan Madre, cerpen karya Dewi Lestari yang lain, yakni, sama-sama mengangkat tema kuliner. Filosofi Kopi berkisah tentang sahabat karib sejak kecil, Ben (Chicco Jerikho) dan Jodi (Rio Dewanto). Ben adalah ahli kopi, sedangkan Jodi ahli dalam berhitung. Bersama, mereka membangun kedai kopi yang dinamakan Filosofi Kopi, sebagaimana yang diyakini oleh Ben, bahwa setiap cangkir kopi memiliki cerita dan karakter yang berbeda.

Semua berlangsung baik-baik saja, sampai ketika Jodi mendapat kabar bahwa almarhum ayahnya telah membebani keluarganya dengan hutang sebesar 800 juta. Bank pun mengancam akan menyita kedai Filosofi Kopi, apabila pembayarannya tidak segera dilunasi. Di tengah lilitan hutang itu, seorang pengusaha misterius datang ke Filosofi Kopi, memberikan tantangan yang dapat mengubah kehidupan mereka untuk selama-lamanya. 

Mengadaptasi Filosofi Kopi ke medium film memang bukan tugas yang mudah untuk diselesaikan, mengingat kekuatan buku-buku Dewi Lestari sebenarnya tidak terletak pada alur cerita, melainkan pada strukur narasi dan perpaduan kata-katanya yang luar biasa. Terlebih lagi, Filosofi Kopi adalah sebuah cerita pendek yang tidak akan memiliki materi yang cukup untuk diadaptasi menjadi sebuah film panjang. Sisi positifnya, hal ini jelas memberikan kesempatan bagi Angga Sasongko dan penulis naskah Jenny Jusuf untuk lebih bebas berkreasi dan berimprovisasi dengan materi cerita untuk memenuhi standard durasi sebuah feature film. 


Eksekusi dan perspektif yang dipilih Angga dan Jenny pun menarik. Daripada memperluas materi cerita sampai ke mana-mana, mereka lebih memilih untuk memfokuskan Filosofi Kopi pada studi karakternya; karakter-karakter khusus yang seluruh pergerakannya dipicu dan dirangkai oleh satu plot device, yaitu, biji kopi.





Filosofi Kopi, secara keseluruhan, adalah kisah tentang orang-orang yang mengejar kesempurnaan, ntah itu kesempurnaan pada mahakaryanya, kesempurnaan dalam hidupnya, atau kesempurnaan dalam angka-angka finansial. Biji kopi dijadikan sebagai alat utama bagi karakter-karakter tersebut untuk mencapai sesuatu yang dianggapnya sebagai kesempurnaan itu. Ada Ben yang idealis, yang berusaha menciptakan racikan perfecto, secangkir seduhan kopi yang akan menjadi mahakarya terbaik yang pernah dibuatnya. Kemudian, sahabat karibnya, Jodi, yang beranggapan bahwa angka-angka keuntungan yang besar dari kedai kopinya adalah golden ticket menuju kehidupan sempurna. Dan terakhir, ada Elaine, yang tengah dalam misi menyempurnakan ensiklopedia kopi yang dirancang oleh sang ayah, seorang maestro kopi terhebat di dunia.

Semua elemen itu kemudian diracik dengan amat baik oleh sutradara Angga Sasongko dan penulis Jenny Jusuf lewat naskah yang rapi, dialog-dialog yang mengalir, serta akting dan chemistry yang mengagumkan antara Ben dan Jodi; menjadikannya secangkir house blend yang amat sedap dan memiliki cita rasa yang pas di segala aspek. 


Satu hal lagi yang layak untuk disebut adalah betapa banyak detil-detil yang diperhatikan oleh Angga dan Jenny dalam mempresentasikan Filosofi Kopi, baik itu pada alunan musik, set dekor yang hangat dan menyenangkan, branding Filosofi Kopi yang stunning, sampai suguhan ilmu tentang kopi yang cukup dalam, tetapi masih mudah untuk ditangkap oleh penonton yang tidak familiar tentang kopi sekalipun. Sinematografi arahan Robie Taswin, yang sebelumnya telah berkolaborasi bersama dengan Angga di Cahaya Dari Timur, pun sanggup menambahkan tensi dan kedinamisan yang tak biasa dalam rekaman gambar-gambarnya melalui efek shaky yang sama sekali tak merusak komposisi, tetapi justru berkolerasi dengan kedalaman ceritanya.



Overall, seperti kata Ben di salah satu adegan penting film Filosofi Kopi bahwa segala jenis kopi dan bagaimana cara menyeduhnya akan memiliki cerita dan kepribadian tersendiri, menikmati menit demi menit Filosofi Kopi itu layaknya menyeruput secangkir kopi terbaik yang diseduh dengan perasaan dan keahlian yang luar biasa. Ia mengandung komposisi cita rasa yang pas, yang membuatnya tidak hanya cantik untuk dilihat, nikmat dirasa, tetapi juga hangat di hati.[]



Rating: 4 out of 5 stars


You Might Also Like

6 comments

  1. paragraf terakhirnya ambigu...jadi jauh dari sempurna atau perfecto?

    ReplyDelete
  2. @Hem Sam: haha benar juga. Trims bro. Sudah gw ralat :)

    ReplyDelete
  3. Halo Elbert. Saya dari Review-Luthfi menominasikan A Cinephile's Diary ke dalam The 2015 Liebster Award bersama 10 blog film lainnya.
    Silakan check postnya di sini:
    http://review-luthfi.blogspot.com/2015/04/the-2015-liebster-awards-to-review.html

    Kalo ada waktu ayo ramein award ini. Terima kasih :D

    ReplyDelete
  4. salam pecinta film.

    permisi, saya mau promosi blog review film juga.

    [ iza-anwar.blogspot.com ]

    mohon tambahkan dalam daftar blog Anda dan follow serta like juga blog saya.

    maaf bila review saya masih amatiran dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya :).

    ReplyDelete
  5. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Masih belum nonton nih, takut kecewa kalau nggak sebagus bukunya.
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete

Just do it.