LES MISÉRABLES (2012) : A CINEMATIC GRANDEUR

1/15/2013 11:33:00 PM



LES MISÉRABLES
2012 / 157 Minutes / Tom Hooper / US / 1.85:1 Aspect Ratio / PG-13

Pernah menyaksikannya atau tidak, perasaan familiar pasti akan menggelitik telinga anda ketika mendengar kata “Les Miserables”. Ya, Les Miserables (berasal dari Bahasa Prancis yang berarti ‘sengsara’) adalah salah satu pertujukan opera paling terkenal sepanjang masa dan bahkan sudah menjadi bagian dari kebudayaan dunia sampai saat ini. Film besutan Tom Hooper ini sebenarnya bukanlah film pertama yang mengadaptasi novel buah karya Victor Hugo berjudul sama tersebut karena sudah banyak film dan serial TV yang mengangkat kisahnya. Namun, sebagai film yang mengadaptasi drama opera-nya, Les Miserables versi terbaru ini adalah yang pertama.




I dreamed a dream in time gone by.

Di jaman yang serba modern ini, Les Miserables konon sama sekali tidak mengkhianati alur cerita dalam novelnya yang sudah terbit sejak dua abad lalu. Jean Valjean (Hugh Jackman) adalah seorang tahanan 24601 yang dijadikan budak selama 19 tahun hanya karena mencuri sepotong roti supaya adiknya tidak mati kelaparan. 

Setelah menjalani hukumannya dengan sungguh-sungguh, ia mendapatkan kebebasannya kembali dari seorang inspektur bernama Javert (Rusell Crowe). Akan tetapi, reputasi Jean sudah terlanjur buruk di mata masyarakat sehingga mau tidak mau ia harus menjalani hidupnya dalam kemiskinan, tanpa pekerjaan dan mendapat intimidasi tajam dari penduduk. Untungnya, hidup tokoh utama kita ini yang penuh kesengsaraan ini berubah drastis ketika ia bertemu dengan seorang pastor baik hati. Kehidupan barunya tersebut kemudian membawa Jean berhadapan dengan beragam karakter hingga harus terlibat dalam pemberontakan di Perancis. 

Secara keseluruhan, set-up dan formula plot yang diusung Les Miserables dapat dikatakan mirip dengan film klasik Ben-Hur (1959)--dan film-film sejenis--lengkap dengan tema religiusnya yang kental, konsep biografisnya, dan juga jangka waktu yang sangat panjang (The Sound of Music-1965). 

Les Miserables memulai untaian kisahnya dari nol, ketika karakter utamanya masih seperti “kain bersih” yang siap diisi dengan beragam sepuhan warna lika-liku narasi kehidupan yang kompleks dan perubahan yang mendetail--di mana jelas hasilnya akan membuat hubungan karakter-karakter tersebut terasa lebih dekat dengan penonton. 

Tom Hooper bertaruh tinggi dengan memakai konsep narasi biografis terhadap sebuah film fiksi (yang mana sudah sangat jarang ditemui ini) demi memperkuat kesan old-fashioned dan nuansa klasiknya. Namun pada kenyataannya, keputusan Hooper ini berdampak besar pada kualitas narasi dan perguliran plot dalam Les Miserables yang menjadi terasa begitu renyah di hati dan lebih lekat di memori para penonton apabila dibandingkan dengan film bernarasi modern kebanyakan.  


Breathtaking melodies that will leave you... breathless.

Tidak hanya kualitas narasinya saja yang luar biasa, alunan melodi yang indah juga menjadi nyawa utama Les Miserables yang membuat film ini sedikit berbeda dengan film-film drama musikal lainnya. Sayangnya, hal ini membuat Les Miserables tidak dapat merampas hati semua penonton karena 95% dari durasi 157 menitnya terdiri dari nyanyian-nyanyian indah yang jelas akan mendatangkan kesengsaraan tersendiri, terutama bagi yang belum siap menerima kenyataan bahwa Les Miserables adalah film musikal (penonton awam yang tertipu dengan posternya)

Namun, bagi beberapa penonton yang berhasil beradaptasi--meski bukan pecinta drama musikal sekalipun, Les Miserables tidak diragukan lagi akan menjadi salah satu film drama paling emosional yang pernah mereka saksikan dan tidak akan begitu mudah terlupakan berhari-hari setelah mereka keluar dari bioskop.

Dan itu semua karena setiap lagu yang terlantun dalam Les Miserables ini memiliki makna dan bukanlah sekedar alat untuk mengutarakan dialog agar terdengar lebih baik dan bermelodi, atau gampangannya seperti lagu-lagu di film Disney. 


Lagu di film ini memiliki peran yang jauh lebih besar dari itu. Setiap lagu yang dinyanyikan terasa sangat pas dan begitu berhasil mengekspresikan perasaan kompleks tiap karakternya dengan sangat kuat dan hal ini berdampak jauh lebih besar terhadap psikologis para penonton apabila dibandingkan dengan sekedar penggunaan bahasa visual saja. 

Para penonton tidak perlu menganalisis susah-susah dan membuka hatinya lebar-lebar untuk dapat ikut merasakan kesengsaraan, tekanan, kebahagiaan, kegelisahan yang dialami karakter-karakter utama dalam film Les Miserables ini. Dan inilah sebuah keindahan yang jarang dimiliki oleh film musikal lainnya karena Les Miserables dapat dikatakan begitu piawai dalam menyodorkan seni kombinasi audio-visual secara maksimal. 

Namun, perlu dicatat bahwa semua hal di atas tidak akan memberi hasil yang maksimal tanpa pendekatan inovatif yang telah dilakukan oleh Tom Hooper, di mana para aktor-aktrisnya “dipaksa” untuk bernyanyi sungguhan secara live pada saat syuting pengambilan gambar. Dan percaya atau tidak, teknik ini adalah yang pertama kali dilakukan di dalam sebuah film musikal. Hasilnya, seperti yang sudah tertulis di atas, kesan emosionalnya jauh lebih terasa dan tiap alunan melodinya akan bergaul akrab dengan memori para penonton.


Breaking news : Catwoman, Wolverine and Gladiator can sing.

Tidak berhenti sampai di situ saja, jajaran A-lister yang terlibat telah memberikan performa terbaik mereka yang sangat luar biasa dan sanggup bekerja sama dengan metode inovatif Hooper tadi itu, terutama untuk Hugh Jackman, Anne Hathaway, dan Samantha Barks (sebagai Emponine). 

Tembang ‘I Dreamed a Dream’ yang dibawakan Anne Hathaway sendiri begitu menggetarkan hati dan sudah lebih dari cukup untuk membayar lunas harga tiket anda (well, at least for me), sehingga akan sangat WOW apabila Anne tidak keluar sebagai pemenang Oscar tahun 2013 ini (meski screen-timenya sedikit).

Hugh Jackman yang berperan sebagai Jean Valjean berhasil menyuguhkan kualitas performa yang tak diduga akan dimiliki oleh seorang Wolverine. Ia sanggup membuang jauh sosok Wolverine dalam dirinya dan menunjukkan citra diri seorang Jean Valjean yang bersahaja dengan amat sempurna. 

Di bagian karakter pendukung, Sacha Baron Cohen kembali menjadi scene stealer di film berskala Oscar, di mana karakter yang ia perankan ini serupa tapi tak sama dengan karakter inspektur yang ia perankan di film Hugo. Keputusannya untuk menolak peran dalam film Django Unchained agar dapat bergabung dengan keluarga besar Les Miserables ini dapat dikatakan sebagai keputusan yang tepat guna meningkatkan gengsi maupun reputasinya di mata kritikus dan pecinta film. Helena Bonham Carter terpilih untuk mendampingi karakter nyentrik Cohen, which is a very good choice dan menghembuskan kesegaran tersendiri.

Secara keseluruhan, seluruh aktor-aktris yang terlibat dalam film ini tidak ada satupun yang memberi penampilan buruk. Semuanya terasa cocok dengan karakter mereka dan sanggup membangun chemistry yang baik satu sama lain. Lagu-lagu yang dinyanyikan juga terlantun dengan baik--bahkan Russell Crowe pun tak seburuk kata orang-orang.


Akan tetapi, Les Miserables tidak luput dari beberapa kekurangan, seperti alur di beberapa scene-nya yang terasa mengalir lambat (meski hal ini dapat dimaklumi untuk ukuran film yang berdurasi 157 menit ini; musikal lagi) hingga segelintir poin cerita yang maybe terkesan terlalu ketinggalan jaman bagi beberapa penonton. 

Pemilihan aspect ratio 1.85:1-nya juga dapat dikatakan kurang pantas untuk Les Miserables karena mengurangi komposisi di beberapa adegan yang seharusnya bisa tampil lebih epik apabila dishot dengan aspect ratio 2.39:1. Akan tetapi, 1.85:1 memang sangat cocok untuk adegan close-up ketika para karakter utama kita sedang bernyanyi.  But believe me, the flaws up there won’t hurt so much.


Overall, Les Miserables adalah film musikal yang terlalu indah, epik, dan megah untuk dilewatkan begitu saja. Film ini akan membuat anda menangis, tertawa, tersenyum, patah hati, dan jatuh cinta dengan lagu-lagunya yang luar biasa dan juga karakter-karakter tak terlupakan yang diperankan dengan baik oleh aktor-aktris A-listernya. Bagi yang belum pernah menyaksikan film musikal, then make Les Miserables your first musical film experience. You won’t regret it.



You Might Also Like

4 comments

  1. wah...agan sukses besar membuat saya penasaran akan film ini, pdhal saya awalnya kgk berniat nonton film ini di bioskop, nunggu keluar brrip nya aja, soalnya krg demen ama film musikal, tapi setelah baca review di atas, dan termotivasi ama quote ini "Bagi yang belum pernah menyaksikan film musikal, then make Les Miserables your first musical film experience. You won’t regret it."
    I think it worth to watch at theatre...right???

    ReplyDelete
  2. Sangat layak ditonton di bioskop gan. Serius. haha.
    Cuman ada 2 yang perlu agan siapin : 1. waktu yang banyak (filmnya panjang, 2 jam 30 menit) 2. persiapan mindset karena film ini 95% isinya nyanyi-nyanyi.

    Yakin deh, pasti suka ;)

    ReplyDelete

Just do it.