CINEMA 21 / XXI / CINEMAXX / CGV*BLITZ FREQUENTLY ASKED QUESTION (F.A.Q.) Part 2

8/06/2015 02:21:00 PM



Melanjutkan post FAQ Part 1 yang udah gw rilis tahun 2011 kemarin (a long, long time ago), FAQ Part 2 ini kembali hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kalian yang terlalu sering ditanyakan sampai gw punya auto text jawabannya di hp. Khusus untuk FAQ Part 2 ini, gw bagi menjadi dua kategori, yaitu: personal (mengenai blog cinephilesdiary.blogspot.com sekalian buat curhat-curhat gitu ya) dan cinema (seputar bioskop di Indonesia). Kalau ada pertanyaan yang belum gw jawab di post ini atau ada jawaban yang kurang tepat, silahkan tulis di kolom komentar di bawah ini. Gw tampung dulu buat dijawab 5 tahun lagi. Lulz.



CINEMA

Bagaimana cara mengeja XXI?

Yang paling benar dan paling tepat adalah twenty one (angka romawi), bukan 'eks eks ai' atau 'eks eks one'.

Kenapa ada film yang cuman tayang di Cinema 21, CGV Blitz, dan Cinemaxx?

Karena studio film di luar studio big six (Sony, Disney, Universal, 20th Century Fox, Paramount, Warner Bros.) tidak mempunyai kekuasaan yang mengharuskan sang pemegang lisensi untuk mendistribusikan film-film mereka ke semua bioskop di negara tersebut tanpa terkecuali.
Sistem distribusi film dari studio-studio non-big six kebanyakan adalah penjualan hak edar, jadi mereka tidak punya wewenang sama sekali untuk mengatur tanggal rilis dan lain sebagainya. Semua diatur oleh sang pemegang hak edar, mereka hanya menyuplai film-filmnya saja.
Itulah kenapa, ada film-film yang hanya tayang di bioskop-bioskop tertentu dengan jadwal tayang seenaknya sendiri, seperti misalnya: Twilight dan Divergent hanya di XXI, Begin Again yang tayang di XXI setahun lebih lambat dari jadwal US, lalu Doraemon dan Naruto yang hanya tayang di Blitz dan Cinemaxx.

Terus, bagaimana cara kita tahu film mana yang bakal eksklusif tayang di Cinema 21, CGV Blitz / CGV Blitz, dan Cinemaxx?

Bagi kaum cinephile, ini adalah hal yang mudah. Prima Cinema Multimedia, importir milik Cinema 21, adalah pemegang lisensi film-film rilisan Lionsgate, Summit, Milenium, Europa Corp., dan film-film Mandarin, jadi jangan harap film-film tersebut bisa rilis di bioskop lain. Cinema 21 kebanyakan juga mengimpor film-film yang dibintangi oleh idola penonton Indonesia seperti Jason Statham, Bruce Willis, Nicholas Cage, Arnold Schwarzenegger, Sylvester Stallone, dan aktor-aktor film action tahun 80-an. Pokoknya, asal posternya nodongin pistol, trus muka aktornya kayak lagi muntab, dan ada ledakan-ledakan sama mobil jungkir balik gitu, pasti diimpor sama Cinema 21 dengan jadwal tayang yang pasti (kalau bisa, berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum tayang di bioskop Amerika).
Kalau Jive Entertainment, importir CGV Blitz, kebanyakan memilih film-film alternatif dari negara lain seperti Thailand, Jepang, India, Korea, dan beberapa film dari studio non-big six yang belum diimpor atau tidak diinginkan oleh Cinema 21. Pemilihan film-film Jive ini bisa dibilang lebih gambling dari Cinema 21 karena film-film yang mereka impor kebanyakan adalah film yang cuman digandrungi oleh kaum cinephile dan kelompok-kelompok tertentu. Tapi yang blockbuster juga ada kok, seperti Immortals, Doraemon, Pokemon, Naruto, dan film-film super hits dari Korea Selatan seperti Snowpiercer, The Thieves, contohnya.
Tapi kalau soal film horror, Blitz patut diacungi jempol. Mulai dari You're Next, The Babadook, sampai It Follows adalah contoh film-film horror terbaik dekade ini yang cuman tayang di Blitz.

Lah terus, kenapa film eksklusifnya CGV Blitz juga bisa tayang di Cinemaxx dan Platinum Cineplex? Hayo! Sotoy, kan!

Cinemaxx dan Platinum Cineplex adalah jaringan bioskop yang relatif baru dan belum memenuhi syarat jumlah layar untuk memegang lisensi hak edar sendiri. Lagipula, Jive juga membutuhkan bantuan untuk menutup kerugian kalau seandainya film mereka tidak laku, jadi ya daripada terus-terusan seperti itu, lebih baik bekerja sama juga dengan jaringan bioskop lain. Win-win solution gitu lah. Jive dapet bantuan, bioskop lain juga dapet film eksklusif.

Sotoy kamu. Ada juga kok film-film berlogo Sony Pictures yang cuman tayang di XXI seperti Fury kemarin!

*Sabar*
Ada beberapa film yang diproduksi oleh studio indie / non-partner tetapi hak distribusinya dibeli oleh studio big six. Biasanya, studio big six tersebut hanya membeli hak distribusi untuk negara Amerika saja, dan hak edar di luar Amerika dipegang oleh distributor lain. Kalau kebetulan hak itu dipegang oleh studio non-big six, ya sistem penjualan mereka seperti yang sudah gw bilang di atas. Jadi kalian harus teliti mengamati distributornya juga. Contoh lain: Cloud Atlas (hak edar di Amerika dipegang Warner Bros., di luar itu studio lain), Interstellar (hak edar di Amerika dipegang Paramount, di luar itu dipegang Warner Bros.), Titanic (Paramount di Amerika, 20th Century Fox di luar itu), Ghost Rider 2 (Sony Pictures di Amerika, Warner Bros. di Asia Tenggara), etc.

By the way, Cinemaxx itu apaan sih?

Jaringan bioskop baru milik Lippo Group. Mereka berambisi untuk membuka 1000 layar bioskop di seluruh Indonesia, dengan Surabaya berada di kloter terakhir. Lulz.

Apa bedanya Cinema 21 dengan Cinema XXI? (Updated dari  FAQ part 1)

Nah ini dia jenis pertanyaan yang bisa dijawab sendiri oleh orang awam dengan jawaban yang kurang tepat: Cinema XXI itu kelasnya di atas Cinema 21!
Jawaban yang lebih tepat: Cinema XXI adalah re-branding dari Cinema 21. Memang dari segi gedung dan interior, Cinema XXI keliatan lebih mewah. Tapi dari segi teknologi, Cinema XXI itu sama persis dengan Cinema 21. Kursi sama. Layar, projector, speaker, juga sama. Jadi, Cinema XXI = Cinema 21.

Terus kenapa masih ada Cinema 21?

Karena biaya re-branding itu sangat besar dan pastinya akan berimbas ke harga tiket, 21 group harus menyeleksi bioskop mana yang layak untuk diubah ke XXI. Kalau kalian amati, bioskop-bioskop yang masih berlabel 21 kebanyakan ada di mall-mall yang banyak dikunjungi oleh (no offense) masyarakat menengah bawah yang tidak punya daya beli yang tinggi dan lebih menyukai tontonan lokal. Itulah kenapa Cinema 21 juga kebanyakan memutar film Indonesia daripada film impor dengan mempertahankan harga tiketnya di kisaran 15.000-25.000 untuk weekdays. Ujung-ujungnya, muncul persepsi dari masyarakat kalau Cinema XXI itu untuk kalangan atas, Cinema 21 untuk kalangan bawah.

Kenapa sekarang ada 20th Century Fox ID, United Pictures ID, etc.? Itu beneran perwakilan dari studio-studio Hollywood?

Iya. Semua berada di bawah bendera PT Omega Film, pemegang hak edar film studio big six di Indonesia. Perwakilan di Indonesia itu untuk menjalin komunikasi dua arah dengan penonton dan juga untuk mengamati selera orang Indonesia itu seperti apa. Jadi, film yang diimpor juga akan disesuaikan.

Apa itu THX? Apa bedanya dengan bioskop non-THX?

Basically, THX itu sebenarnya hanya sertifikat, bukan nama / produsen teknologi. THX awalnya diciptakan oleh Lucasfilm untuk menyeleksi bioskop-bioskop yang technology-speaking layak untuk memutar film Star Wars Episode VI: Return of the Jedi sesuai dengan yang diinginkan oleh George Lucas, terutama yang berhubungan dengan kualitas audio-visual, seperti projector, kalibrasi speaker, sound isolation, dan hal-hal lain yang pokoknya berhubungan dengan movie viewing experience (dulu kalau nggak salah hanya suaranya saja). Jadi, setiap bioskop yang THX-certified itu berarti melibatkan tim konsultan THX dalam proses instalasi dan pengaturan output speaker-nya untuk menciptakan studio terbaik yang sesuai dengan standard tinggi mereka.

Apa bedanya IMAX dengan studio reguler?

IMAX itu layarnya lebih besar 4 kali lipat dari studio reguler dan mencakup seluruh area pandang mata kalian. Jadi, apa yang kalian lihat di depan mata itu hanya film, kalian tidak akan melihat ceiling dan lain-lain (kecuali kalau ndangak, tolah-toleh). Untuk info lebih lanjut, silahkan ke link berikut ini: https://www.google.co.id/#q=imax 

Kenapa harga tiket bioskop sekarang mahal banget?!

Stop complaining and get a better job.

Surabaya itu kan katanya kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, tapi kok fasilitas nontonnya kalah sama kota-kota lain seperti Medan dan sekitaran Jakarta?

Sama, gw juga heran setengah mati. Tetapi sejauh yang gw tahu, Surabaya ini perkembangannya memang lambat. Banyak gedung-gedung yang mangkrak / proses pembangunannya lama banget seperti Lippo Mall di samping Siloam Hospital (yang tentunya bakal diisi oleh Cinemaxx), Marvell City (resmi diisi CGV Blitz), Praxis (denger-dengernya XXI lagi), dan lain-lain. CGV Blitz juga sudah berulang kali berniat untuk masuk ke Surabaya sejak mereka sudah ekspansi ke Jakarta, tetapi kebanyakan kalah pamor dengan Cinema XXI. Akhirnya mereka berhasil deal dengan Marvell City, walau jadwal pembukaannya molor setahunan. Selain itu, masyarakat Surabaya juga cenderung pelit dan sulit mengeluarkan uang, meski ironisnya, pendapatan per kapitanya sangat tinggi. 
Jadi, sejauh ini, Surabaya bisa dibilang sebagai satu-satunya kota besar di Indonesia yang hanya mempunyai satu jaringan bioskop saja. Dan kalau kita mau nonton fim model Doraemon, It Follows, kita harus nyiapin paspor buat terbang ke Sidoarjo cuman buat nonton.

Bagaimana cara memilih film yang efek 3Dnya bagus?

Ini cukup sulit, apalagi cinema XXI sudah tidak lagi memutar trailer-trailer dalam format 3D (nggak tahu kalau bioskop lain). Cara paling mudah untuk memprediksi film mana yang efek 3Dnya bagus adalah dengan melihat track-record sutradaranya. Biasanya, kalau sutradara yang mengutamakan kualitas visual, seperti misalnya, Michael Bay (Transformers series), Steven Spielberg, Peter Jackson (The Hobbit Trilogy), Guillermo Del Toro (Pacific Rim), James Cameron (Avatar), dll, efek 3Dnya sudah jaminan pasti bagus karena itu adalah jualan utama mereka. Atau sutradara-sutradara kelas AAA seperti Martin Scorsese (Hugo), Ridley Scott (Prometheus), Alfonso Cuaron (Gravity), dan Ang Lee (Life of Pi) yang iseng-iseng bikin film 3D, format 3Dnya malah udah pasti must-see karena apapun yang membuat mereka tertarik, hasilnya pasti membuat anda bersyukur punya dua bola mata yang berfungsi.
Terus, semua film animasi keluaran rumah produksi kelas AAA seperti Disney, DreamWorks, Blue Sky (Ice Age series), Sony Pictures Animation, dan Illumination (Despicable Me series) juga dijamin pasti memiliki efek 3D yang bagus karena sejak awal sudah disiapkan untuk format 3D. Kalau filmnya Pixar, efek 3D mereka masih convertan. Ya, mengejutkan memang, gw sendiri juga masih ga percaya.

Apa bedanya Native 3D dengan Converted 3D?

Native 3D itu artinya film tersebut difilmkan dengan kamera 3D, kalau converted 3D berarti efek 3Dnya hasil renderan komputer (mengubah film 2D ke 3D). Native 3D, obviously, lebih bagus hasilnya, walau ini juga tergantung keahlian sutradaranya. Nggak semua film native 3D hasilnya bagus. Demikian juga dengan converted 3D, hasilnya belum tentu jelek, tergantung sutradaranya juga. 

Kenapa teknologi 3D yang dipakai di XXI, CGV Blitz, dan Cinemaxx berbeda-beda?

Karena setiap bioskop sudah punya kontrak kerjasama dengan perusahaan yang mengeluarkan teknologi 3D tersebut. Misalnya, XXI dengan Dolby 3D dan IMAX, Blitz dengan Real D 3D dan 4DX. 

Bagusan mana?
IMAX 3D sih favorit gw so far, karena belum nyobain 4DX. Lol. Kalau untuk efek 3D regulernya kurang lebih sama, cuman kacamata 3Dnya blitz lebih ringan dan bisa dibeli bawa pulang (bahkan ada edisi khusus kyk Avengers kemarin) karena kacamata pasive tanpa battery. Kalau XXI itu kacamata active pake battery jadi lebih berat dan nggak nyaman. 

Apa itu 4DX yang di CGV Blitz?

Singkatnya sih itu teknologi 3D dari Korea dengan efek tambahan seperti kursi goyang, angin, dsb. Biasanya kalau di Universal Studios ada wahana 4D seperti Shrek atau Transformers, ya 4DX itu kurang lebih seperti itu, cuman film yang diputer film komersil, bukan short movie. Nggak tahu detilnya, nggak pernah coba. Di Surabaya gak ada Blitz.

PERSONAL

Kenapa kok jarang update blog?

I'm 22 years old already. I have to start thinking forward. Jadi, di luar kegiatan kampus, gw lebih banyak menghabiskan free time gw untuk membangun karir yang bisa membiayai kebutuhan film gw dan anak-istri kelak. But don't worry, gw masih tetep nonton film di bioskop seminggu 3-4x dan nge-review film di twitter @Elbert_Reyner. Gw juga bergabung di organisasi Indonesian Film Critics (IDFC), sebuah wadah yang mengumpulkan kritikus-kritikus film top di Indonesia. Kunjungi website-nya: www.idfilmcritics.com

Kenapa kamu nggak bikin film daripada cuman ngomentarin film-film kayak pengangguran aja?

Kalian merasa kan pemerintah Indonesia itu nggak becus? Kenapa kalian nggak jadi presiden aja daripada ngomel terus? Kalau jawaban gw berhasil membuat kalian sebel, berarti kita sudah impas. ;)
Oke. Obviously, yang menanyakan pertanyaan seperti ini berarti orang yang nggak begitu ngerti film. Membuat film itu nggak sekedar nulis naskah, milih aktor-aktris, trus camera, roll, action gitu aja. Banyak proses yang harus dilalui seperti casting, cari investor, cari lokasi, casting, reading, beli perlengkapan, etc. yang kalau ditotal bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan sampai tahunan. Dan ini tidak terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di Hollywood. 
Nah, kalau kalian nggak berawal jadi penonton dulu, menumbuhkan rasa cinta terhadap film, tahu kenapa film ini bagus dan kenapa film itu jelek, dan membangun network—kenalan dengan orang-orang film, mana bisa bikin film bagus? Kalau nggak pernah baca novel, emang bisa nulis novel bagus? Kalian emang mau langsung disuruh kawin sama perempuan nggak dikenal? Nggak kan? Ya sudah. Semua itu ada prosesnya, dan bagi gw, menonton dan mengkritik film itu adalah awal dari filmmaking itu sendiri.
Untuk alasan personal kenapa gw gak bikin film adalah karena gw sadar kalau ego gw ini sangat tinggi. Gw nggak suka karya gw dicacati, diubah, dan dikritik oleh kru / produser gw kalau menurut gw sudah perfect. Jadi ya begitulah. Gw kudu membiayai dan berkuasa penuh atas film gw sendiri, baru gw mau terima film gw dibilang jelek sama penonton.

Kalau disuruh milih, kamu milih jadi apa? Penulis atau Sutradara?

Penulis. 

Jelaskan dong kenapa…

Karena tugas seorang sutradara itu sangat berat. Dan misalnya saja hasil akhir filmmu jelek, yang disalahkan pertama kali itu sutradaranya, bukan penulis naskahnya. Penulis itu anggapannya arsitek, sedangkan sutradara itu kontraktor yang membangun dan mendesain interior bangunannya. Nah, kalau kalian berkunjung ke mall baru yang dalamnya jelek, siapa yang disalahin lebih dulu? 

Lagipula, gw memang lebih suka nulis cerita dan dialog, berdiskusi dan bernegosiasi dengan sutradara mengenai konsep dan imajinasi gw (as a producer), daripada berada di lapangan langsung setiap hari dan ditekan-tekan oleh produser. That’s why, banyak sutradara top yang merangkap tiga peran vital di dalam pembuatan film: produser, sutradara, dan penulis naskah; seperti misalnya Christopher Nolan, Stanley Kubrick, James Cameron, dan Quentin Tarantino.




You Might Also Like

4 comments

  1. PIN BB : 264093EF .HP : 085-756-676-237
    HARI INI KAMI ADAKAN PROMO TERMURA & TERPERCAYA website:http://ardhanionlineshop.blogspot.com Produk dijamin asli
    ARDHANI SHOP : Barang yang Kami Tawarkan Semuanya Barang Asli Original Ada Garansi Resmi Distributor dan Garansi TAM .
    Semua Produk Kami Baru dan Msh Tersegel dLm BOX_nya.
    Ready Stock ! Apple iPhone 5 32GB Rp.2.800.000,-
    Ready Stock ! Apple iPhone 5S 32GB Rp.3.500.000,-
    Ready Stock ! Samsung Galaxy Note 3 Putih Rp.2.500.000,-
    Ready Stock ! Apple iPhone 6 plus 32GB Rp.4.500.000,-
    Ready Stock ! Samsung Galaxy Note 4 SM-N910H Gold Rp. 3.3000.000
    Ready Stock ! Samsung Galaxy S5 Rp.2.600.000,-
    Ready Stock ! Samsung Galaxy S4 I9500 - PUTIH Rp.1.700.000
    Ready Stock ! Samsung Galaxy S6 32GB Rp.3.000.000
    Ready Stock ! Samsung Galaxy S6 edge 32GB Putih Rp.4.000.000,-
    Ready Stock ! Samsung Galaxy A3 Rp.1.500.000
    Ready Stock ! Samsung Galaxy A5 Rp.2.200.000
    Ready Stock ! Samsung Galaxy E5 E500H Putih Rp.1.500.000,-
    Ready Stock ! Samsung Galaxy E7 E700H Putih Rp. 1.900.000,-
    Ready Stock ! Apple iPhone 4S 16GB (dari Telkomsel) Rp.1.200.000,-
    Ready Stock ! Samsung Galaxy Grand Prime SM-530H Rp.900.000
    Ready Stock ! Asus Zenfone 2 ZE551ML RAM 4GB-64GB Rp.2.500.000,-

    ReplyDelete
  2. Apa bedanya (film yang sama) ditayangkan midnight dan jam normal? selain jam-nya yang beda...

    ReplyDelete
  3. Aku orang Surabaya dan emang bner bgt gila,Surabaya agak mundur juga dgn teknologi yang maju. Mungkin ini alasan beberapa investor agak ragu main invest disini. Semoga ada bioskop blitz disini :(

    ReplyDelete
  4. Blitz udah dibukaaaaa, yeayyy!!

    ReplyDelete

Just do it.