THE DARK KNIGHT RISES (2012) REVIEW

7/28/2012 04:17:00 PM



Setelah menyuguhkan Batman Begins dan The Dark Knight yang disambut sangat luar biasa oleh seluruh masyarakat dunia, banyak pihak yang menyangsikan bahwa The Dark Knight Rises akan mengikuti pakem trilogi Spider-Man versi Sam Raimi yang gagal memukau para penonton lewat film Spider-Man 3nya. Belum lagi ekspetasi tinggi para pecinta film dan juga keliaran media - media dalam mencari berita serta membuat analisa / prediksi sinting mengenai plot dalam The Dark Knight Rises membuat hype film ini melesat ke level yang unbelievable. Dengan tanggung jawab dan tekanan yang begitu besar, tidak heran apabila hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa Nolan sempat menolak untuk membuat sequel The Dark Knight, kecuali kualitas naskah film ketiganya tersebut sanggup melampaui dua film sebelumnya. Dan seperti yang kita semua ketahui, TDKR telah dirilis di bioskop - bioskop seluruh dunia. Apakah ini berarti TDKR sanggup melampaui kualitas The Dark Knight dan Batman Begins? 


Jujur, sebelum menyaksikan film ini, saya sendiri tidak bisa membayangkan sebuah rangkaian plot film Batman yang dapat melebihi kualitas The Dark Knight. Dan apa yang disajikan Christopher Nolan berserta tim penulis naskahnya dalam film ini sungguh luar biasa dan sanggup melampaui ekspetasi para cinephiles yang sudah begitu tinggi terhadap film TDKR ini.  
Kisah dalam TDKR mengambil setting 8 tahun paska ending dalam film The Dark Knight. Bruce Wayne (Christian Bale) tenggelam dalam rasa kehilangan dan penyesalan atas kegagalan dirinya untuk menjadi simbol Gotham City melalui alter ego Batman. Dan selama itu pula, Gotham City hidup dalam ketentraman. Namun, kedamaian tersebut tidak berlangsung lama karena muncul sesosok misterius bernama Bane (Tom Hardy) yang mulai melakukan aksi terror-nya di Gotham City. Belum lagi kemunculan Catwoman (Selina Kyle), seorang pencuri profesional yang misterius, memaksa Bruce Wayne untuk mengenakan jubah Batman kembali karena hanya ia satu - satunya yang dapat menyelamatkan Gotham City dari kehancuran.

Dalam durasi 165 menit, Nolan berhasil menyajikan sebuah film yang tidak hanya berhasil (sedikit) melampaui kualitas film sebelumnya, tetapi juga berhasil menutup kisah Batman-nya dengan sangat sempurna, spektakuler, dan memuaskan. Namun, perlu dicatat bahwa puas tidaknya para penonton terhadap film TDKR ini tergantung apakah mereka sudah menonton dan masih ingat dengan kisah dalam film Batman Begins ataupun TDK. Karena bisa dibilang, film trilogi Batman besutan Nolan ini mengikuti konsep gambar lingkaran, di mana dengan kata lain, TDKR memiliki hubungan yang sangat erat dengan titik awal mula lingkaran tersebut, yakni film Batman Begins itu sendiri. Sehingga, untuk dapat merasakan emotional punch yang kuat dan menikmati setiap menitnya semaksimal mungkin, para penonton jelas membutuhkan pondasi dari film - film sebelumnya. 

Durasi-nya yang panjang itu sama sekali tidak terasa membosankan. Pace film terasa begitu solid dan merata dalam menuturkan tiap bait narasi babak pamungkas yang ingin disampaikan oleh Nolan. Tiap adegan demi adegan bersatu padu dengan sangat baik dalam membangun intensitas ketegangan dari awal hingga akhir film yang akan membuat para penonton sangat menyesal apabila mereka harus berlari ke toilet di pertengahan film.  Cerita yang disajikan juga tidak kalah kompleks dengan installment Batman sebelumnya; tentu dengan rentetan twist dan pengembangan cerita khas Nolan yang sangat mudah untuk membuat seluruh perhatian para penonton terus terpaku di layar. Dan menurut saya, TDKR adalah ajang pembuktian bahwa kemampuan Christopher Nolan dalam membuat film telah meningkat sangat tajam seiring dengan proses belajarnya dari berbagai pengalaman dan kritikan yang ia dapat dari karya - karya sebelumnya, di mana perkembangan cerita dan karakter dalam film ini terasa sangat rich dan kuat. Tidak hanya itu, The Dark Knight Rises juga berhasil menyajikan sebuah ending yang sangat memuaskan, mengharukan dan mengejutkan bagi semua pecinta film dan fans setia Batman hingga membuat seluruh penonton di bioskop tidak segan untuk memberi tepuk tangan riuh untuk Christopher Nolan ketika film telah usai (terjadi pada saat saya menontonnya di IMAX Gandaria City).

Nolan bersaudara beserta dengan David S. Goyer terlihat jelas bahwa mereka sudah merencanakan konsep film Batman ini menjadi sebuah trilogi. Kisah pertama-nya, Batman Begins, menuturkan sebuah proses dan perkembangan karakter Bruce Wayne hingga menjadi seorang pembela kebenaran bernama Batman. Tema dalam film ini adalah Fear dan diwakili oleh tokoh antagonisnya, Scarecrow. Nolan memang termasuk sineas yang minim pengalaman pada waktu itu, tetapi ia berhasil menepis segala keraguan dari para pecinta film dan justru berhasil memberi nafas baru tidak hanya terhadap franchise Batman, tetapi juga pada seluruh film superhero adaptasi buku komik. Konsep dan cara Nolan bercerita yang begitu bagus, realistis, dewasa, dark, detail, dan tidak terburu - buru telah menjadi template dan mengubah segala konsep film - film superhero sampai sekarang ini.

Setelah kesuksesan film pertamanya baik secara kualitas maupun pendapatannya, Nolan kembali melanjutkan kisah Batman-nya itu melalui film The Dark Knight. Tema yang diambil kini adalah Fall dan diwakili oleh tokoh antagonis Batman yang paling terkenal : Joker (dan Nolan benar - benar mengerti apa arti “tokoh antagonis besar”). Dengan mengkasting Heath Ledger sebagai Joker, ia menciptakan sebuah masterpiece yang thought provoking, tak terlupakan dan dipuji - puji sebagai film superhero terbaik sepanjang masa. Joker begitu berhasil menguji kemampuan Batman dengan ingin membuktikan bahwa apa yang ia lakukan bersama Harvey Dent itu sia - sia. Dan hal inilah merupakan salah satu bagian yang ditakutkan para pecinta film dan fans Batman : apakah tokoh antagonis dalam TDKR berhasil melebihi kecerdasan dan kemampuan Joker dalam menerkam Batman?

Secara keseluruhan, Bane adalah tokoh antagonis yang powerful dan melebihi kemampuan Batman baik dari segi kecerdasan dan kemampuan bertarungnya. Namun, jika dipandang dari segi scene stealer-nya, Bane jelas kalah telak dengan Joker. Bane tidak memiliki selera dark humor yang kocak ataupun kemampuan memanipulasi orang hanya melalui percakapan seperti yang dimiliki Joker. Meski demikian, kemampuannya “menginjak - injak” Batman ataupun susunan rencananya menghancurkan Gotham yang jenius tidak bisa dianggap remeh. Peforma Tom Hardy sebagai Bane termasuk sangat bagus dan bisa memberi curahan emosional ataupun aura yang membuat bulu kuduk berdiri hanya melalui tatapan mata, bahasa tubuh serta suara-nya yang amazing itu. Dan tidak seperti Joker, karakter Bane memiliki back story yang disajikan cukup baik dan jelas, walau terkesan terlalu singkat.

Untungnya, Christian Bale tidak kembali mengulang kesalahan yang sama seperti dalam TDK. Performa Bale dalam film ini merupakan salah satu performa akting terbaiknya dan berhasil menyeimbangi lawan mainnya. Demikian pula dengan Anne Hathaway yang sukses menepis segala keraguan para cinephiles dan fans Batman atas perannya sebagai Catwoman / Selina Kyle yang sangat menarik itu. 
Dari segi adegan aksi, Nolan telah mengerahkan segala imajinasi dan kemampuannya dalam TDKR ini dengan berbagai ledakan bombastis dan visual effects yang spektakuler. Tidak seperti gaya Michael Bay yang monoton dan membosankan itu, adegan aksi dalam TDKR dihadirkan sangat intens, pas dan berhasil terlarut secara sepurna dengan plot yang diusung film ini. 

Dan tidak hanya Nolan sendiri yang habis - habisan, cinematographer pemenang piala Oscar kepercayaan Nolan, Wally Pfister kembali menunjukkan kualitas cinematography yang dahsyat dalam merekam tiap adegan dalam TDKR. Hans Zimmer selaku komposer film ini juga menghadirkan karya-nya yang paling megah dan sukses memperkuat setiap adegan dalam TDKR menjadi begitu epic, spektakuler dan memberi mood yang sangat pas, meski ia ditinggalkan oleh James Newton Howard, rekan seperjuangannya dalam Batman Begins dan The Dark Knight. 

Overall, The Dark Knight Rises berhasil melampaui segala ekspetasi tinggi para penonton dan menghadirkan sebuah cinematic experience yang sangat tak terlupakan (apalagi anda menontonnya di IMAX). Nolan telah belajar banyak dari kesalahan - kesalahan kecilnya dalam Batman Begins ataupun The Dark Knight. Dan hasilnya? The Dark Knight Rises tidak hanya menjadi sebuah babak penutup yang amazing dan membuat trilogi Batman ini menjadi sekelas dengan trilogi The Lord of the Rings saja, but it’s also (one of) the greatest film I've ever seen. 


You Might Also Like

6 comments

  1. Film yang sangat bagus dan melebihi ekpektasi, cuman kalau dibandingan TDK yg masterpiece itu masih kalah hehe. Tapi yang jelas trilogi TDK ini trilogi film terbaik yang pernah ada..

    Tambahan, akting Bale di dua film sebelumnya gak ada yg salah kok menurutku, dan lagi Nolan itu gak begitu suka menggunakan visual efek (terlihat hanya di bbrpa scene) jadi kalau ada anggapan TDKR penuh visual efek itu salah besar.. hehe

    ReplyDelete
  2. Visual effects tidak selalu identik dengan CGI kok. Efek visual adalah suatu teknik untuk "menipu" penontonnya agar adegan - adegan mustahil dalam film tersebut terlihat nyata. Jadi nggak serta merta berhubungan dengan CGI saja. Sebagai contoh : Ikan hiu dalam film Jaws (1975) atau berbagai adegan dalam 2001 : A Space Odyssey (1968). Itu sudah termasuk visual effects walau dia tidak menggunakan CGI.
    TDKR jelas penuh dengan visual effects, namun minim dalam penggunaan CGI. Bahkan TDK sendiri juga masuk nominasi Best Visual Effects pada ajang Oscar. Nah,kalau tidak penuh visual effects, gimana bisa masuk nominasi? :p

    ReplyDelete
  3. Menurut saya, TDK dan TDKR itu sama bagusnya. Mungkin cuma kalah di sisi villain saja :)

    Trus akting Bale di TDK menurut saya bener2 tergusur dengan pesona Heath Ledger sebagai Joker. Hehe

    ReplyDelete
  4. @Anonymous:
    Klo bro mampir pas syuting-nya TDKR, atau semua film Bats nya Nolan, kaget bisa2 lho bro karna isinya green screen semua... wkwkwk...

    Klo nggak ada SFX bisa habis model film kaya Batman ini... XD

    ReplyDelete
  5. Aku setuju tuh, 5/5, dengan Plot yang rapi dan nggak boring, dan pembagian scene karakter yang pas, udah cukup buat aku jadi enjoy banget buat nntn, yang kemarinnya, aku kira, contoh aja Catwoman, yang ngga sepenuhnya dapet peran, ternyata ngisi dan penting banget! amazing for nolan. :), dan Scoring dari Hans Zimmer, bener" menggugah suasana hati, membuat suasana jadi lebih kedalam film! AWESOME! dan satu lagi, endingnya sedihnya dapet, MEMORABLE! Nice review. :P

    ReplyDelete
  6. Justru ini seri Batman Triolgy nya Nolan yang paling lemah. Mungkin karena sudah terbius dengan versi nya TDK. Melihat film ini justru menimbulkan banyak kanibalisme karakter dan plot hole yang cukup banyak.

    ReplyDelete

Just do it.