DESPICABLE ME 2 (2013) ESSAY : LONG LIVE THE MINIONS

7/08/2013 06:03:00 PM



2013 / 98 Minutes / Pierre Coffin & Chris Renaud / US / 1.85:1 / PG


Hanya dalam waktu 3 tahun sejak debutnya pertama kali di layar lebar, Minion sudah menjadi salah satu ikon dunia animasi dan dicintai oleh hampir seluruh kalangan usia di dunia. Dengan hype yang luar biasa ini, tidak perlu waktu lama bagi Universal dan Illumination Entertainment untuk segera melakukan proses pembuatan sequel Despicable Me, yang tidak hanya satu saja, tetapi dua film sekaligus : Despicable Me 2 yang sudah dirilis sejak pekan lalu di seluruh dunia dan Minions yang, apabila tidak ada halangan, siap edar 19 Desember 2014 mendatang.



Film atau Merchandise? 

Hype yang sudah terbangun gila-gilaan ini tetap dijaga ketat oleh Universal dan Illumination Entertainment sejak tahun lalu, baik melalui merchandise sampai teaser-trailer yang kesemuanya mengeksploitasi karakter Minions. Hal ini pada kenyataannya memang berhasil memberi win-win solution bagi kedua belah pihak, baik para businessmen--yang puas dengan aliran dollar yang masuk ke kantong mereka, maupun para konsumen--yang sudah tidak lagi kesulitan berburu merchandise papoy karakter idolanya. 

Namun mari kita kesampingkan ego dan berpikir sejenak. Minions adalah tokoh sampingan--halusannya, supporting characters, dari film pertamanya. Alur cerita franchise Despicable Me juga berfokus pada petualangan Gru, villain kelas dunia, bersama dengan tiga anak adopsinya, Agnes, Edith, dan Margo; bukan para Minions. Lantas, mengapa justru para Minions yang dieksploitasi, yang notabene perannya hanya sekedar pemanis? It’s simple. Brand Recognition. 


Hal yang sama juga pernah terjadi pada franchise Ice Age yang sempat melambungkan nama studio Blue Sky (partner-in-crime 20th Century Fox)  menjadi salah satu studio animasi yang diperhitungkan. Franchise ini jelas memiliki trik marketing yang serupa dengan Despicable Me, yakni memanfaatkan karakter ikoniknya, Scrat, si tupai sinting yang tidak bisa mati, untuk membangun awareness dari para konsumen. Bagi para businessmen, keberhasilan ini tentu menggembirakan karena telah mendatangkan ratusan juta dollar. Tetapi secara estetika, Ice Age justru berangsur-angsur berubah menjadi filmnya Scrat, bukan cerita tentang usaha kawanan hewan purba menghindari kepunahan. Akibatnya, para penonton berbondong-bondong ke bioskop hanya untuk melihat Scrat, bukan karena rasa penasaran mereka dengan kelanjutan kisah Ice Age. Hal ini memang terlihat seperti win-win solution, tetapi pada dasarnya, franchise ini justru mulai kehilangan identitas. 

Unfortunately, Despicable Me 2 juga mengalami hal serupa. Franchise yang awalnya dipuji-puji sebagai salah satu film animasi paling kreatif, unik dan orisinil ini justru berubah haluan menjadi film animasi stereotip di sekuelnya. Creative Control yang kendor ini tidak lain karena disebabkan oleh dorongan dari para petinggi Universal dan Illumination untuk lebih memperbanyak porsi keantikan para Minions ketimbang kisah petualangan Gru (Steve Carell) yang kali ini direkrut oleh Silas Ramsbottom (Steve Coogan), direktur Anti-Villain League, untuk menemukan kriminal kelas dunia yang telah mencuri serum PX-41, serum yang katanya dapat mengubah makhluk hidup menjadi sesosok monster mengerikan. 



Sekuel yang Salah Arah

Perubahan memang patut untuk diselenggarakan dan diantisipasi, tetapi apabila ia tidak berhasil menciptakan formula baru yang sukses seperti film pertamanya, yakni being so original and insanely creative, maka sekuel ini dapat dianggap gagal. Despicable Me 2 mendadak banting setir menjadi sebuah film animasi espionage yang sama sekali tidak memiliki energi orisinalitas dengan kualitas narasi yang tidak tahu mau di bawa ke arah mana. Aksi-aksi ala spy-nya pun hanya berakhir di level cheesy yang sama sekali tidak exciting. Tidak ada gadget canggih yang nyleneh seperti di film pertama, ataupun adegan aksi gila-gilaan yang out of the box seperti sewaktu Gru melawan Vector. Semua yang kita saksikan di film ini sudah pernah kita saksikan di film-film animasi lain. Dan itu tidak baik. 

Sedangkan departemen humor dalam film Despicable Me 2 kali ini sebagian besar diambil alih oleh para Minions dengan segala tingkah laku antik mereka. Dan bisa ditebak, mereka berhasil membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal sampai rahang kaku. Namun di sisi lain, kehadiran mereka terkadang justru terkesan nggak nyambung dengan narasi intinya yang secara tidak langsung ikut mengambil-alih seluruh perhatian penonton dari alur cerita film ini. Sehingga pada akhirnya, alur cerita Despicable Me 2 justru menjadi sebuah gangguan bagi para penonton karena kita semua lebih tertarik dan lebih menunggu kemunculan para Minions untuk membuat kita tertawa keras lagi, lagi, dan lagi sampai film berakhir daripada konklusi cerita film ini. Dan apabila memang hanya itu tujuan kalian antri bermeter-meter sejak awal, maka kalian saya jamin akan sangat terpuaskan. 

Well, if you’re willing to ask me, whether I like this film or not, jujur, sebagian dari saya sangat menyukai film ini, bahkan saya terdorong untuk menyaksikannya berulang-ulang hanya karena voice acting berkualitas dari Steve Carell, Kristen Wiig, dkk. dan juga keantikan para Minions yang benar-benar ngangenin. I’m a big fan. Tetapi sebagian besar dari saya tidak suka dengan arah yang dibawa oleh Pierre Coffin dan Chris Renaud dalam sekuelnya ini. Saya merasa khawatir bahwa franchise ini hanya akan berakhir menjadi sapi perah saja bagi pihak Universal dan Illumination Entertainment tanpa adanya creative control yang baik (ala Cars 2 dan sekuel-sekuel Ice Age yang buruk), di mana para fans rela membeli bermacam-macam merchandise Minions dan antri panjang untuk membeli tiket sekuel Despicable Me hanya karena ada Minions di dalamnya. Jadi, menilik kualitas Despicable Me 2 yang terjun payung seperti ini, sekarang kita semua paham mengapa pihak Universal dan Illumination Entertainment memutuskan untuk merilis aksi solo para Minions tahun depan. Despicable Me is dead, but Minions are not. Salam Papoy


FUN FACTS :
  • * Despicable Me 2 memuat banyak parodi, ntah disengaja atau sekedar terinspirasi, dari film-film populer, seperti Toy Story 2, Jurassic Park, Harry Potter, bahkan video klip “I Swear” All 4 One.
  • * Anak kecil yang digoda Gru di awal film pertama kembali lagi di film ini. Kali ini ia menangis dua kali.
  • * Mid Credits Scene “Minions Movie Audition” Despicable Me 2 sebenarnya adalah TEASER TRAILER untuk film prequel / spin-off berjudul Minions yang akan dirilis Desember tahun depan.
  • * Kristen Wiig yang mengisi suara Mrs. Hattie di film pertama juga kembali di film kedua. Hanya saja, sekarang ia menjadi Lucy Wilde. 
  • * Theatrical Poster Despicable Me 2 untuk wilayah Amerika memuat 10.400 Minions.
  • * Al Pacino sudah melakukan proses pengambilan suara El Macho, bahkan di trailernya sempat tertulis namanya. Ia tiba-tiba meninggalkan proyek ini di pertengahan.
  • * Pierre Coffin, salah satu sutradara dan pengisi suara para Minions di film ini, adalah anak sastrawan Indonesia, N.H Dini. 


Length : 1049 Words
Essay by : @Elbert_Reyner (twitter)
Rating :  ½






You Might Also Like

3 comments

  1. Saya pun setuju yang filem ini tidak begitu mantap. Agak boring.

    ReplyDelete
  2. yg 3dnya worth it bgt, semlm br nonton bareng family....pop outnya terasa bgt,apalagi di mid credit scene minions audition, effect bubble n lalat yg fly out amazing bgt, ampe anak2 dlm bioskop sibuk berdiri mo nangkap bubble n lalatnya...that's awesome!!!!!

    ReplyDelete
  3. Thanks ya gan udah sharing, thanks kebetulan sedang ada tugas tentang film ni hehe tengkyu bacaanya :)

    ReplyDelete

Just do it.