SURAT CINTA UNTUK KARTINI (2016) REVIEW: CERITA CINTA FIKSI IBU KARTINI

5/02/2016 02:36:00 PM


Setelah kesuksesan luar biasa film Habibie dan Ainun tahun 2012 silam, genre biografi yang mengangkat tokoh penting Indonesia langsung menjadi tren film blockbuster di kalangan sineas dan rumah produksi di Indonesia. Kisah perjuangan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Jendral Sudirman, H.O.S. Tjokroaminoto, sampai Jokowi pun akhirnya diadaptasi ke dalam medium film dengan skala produksi yang tidak main-main.





Tetapi dari begitu banyak film biografi yang dirilis dalam empat tahun terakhir ini, masih sedikit sineas Indonesia yang berani mengangkat tokoh pahlawan perempuan ke layar lebar. Dulu sempat ada film R.A. Kartini (1982) yang diadaptasi oleh Sjuman Djaya dari buku Kartini: Sebuah Biografi tulisan Sitisoemandari Soeroto, kemudian Tjoet Nja’ Dhien (1988) arahan Eros Djarot, dan baru-baru ini yang masih segar di ingatan, Sokola Rimba (2013), yang mengisahkan tentang perjuangan Butet Manurung memberi pendidikan untuk anak-anak rimba di hutan Bukit Duabelas.

Agak mengejutkan sebenarnya bahwa sineas Indonesia membutuhkan waktu lama untuk mengangkat kembali kisah hidup Kartini untuk generasi muda di layar lebar. Setelah versi Sjuman Djaya di tahun 1982, baru pada tahun 2016 ini, MNC Pictures merilis film tentang Kartini berjudul Surat Cinta Untuk Kartini bertepatan pada hari Kartini, 21 April 2016, dan kemudian akan disusul tahun depan oleh film berjudul Kartini besutan Hanung Bramantyo di bawah bendera rumah produksi Legacy Pictures.

Kisah hidup Kartini sebenarnya sudah tak asing dengan penonton saat ini. Selain karena merupakan topik wajib di mata pelajaran Sejarah, sosok karakternya juga sering disadur ulang di film-film Indonesia yang mengangkat latar waktu atau tema serupa. Atas dasar hal inilah, MNC Picutres dan sutradara Azhar Lubis mencoba sesuatu yang berbeda. Mereka mengambil jalan lain untuk menceritakan kisah hidup Kartini, yaitu melalui sudut pandang seorang tukang pos bernama Sarwadi Putra Rajalangit (diperankan oleh Chicco Jerikho).

Pada tahun 1901, paham ‘perempuan pintar tidak bisa dapat jodoh’ adalah norma yang harus dipatuhi oleh semua keluarga di Indonesia. Kaum perempuan saat itu masih dianggap lebih rendah dari laki-laki dan hanya perempuan-perempuan keturunan ningrat saja yang boleh mendapatkan pendidikan. Kartini (diperankan oleh Rania Putrisari) yang berasal dari keluarga ningrat merasa perlakuan ini tidak adil dan memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus anak-anak perempuan pribumi. Ia mencoba menyadarkan masyarakat sekitar bahwa perempuan juga bisa pandai dan mempunyai derajat yang sama dengan laki-laki.

Mendengar hal ini, Sarwadi, tukang pos yang sering mengantar surat ke rumah Kartini, langsung mendaftarkan anaknya, Ningrum, sebagai murid pertama Kartini. Namun ia tak pernah menyangka bahwa apa yang dilakukannya itu tidak hanya mengubah kehidupan putri semata wayangnya, tetapi juga kehidupannya sendiri.

Sejak adegan pembuka film, Surat Cinta Untuk Kartini sudah tampak berjuang keras tampil se-accessible mungkin untuk penonton anak-anak. Seperti suasana ruang kelas modern yang familiar dan anak-anak yang duduk mengelilingi seorang guru TK (diperankan juga oleh Rania Putrisari) di awal film terasa jelas menggambarkan penonton-penonton muda yang sedang duduk manis di dalam bioskop menyaksikan film ini. Kemudian, salah seorang anak di kelas itu mengacungkan tangannya dan melayangkan protes kepada gurunya, kalau ia dan teman-temannya sudah bosan dengan cerita Kartini yang begitu-begitu saja. Komunikasi breaking the fourth wall pun kembali terjadi dengan penonton-penonton muda yang sudah pasti familiar dengan kisah Kartini dan bisa jadi merasa bosan kalau film yang akan ditontonnya ini adalah pengulangan dari cerita yang mereka sudah tahu.

Menjembatani daya tarik penonton anak-anak dengan film biografi seorang pahlawan Indonesia adalah sebuah usaha yang pantas diberi apresiasi lebih. Ketika edukasi konvensional di dalam ruang kelas sudah tak lagi bisa menarik perhatian anak-anak, medium film bisa menjadi alternatif terbaik. Tetapi sayangnya, narasi Surat Cinta Untuk Kartini bisa dibilang terlalu sibuk meladeni penonton anak-anak dan melupakan penonton-penonton dewasa yang ingin menyaksikan interpretasi baru dari kehidupan Kartini yang pendek dan kelam itu.

Pertama, peran dan karakter fiksi Sarwadi digambarkan jauh lebih dominan di film ini dibanding sosok Kartini. Dalam universe Surat Cinta Untuk Kartini, ia merupakan orang paling penting di balik perjuangan Kartini. Sarwadi adalah orang pertama yang setuju dengan paham Kartini dan menjadikan putri semata wayangnya sebagai murid pertama yang diajar oleh Kartini. Sarwadi jugalah yang mencarikan tempat mengajar untuk Kartini dan menyuruh putrinya untuk mengajak semua teman-temannya belajar bersama di sekolah Kartini. Kisah cintanya dengan Kartini pun juga menjadi gambaran dari ketidakadilan hidup dan rendahnya martabat rakyat-rakyat biasa di mata bangsawan dan warga asing kala itu. Sarwadi, secara harafiah, adalah nyawa dan tokoh sentral yang menggerakan semua roda plot cerita di film ini. 

Sebaliknya, sosok Kartini yang begitu penting justru hanya menjadi secuil bagian dari kehidupan Sarwadi dan tidak digambarkan sebagai seorang pahlawan wanita yang memperjuangkan pendidikan untuk perempuan. Semangatnya memperjuangkan pendidikan dan akhir hidupnya yang sangat tragis itu seakan hanya menjadi alat untuk membuat penonton simpati kepada Sarwadi dan untuk membangun konklusi mengejutkan Surat Cinta Untuk Kartini yang ingin tampil mengharu biru, tetapi justru berakhir sebaliknya.

Selain itu, Surat Cinta Untuk Kartini juga sering mengalami kendala bahasa ketika karakter-karakter dari berbagai daerah dan latar belakang itu saling berkomunikasi. Seperti ketika Kartini sedang berbicara dengan orang Belanda, terjadi komunikasi dalam dua bahasa yaitu bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Ketidaklogisan ini juga berlanjut ke penggunaan logat maupun tata bahasa para karakternya di sepanjang film dan semakin menunjukkan perencanaan produksi yang kurang matang. 




Secara keseluruhan, Surat Cinta Untuk Kartini adalah film yang serba nanggung. Film ini tak pernah berhasil untuk menjadi film roman yang menyentuh ataupun film biografi Kartini yang dapat menginspirasi dan memberi pemahaman tentang kehidupan sosial-budaya Indonesia kepada penontonnya, baik yang muda maupun dewasa. Penampilan bintang-bintang papan atas seperti Chicco Jericko pun terasa disia-siakan oleh karakternya yang ditulis dengan buruk dan menjengkelkan. Demikian pula dengan debut Rania Putrisari di layar lebar juga mudah dilupakan begitu saja akibat karakter Kartini-nya yang seolah-olah dibuat hanya untuk menghiasi kehidupan Sarwadi. 


Satu-satunya hal yang mungkin berhasil membuat saya bernafas lega adalah kalimat di penghujung film yang kurang lebih menyatakan bahwa Surat Cinta Untuk Kartini adalah kisah fiksi yang mengambil latar sejarah Kartini. Ya paling tidak, dari segala kekacauan yang ada di film ini, nama baik ibu Kartini sebagai pahlawan pendidikan masih terjaga.





You Might Also Like

0 comments

Just do it.