TENDANGAN DARI LANGIT REVIEW

8/29/2011 06:45:00 PM

Hanung Bramantyo adalah salah satu sutradara film papan atas di Indonesia. Meski waktu lalu namanya sempat tercemar akibat pernyataannya yang katanya tidak pernah dikatakannya kalau Indonesia tidak butuh film Hollywood, film - film Hanung ternyata masih dinanti - nantikan banyak orang. Setelah merilis film - film bertema religius seperti Ayat - Ayat Cinta ataupun Tanda Tanya, Hanung kini mencoba menggarap film olahraga berjudul Tendangan dari Langit. Sama seperti film - filmnya yang terdahulu, Tendangan dari Langit kembali menyinggung masalah sosial di Indonesia yang kini berfokus pada dunia persepakbolaan di Indonesia. Setelah beberapa hari dirilis, film ini menuai pujian dan mendapatkan review positif dari banyak orang sehingga membuat saya tertarik untuk menonton Tendangan dari Langit. Tetapi apakah film ini memang benar - benar bagus atau malah overrated?



Wahyu adalah seorang remaja yang mempunyai bakat luar biasa dalam bermain sepak bola. Setiap pertandingan yang diadakan di desa-nya selalu berhasil dimenangkannya. Sayangnya, ayahnya sangat membenci sepak bola dan melarang Wahyu bermain sepak bola, bahkan ayahnya sampai tega membakar sepatu sepak bola milik Wahyu. Usut punya usut, ternyata ayah Wahyu dulu adalah pemain sepak bola juga yang sayangnya cidera di kakinya membuat dia tidak bisa bermain bola lagi.
Suatu hari, Wahyu menyelamatkan anak - anak pelatih Persema ketika ia berada di Malang untuk mendukung temannya yang ikut lomba debat. Pertemuannya dengan si pelatih ini berhasil membawa titik terang dalam hidupnya. Berkat dorongan dari teman - temannya, pelatih bola bernama Pak Lek Hasan dan ayahnya yang berubah pikiran karena melihat anaknya yang begitu cinta pada sepak bola, Wahyu akhirnya berhasil meraih apa yang telah diinginkannya sejak lama.

Familiar?
Ya, tebakan anda benar. Hanung ternyata menggunakan formula yang sama dengan film bertema olahraga lainnya dalam Tendangan dari Langit. Hampir setiap aspek yang disuguhkan di film ini bukan hal yang baru, mulai dari from zero to hero, sang pujaan hati terpesona dengan kegigihan si tokoh utama dan akhirnya jatuh cinta, ayah tokoh utama yang membenci olahraga, hingga pertandingan yang bisa ditebak; semuanya bisa ditemui di film ini. Sungguh amat disayangkan karena saya lebih mengharapkan drama olahraga yang emosional dan orisinil yang sesungguhnya bisa disajikan di film ini. Sayangnya, film ini malah seperti film olahraga milik hollywood kebanyakan dengan setting tempat yang berbeda saja.
Selain kisah yang sangat klise, karakter yang dihadirkan menurut saya juga tidak menyenangkan. Meski tokoh - tokoh central yang dihadirkan cukup baik, namun tidak dengan karakter teman - teman Wahyu. Mereka justru sangat memuakkan : ada yang sangat menyukai puisi dan semua dialognya diganti dengan puisi (diperankan Joshua Suherman, si anak ajaib yang suka obok - obok air), cowok yang tingkah laku-nya kampungan, si pujaan hati yang tidak bisa berakting dan lain - lain. Memang para penonton banyak yang tertawa terbahak - bahak melihat tingkah mereka, namun sayangnya humor tersebut tidak cocok untuk saya karena kesannya kampungan dan tidak masuk akal seperti di sinetron - sinetron. Satu - satunya karakter yang saya sukai di film ini adalah Pak Lek, pelatih bola di desa yang diperankan oleh Agus Kuncoro. Aktingnya bagus, menyenangkan, natural, dan berhasil mendominasi layar di setiap kemunculannya. Selain itu Sudjiwo Tedjo yang memerankan ayah Wahyu juga berakting bagus, walau sayangnya screen time-nya sangat sedikit.
Sedangkan untuk naskahnya yang ditulis oleh Fajar Nugroho, cukup berhasil menyuguhkan alur yang stabil dan tidak membosankan. Beberapa dialog cerdas yang mengkritik dunia persepak bolaan di Indonesia pun juga berhasil diselipkan. Namun sayangnya, Fajar juga terlalu ambisi memasukkan scene - scene yang terlihat bagus / lucu di kertas tetapi malah tampak absurd dan tidak logis ketika diterjemahkan di layar, seperti scene ketika beberapa karakter jauh - jauh dari Bromo ke Gramedia untuk cari buku saja, kisah cinta segitiga yang terlihat dipaksakan, murid SMA yang tidak bisa membaca "Don't Judge a book by its cover", karakter - karakter yang dengan mudahnya mengambil keputusan, dan masih banyak lagi (kalau diceritakan nanti malah spoiler :P) Meski demikian, Hanung cukup baik dalam memvisualisasikan naskahnya dengan cinematography yang indah.
Overall, Tendangan dari Langit adalah film yang mengecewakan, apalagi film ini digarap oleh Hanung Bramantyo, sutradara film Tanda Tanya yang berhasil memukau saya. Posternya juga bisa menimbulkan salah persepsi. Wajah Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan tampak mendominasi di poster, padahal peran mereka hanya berlari - lari dan tersenyum saja di film ini. Selain itu, pertandingan bola yang disuguhkan juga biasa - biasa saja. Meski demikian, bagi yang menyukai bola ataupun yang mempunyai banyak waktu luang di liburan Idul Fitri ini, Tendangan dari Langit masih layak dijadikan tontonan ringan bersama keluarga ataupun teman - teman, terlebih ini adalah kesempatan langka untuk menyaksikan pertandingan sepak bola di layar lebar.

You Might Also Like

0 comments

Just do it.