Fast Five Review

8/13/2011 08:21:00 PM

Fast Five adalah sequel ke 4 dari film the Fast and the Furious yang secara tak terduga sukses luar biasa ketika film pertamanya dirilis tahun 2001 lalu dan menjadi franchise paling menguntungkan milik Universal studio. Meski sukses luar biasa dan digemari remaja yang menyukai mobil, film ini dihujat kritikus karena jalan ceritanya yang buruk. Meski sukses, franchise ini sempat terhenti di film ketiga : the Fast and the Furious Tokyo Drift (2006) yang gagal total di Box Office America. Belajar dari kesalahan, 3 tahun kemudian, Universal kembali merilis film ke 4 dengan hanya menghilangkan 'the' di judulnya : Fast and Furious. Seri ini kembali menghadirkan Vin Diesel dan Paul Walker. Dan bisa ditebak, film ini meledak dan meraup keuntungan sebesar US$363 million. Kesuksesan luar biasa ini membuat Universal kembali menggarap sequel ke 4nya dengan menghadirkan hampir semua karakter dari saga Fast and Furious ditambah dengan Dwayne Johnson. Dengan bintang - bintang kelas berat dan budget besar, Fast Five sungguh membuat para fans-nya tak sabar menunggu film ini. Namun, apakah film ini akan kembali dihujat kritikus seperti film - film sebelumnya?


Setelah membebaskan Dominic Torettodari penjara, Brian O'Connor dan kekasihnya, Mia Toretto, menjadi buronan dan mereka bertiga bersembunyi di Rio De Janerio. Di sana, mereka bertemu dengan teman lama Dominic, Vincent dan kemudian merencanakan untuk merampok mobil sitaan di kereta api untuk dijual secara ilegal. Ternyata mobil tersebut bukan mobil sembarangan karena menyimpan sesuatu yang sangat penting bagi Reyes, raja kriminal di Rio dan membuat mereka diburu pasukannya. Masalah bertambah pelik ketika muncul Agen Hobbs, yang diutus pemerintah untuk memburu Dominic dan kawan - kawan.
Jujur, saya bukan fans dari Fast and Furious saga karena tidak menggemari mobil sama sekali, meski sudah menonton setiap seri-nya dan hanya menganggapnya sebagai 'film action dengan balapan dan bumbu cerita yang standard'. Namun installment terbaru ini benar - benar membawa nafas baru terhadap franchise yang telah berusia 10 tahun tersebut. Beragam perubahan dilakukan dan banyak yang menimbulkan efek positif, walaupun juga ada beberapa efek negatifnya.
Dari sisi positifnya, Fast Five adalah film Fast and Furious terbaik. Cerita yang disajikan, walaupun simple dan tidak orisinil, cukup bisa membuat para penonton terpaku di layar. Tidak seperti seri - seri sebelumnya yang lebih menitik beratkan pada kriminalitas dunia street racing, Fast Five kali ini justru menghadirkan kisah perampokkan. Namun perubahan ini justru, bagi saya, adalah hal yang positif karena membuat franchise ini tampak fresh dan tidak membosankan.
Di luar story yang baru, Fast Five juga menghadirkan adegan aksi yang memukau, meski sangat tidak masuk akal dan melanggar hukum Fisika. Adegan aksi yang ada memang tidak selebay dan tidak sedahsyat Transformers 3 baru - baru ini, namun cukup kreatif dan jujur saja, adegan aksi di film ini berhasil membuat saya tegang dan beberapa kali tertawa lepas karena kegilaannya serta melupakan plot hole yang terdapat di film ini.
Adegan aksi boleh jadi kekuatan utamanya, namun karakter dan akting yang disuguhkan ternyata masih cukup baik dan standard. Human drama yang dihadirkan juga lebih bagus (walau masih kurang) daripada film - film terdahulunya dan membuat karakternya tampak tidak terlalu dua dimensi (benar - benar jahat, satunya benar - benar baik).
Sekarang dari sisi negatifnya. Sebenarnya sisi negatif ini kebanyakan dirasakan oleh para fans atau penggemar  mobil. UPPSS... Yeah, TIDAK ada balapan mobil menegangkan ataupun mobil - mobil cantik seperti yang ada dalam film - film terdahulunya. Sebenarnya, Justin Lin (sutradara yang menangani Tokyo Drift dan FF4) memiliki kesempatan untuk menyisipkan adegan balapan mobil ini di beberapa adegan (saya tidak membahas adegan - adegan tersebut karena masalah spoiler). Tetapi bisa jadi, adegan balapan tersebut disimpan untuk extended cut di blu-ray-nya (well, who knows. Money talks, sir) atau memang benar - benar dihilangkan karena masalah budget dan durasi. Bagi fans fanatik Fast and Furious, film ini bisa jadi adalah film terburuk dari saga Fast and Furious atau bahkan menganggapnya bukan film Fast and Furious. So, pasang ekspetasi anda sebaik - baiknya. Dan lucunya lagi, Transformers 3 malah lebih 'Fast and Furious' daripada sequel Fast and Furious itu sendiri, karena lebih banyak menghadirkan banyak mobil - mobil keren.
Overall, Fast Five adalah film action yang bagus, fun, dan menghibur. Para sineas hollywood, terutama Michael (le)Bay, bisa belajar dari film ini. Untuk membuat sebuah film action yang bagus dan fun, tidak perlu cerita yang bikin pusing kepala (meski kalau bisa malah lebih bagus :P), namun yang diperlukan adalah bagaimana cara menyajikan alur cerita yang mengalir tegas dan bagaimana meracik serta menterjemahkan naskah yang bisa membuat penonton terhanyut, meski adegan tersebut adalah drama. Well, bagi yang tidak mengerti maksud saya, berikut beberapa contoh film aksi yang enak dilihat walau ceritanya ringan : Red, Die Hard 5, Wanted, Shoot 'Em Up, dsb.




+Fantastic action sequences.
+The best Fast and Furious yet.


-No more street race.
-No beautiful cars in action.
-Implausible plot and some minor plot holes.


VERDICT : RECOMMENDED.





You Might Also Like

2 comments

  1. captain america! jangan lupa ingetin aku lagi! lalalala :D

    ReplyDelete
  2. awal September katae. Awas yo lek sampek ga iso!! Aku pasti nonton hari pertama :D

    ReplyDelete

Just do it.