VAKANSI YANG JANGGAL DAN PENYAKIT LAINNYA (2013): PERJALANAN ABSURD DAN KEAMBIGUITASANNYA YANG JANGGAL
1 star 7/12/2014 02:51:00 PM
2013 / Yosep Anggi Noen / Indonesia / 84 minutes / 1.66:1 / R
Setelah berlalu lalang di layar festival-festival film bergengsi, baik yang berskala nasional maupun internasional sejak tahun 2012 kemarin, Peculiar Vacation and Other Illnesses (atau lebih dikenal dengan judul Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya) akhirnya menyapa publik di bioskop di beberapa kota besar di Indonesia.

2013 / Indonesia / 98 Minutes / Danial Rifki / 1.85:1 / PG
Jika Hollywood menjadikan momen Summer sebagai ladang subur untuk menanam dan menuai investasi besar-besarannya, maka libur Lebaran dapat dikatakan sebagai Summer Momment bagi para produser film Indonesia untuk merilis film-film unggulannya. Penggusuran film-film blockbuster Hollywood dari slot XXI dan Blitzmegaplex biasanya mulai dilakukan pada hari awal libur Lebaran demi memberikan layar sebanyak-banyaknya untuk memutar film-film unggulan tersebut--ya gampangannya, gantian dengan film dari negeri sendiri.

BEAUTIFUL CREATURES
2013 / 124 Minutes / Richard LaGravenese / US / 2.39:1 / PG-13
Demam Harry Potter-Twilight yang melanda kaum eksekutif Hollywood ternyata masih belum menunjukkan tanda-tanda penyurutan meski kedua franchise tersebut sudah menuturkan ceritanya sampai tuntas. Untuk tahun ini saja, di luar film-film adaptasi dongeng klasik yang juga lagi ngetren, cukup banyak film-film-fantasi-yang-berharap-menjadi-franchise akan dirilis di bioskop; termasuk Beautiful Creatures--yang akan kita bahas kali ini, sampai sequel Percy Jackson dan The Hunger Games yang sudah angkat nama terlebih dahulu. Apakah Beautiful Creatures berhasil meluncurkan franchise baru seperti harapan para petinggi Warner Bros.?

G.I JOE RETALIATION
2013 / 110 Minutes / Jon M. Chu / US / 2.39:1 / PG-13
Bagi yang belum tahu betapa "spesialnya" film Dead Mine ini, anda termasuk orang yang beruntung. Dead Mine adalah film perdana produksi HBO Asia yang melakukan proses pengambilan gambar di Sumatra dengan aktor-aktris dari beragam negara, termasuk Indonesia sendiri yang menyumbangkan Joe Taslim, Mike Lewis, Ario Bayu dan Bang Tigor. Ekspetasi para penonton memang hanya sekedar sebuah film horror survival kelas B predictable yang cukup oke buat seru-seruan saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan ternyata performa film ini jauh lebih rendah dari harapan.

Adalah sebuah keajaiban karena di tahun 2012 ini saya tidak perlu menemui film semacam Alvin and the Chipmunks 3 dan dapat menghindari beragam film mandarin yang kualitasnya semacam Sorcerer and the White Snake ataupun Flying Swords of Dragon Gate. Akan tetapi, sepandai-pandainya chipmunks tupai melompat pasti akan jatuh juga. Berikut daftar 10 film terburuk yang tidak sengaja saya tonton tahun ini.

Meski terus dicaci - maki para kritikus semenjak film pertamanya, toh film serial Resident Evil masih tetap saja menjadi film adaptasi game tersukses sepanjang masa hingga terus dilanjutkan sampai seri ke 5nya ini. Kombinasi keseksian Milla Jovovich, budget yang tidak terlalu besar, dan action yang super u4l4y lengkap dengan efek slow motion yang semakin menjadi - jadi di tiap serinya ini bisa dibilang adalah formula utama mengapa franchise tersebut bisa bertahan sampai sekarang : karena film ini adalah guilty pleasure-nya para pria dan geek di seluruh dunia. Lantas, apakah sebenarnya franchise ini masih memiliki harapan atau setidaknya berusaha untuk memperbaiki reputasinya di mata para pecinta film dan kritikus?
Well, not at all.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa film Clash of the Titans memiliki reputasi yang tidak baik di mata para pecinta film; mulai dari kualitas jalan ceritanya, akting hingga adegan aksi-nya yang monoton dan membosankan. Tidak hanya itu, film ini juga sangat mengubah cara pandang para penonton terhadap film - film 3D hasil konversi, berkat kualitas efek 3Dnya yang tidak hanya sekedar ‘tidak terasa sama sekali’, tetapi juga kualitas gambarnya yang gelap dan hancur. Lantas, apa yang membuat Warner Bros begitu menggebu - gebu ingin merilis sequelnya? Well, tentu saja berkat pemasukannya yang sangat menguntungkan : $493 million di seluruh dunia, dari budgetnya yang “hanya” $125 million. Dalam sequel-nya kali ini, Warner Bros mendudukkan Jonathan Liebesman (Battle : Los Angeles) di kursi sutradara, menggantikan Louis Leterrier; menyuntikkan dana yang lebih besar lagi, dan (obviously) memperbaiki kualitas 3Dnya secara menyeluruh. Apakah usaha Warner Bros ini berhasil meningkatkan kualitas Wrath of the Titans dibandingkan dengan predecessor-nya? Well, not really.
Apakah si Rowan Atkinson masih berhasil menyajikan film komedi yang sangat lucu atau malah garing setengah mati? Let's find out.
Sudah pengetahuan umum kalau Jason Statham adalah salah satu bintang film action kelas B di generasi kita ini (meneruskan jejak Arnold Schwarzenegger, Sylvester Stallone, Dolph Lundgren, Van Damme, dsb). Sama seperti mereka, actor satu ini tidak pilih - pilih film. Semua tawaran film diterima olehnya mulai dari yang buruk hingga yang cukup bagus. Uniknya, dalam semua film yang dibintanginya, Jason selalu memerankan karakter yang hampir sama, baik dari penampilan luar dan sifatnya; termasuk dalam Killer Elite ini.
Proyek reboot Conan the Barbarian sebenarnya sudah akan dibuat sejak tahun 2006 lalu, namun banyak sekali halangan yang terjadi mulai ganti - ganti sutradara, sampai perpindahan hak cipta dari Warner Bros ke Paradox Entertainment yang kemudian didistribusi-kan oleh Lionsgate. Marcus Nispel pun ditunjuk sebagai sutradara, dan rasa antusias saya langsung anjlok. Bagaimana tidak, Marcus Nispel adalah sutradara di balik film - film yang kualitasnya di bawah rata - rata : Pathfinder, Friday the 13th remake, Texas Chainsaw Massacre remake, dsb. Belum lagi susunan penulis naskahnya adalah penulis naskah film - film buruk : Dylan Dog dan A Sound of Thunder. Dengan budget sebesar $90 million dan kru - kru yang tidak meyakinkan tersebut, apakah film reboot Conan the Barbarian ini berhasil memenuhi harapan para penonton?
Karir Cameron Diaz bisa dibilang tidak begitu berkembang. Setelah berperan dalam There's Something About Mary, nama Diaz memang langsung tenar dan ia pun dihujani banyak tawaran untuk bermain dalam film - film besar. Lantas mengapa dikatakan tidak begitu berkembang? Well, sama seperti Ashton Kutcher, Cameron Diaz terjebak dengan karakter yang itu - itu saja : ceria, gila, sexy, nakal, bitchy ataupun bad girl. Namun jujur saja, saya sangat menyukai Diaz ketika ia memerankan karakter - karakter dengan sifat seperti itu. Diaz memang sudah berusaha memerankan karakter yang berbeda seperti dalam The Box dan My Sister's Keeper, namun sayangnya, tidak berhasil.
Setelah mendampingi Tom Cruise dalam Knight and Day dan menjadi pemanis belaka di Green Hornet, Diaz kembali memerankan karakter yang kurang lebih sama dengan 2 film tersebut, Bad Teacher. Seperti judulnya, Diaz memerankan seorang guru yang bitchy dan nakal bersama dengan Justin Timberlake dan Jason Segel (ntah kenapa saya sangat membenci aktor satu ini --"). Jujur, setelah melihat trailernya, saya sangat antusias dengan film ini. Saya berpikir film ini akan sangat lucu berkat premise-nya yang menarik dan tentunya Diaz yang kembali ke habitat asalnya. Lantas, apakah film ini berhasil mewujudkan harapan para pencinta film seperti yang dijanjikan dalam trailernya?
Elizabeth Halsey adalah seorang guru dengan sifat yang buruk : licik, kasar, merokok, mengkonsumsi mariyuana, dan hobi berkata - kata kotor. Selain sifatnya yang buruk, Elizabeth juga merupakan cewek matre yang mencari pria kaya untuk menjadi pendamping hidupnya. Setelah diputus oleh pacarnya yang kaya raya, Elizabeth frustasi dan ia pun kehilangan semua barang - barang mewahnya. Namun hanya dalam waktu dekat, Eizabeth berhasil menemukan pria idamanannya : seorang guru kaya raya yang menyukai cewek berdada besar, Scott Delacorte. Elizabeth pun menghalalkan segala cara demi mendapatkan banyak uang untuk operasi plastik sekaligus juga harus bersaing dengan Amy Squirell yang juga menyukai Scott.
Meski disupport oleh premise yang menarik dan Cameron Diaz, Bad Teacher tidak berhasil memenuhi harapan para pecinta film. Film ini tidak selucu seperti yang kita bayangkan. Parahnya lagi, sebagian besar joke - joke-nya yang lucu sudah diselipkan di trailernya. Premise dan konsep Bad Teacher yang terlihat menarik juga tidak berhasil dikembangkan oleh si sutradara maupun penulis naskahnya, sehingga jalan cerita yang diusung Bad Teacher ini terkesan pointless dan hanya sekedar kisah seorang guru yang menabung mati - matian demi mendapatkan dada besar. Jujur saja, Cameron Diaz benar - benar menyelamatkan wajah film ini. Berkat aktingnya yang cemerlang dan enak ditonton, Bad Teacher tidak semembosankan beberapa film komedi buruk yang dirilis baru - baru ini, seperti Hall Pass ataupun the Dilemma, yang juga bertabur bintang, beratting R, dan memiliki premise menarik.
Di luar joke dan ceritanya yang lemah, tingkah laku dan kelicikan si Elizabeth masih cukup menarik untuk diikuti, terutama ketika ia berusaha menjatuhkan musuh bebuyutannya demi mendapatkan cinta Scott ataupun usaha Elizabeth mencari uang dengan segala cara. Walaupun menarik, adegan - adegan tersebut tidak selucu seperti yang kalian bayangkan. Endingnya pun juga terkesan menggampangkan.
Overall, Bad Teacher is a Bad Movie. Satu - satunya kekuatan utama dari film ini adalah Cameron Diaz saja. Dan 1 hal yang bisa dipetik dari film ini dan bisa dijadikan pelajaran bagi sineas - sineas atau bagi para pembaca : jangan memberi judul yang berbau negatif untuk sebuah film. Walau pernyataan ini tidak akurat (Bad Santa dipuji - puji kritikus), namun ada 2 film baru yang berhasil membuktikan judul cukup berpengaruh. X-Men FIRST CLASS dan RISE of the Planet of the Apes (sebelumnya berjudul Caesar) adalah 2 film yang sebelum perilisannya dihujat banyak orang, namun setelah dirilis, film ini melambung begitu tinggi; dipuji - puji kritikus dan sukses besar di tangga box office.
Hold my ball sack!! LOL

+Cameron Diaz's lovely performance.
-Not as funny as it should be.
-Pointless plot.
-Poor Script.
-R rated is only used for mild nudity and profanity.
VERDICT : Watch if you love Cameron Diaz or have a time.
Setelah mendampingi Tom Cruise dalam Knight and Day dan menjadi pemanis belaka di Green Hornet, Diaz kembali memerankan karakter yang kurang lebih sama dengan 2 film tersebut, Bad Teacher. Seperti judulnya, Diaz memerankan seorang guru yang bitchy dan nakal bersama dengan Justin Timberlake dan Jason Segel (ntah kenapa saya sangat membenci aktor satu ini --"). Jujur, setelah melihat trailernya, saya sangat antusias dengan film ini. Saya berpikir film ini akan sangat lucu berkat premise-nya yang menarik dan tentunya Diaz yang kembali ke habitat asalnya. Lantas, apakah film ini berhasil mewujudkan harapan para pencinta film seperti yang dijanjikan dalam trailernya?
Elizabeth Halsey adalah seorang guru dengan sifat yang buruk : licik, kasar, merokok, mengkonsumsi mariyuana, dan hobi berkata - kata kotor. Selain sifatnya yang buruk, Elizabeth juga merupakan cewek matre yang mencari pria kaya untuk menjadi pendamping hidupnya. Setelah diputus oleh pacarnya yang kaya raya, Elizabeth frustasi dan ia pun kehilangan semua barang - barang mewahnya. Namun hanya dalam waktu dekat, Eizabeth berhasil menemukan pria idamanannya : seorang guru kaya raya yang menyukai cewek berdada besar, Scott Delacorte. Elizabeth pun menghalalkan segala cara demi mendapatkan banyak uang untuk operasi plastik sekaligus juga harus bersaing dengan Amy Squirell yang juga menyukai Scott.
Meski disupport oleh premise yang menarik dan Cameron Diaz, Bad Teacher tidak berhasil memenuhi harapan para pecinta film. Film ini tidak selucu seperti yang kita bayangkan. Parahnya lagi, sebagian besar joke - joke-nya yang lucu sudah diselipkan di trailernya. Premise dan konsep Bad Teacher yang terlihat menarik juga tidak berhasil dikembangkan oleh si sutradara maupun penulis naskahnya, sehingga jalan cerita yang diusung Bad Teacher ini terkesan pointless dan hanya sekedar kisah seorang guru yang menabung mati - matian demi mendapatkan dada besar. Jujur saja, Cameron Diaz benar - benar menyelamatkan wajah film ini. Berkat aktingnya yang cemerlang dan enak ditonton, Bad Teacher tidak semembosankan beberapa film komedi buruk yang dirilis baru - baru ini, seperti Hall Pass ataupun the Dilemma, yang juga bertabur bintang, beratting R, dan memiliki premise menarik.
Di luar joke dan ceritanya yang lemah, tingkah laku dan kelicikan si Elizabeth masih cukup menarik untuk diikuti, terutama ketika ia berusaha menjatuhkan musuh bebuyutannya demi mendapatkan cinta Scott ataupun usaha Elizabeth mencari uang dengan segala cara. Walaupun menarik, adegan - adegan tersebut tidak selucu seperti yang kalian bayangkan. Endingnya pun juga terkesan menggampangkan.
Overall, Bad Teacher is a Bad Movie. Satu - satunya kekuatan utama dari film ini adalah Cameron Diaz saja. Dan 1 hal yang bisa dipetik dari film ini dan bisa dijadikan pelajaran bagi sineas - sineas atau bagi para pembaca : jangan memberi judul yang berbau negatif untuk sebuah film. Walau pernyataan ini tidak akurat (Bad Santa dipuji - puji kritikus), namun ada 2 film baru yang berhasil membuktikan judul cukup berpengaruh. X-Men FIRST CLASS dan RISE of the Planet of the Apes (sebelumnya berjudul Caesar) adalah 2 film yang sebelum perilisannya dihujat banyak orang, namun setelah dirilis, film ini melambung begitu tinggi; dipuji - puji kritikus dan sukses besar di tangga box office.
Hold my ball sack!! LOL

+Cameron Diaz's lovely performance.
-Not as funny as it should be.
-Pointless plot.
-Poor Script.
-R rated is only used for mild nudity and profanity.
VERDICT : Watch if you love Cameron Diaz or have a time.