ONCE UPON A TIME, HANSEL & GRETEL WERE A FAMOUS WITCH HUNTER

1/25/2013 03:37:00 PM



HANSEL & GRETEL WITCH HUNTERS (2013)
2013 / 88 Minutes / Tommy Wirkola / US / 2.39:1 Aspect Ratio / R

Tahu apa yang sedang sangat trend di Hollywood sana? Sepertinya hampir setiap bulan kita selalu dicekoki dengan segala hal (ntah itu berita, trailer, dsb) yang berbau film re-imagining dongeng terkenal dengan formula gelap-gelapan dan serba realistis ala The Dark Knight, atau yah, paling tidak sedarah dengan Alice in Wonderland tahun 2010 lalu. Mengikuti trend sebenarnya tidak salah karena memang sudah kodrat manusia untuk mengikuti segala hal yang menguntungkan--ada gula ada semut, right?--tetapi yang perlu dipertanyakan sekarang adalah, apakah penonton tidak bosan dengan formula yang repetitif seperti itu?


Once upon a time...

Untuk awal tahun 2013 ini, kita sudah disuguhi dengan film re-imagining dongeng terkenal Hansel & Gretel, yang mana telah membuktikan bahwa trend ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Uniknya, Tommy Wirkola, sang sutradara sekaligus penulis naskah film ini, mencoba sesuatu yang berbeda yakni dengan membuat Hansel & Gretel sebagai sequel dari dongeng itu sendiri dan tentunya dibalut dengan tema yang lebih dewasa (dalam arti sebenarnya). 

Hansel & Gretel Witch Hunters dibuka dengan adegan yang sudah sangat familiar, di mana Hansel dan Gretel kecil menemukan sebuah rumah permen ketika mereka tersesat di dalam hutan. They didn't leave any bread crumbs, unfortunately. Di situ, mereka ternyata sudah ditunggu oleh sosok penyihir yang sedang bersiap-siap untuk memasak Hansel dan Gretel kecil. Akan tetapi, berkat beberapa twist dan kecerdikan mereka berdua, penyihir yang terlalu meremehkan mereka itu berhasil dikalahkan dan dibakar hidup-hidup.

Beberapa tahun kemudian, Hansel (Jeremy Renner) dan Gretel (Gemma Arterton) tumbuh besar menjadi sekelompok pembasmi penyihir yang sangat populer, sadis, dan tanpa ampun. Tidak ada penyihir yang tidak dapat mereka bunuh sampai mereka bertemu dengan Muriel (Famke Janssen), istri Voldemort, seorang penyihir terkuat yang memiliki hubungan misterius dengan masa lalu Hansel dan Gretel.


Kutukan bulan Januari yang berhasil dipertahankan.

Sebenarnya tidak perlu heran kenapa Paramount memutuskan untuk mengundur Hansel & Gretel selama 9 bulan, dari bulan Maret 2012 ke bulan Januari 2013. Mereka tidak percaya diri atas kualitas Hansel & Gretel sehingga merilis film ini setelah Jeremy Renner menuntaskan pekerjaannya di The Avengers dan The Bourne Legacy dengan harapan agar masyarakat lebih tertarik dengan pesona Renner yang mulai beranjak menjadi mega-bintang, “Oh ini lo yang main jadi Hawkeye, yang tukang panah itu lo. Oh ini lo cowok yang nggantiin Bourne (padahal bukan)”, got it?

Anyway, bulan Januari memang terkenal sebagai slot perilisan film-film kelas B yang dianggap kurang bisa bersaing oleh pihak studio, dan Hansel and Gretel tidak termasuk dalam perkecualian. Film ini masih satu keluarga dengan seri pertama Underworld, Resident Evil, Priest, dan film action-horror hybrid sejenis lainnya : Rating R, adegan action yang monoton, hingga alur cerita yang biasa-biasa saja. 


Untuk kasus Hansel & Gretel, alur ceritanya termasuk lebih well-written dibanding film-film sejenis. Sayangnya, Tommy Wirkola tidak memanfaatkan segala potensi yang sebenarnya dimiliki dongeng Hansel & Gretel ini untuk melebarkan sayap narasinya guna menciptakan fondasi franchise baru yang kuat seperti halnya yang sedang dilakukan oleh film-film adaptasi dongeng lain. 

Bahkan poin-poin cerita yang berpotensi dikembangkan untuk menjadi twist yang membahana (misalnya saja si troll ternyata adalah ayah Hansel & Gretel yang dikutuk) juga ditinggal begitu saja. Amat sangat disayangkan sebenarnya. Tommy Wirkola cenderung lebih memberatkan film ini ke sisi action dan hiburan maksimal yang justru membuat film ini tidak dapat selegendaris dongeng yang diadaptasinya. 

Jadi dengan kata lain, mau judulnya (silahkan ditambah Witch Hunters sendiri di bagian belakang) Upin & Ipin, Budi & Santi, Abraham & Mary, Ali & Ani, Jono & Jane, tidak akan berpengaruh sama sekali dengan konteks filmnya. Hansel & Gretel jelas dipakai hanya untuk menarik calon penonton di seluruh dunia yang sudah familiar dengan dongengnya; tidak kurang, tidak lebih.


Keasyikan rasa Hollywood.

Sehingga kalau boleh sedikit subjektif, penyelamat film ini--yang membuatnya menjadi lebih enjoyable--menurut gw hanya ada tiga : 1. Gemma Arterton 2. Jeremy Renner 3. Gore-fest. Mari kita bahas poin pertama dan kedua dulu.

1-2. Gemma Arterton & Jeremy Renner

Gemma Arterton adalah seorang aktris pemanis yang benar-benar manjur. Aktingnya memang cenderung biasa-biasa saja, namun ntah kenapa ia sangat cocok untuk memerankan karakter semacam Gretel dalam film ini dan gw berharap Gemma dapat diperhitungkan oleh para petinggi studio selanjutnya untuk peran femme fatale yang jelita. 

Jeremy Renner juga semakin memperkuat pesonanya sebagai seorang action-star yang memang layak, baik secara fisik maupun gayanya, untuk menjadi karakter utama di film-film aksi. 

Jadi, dengan kombo maut sedemikian rupa, Hansel & Gretel berhasil menjadi lebih tidak membosankan dan membuat para geek tetap semangat mengikuti arus film ini walau narasinya tidak begitu seru, thanks to both of them. Unfortunately, Resident Evil dan Underworld juga memiliki Milla Jovovich dan Kate Beckinsale sebagai gula pancingan para semut, jadi sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan dalam formulanya.


3. Gore-fest

Poin ketiga, gore-fest. Bagi yang sudah menyaksikan film Dead Snow, or at least pernah mengintip trailernya, Tommy Wirkola jelas memiliki keahlian dalam hal memadu-padankan darah dan dark humor. Rentetan adegan aksi dengan intensitas fun, kesintingan, dan dark humor yang cukup terjaga dalam Hansel & Gretel telah membuktikan kemampuannya itu. 

Sayang, adegan-adegan aksinya minim inovasi (termasuk segi visual effects dan design monster-monsternya--bahkan ada yang mirip Titans kembar siam dari film Wrath of the Titans) dan hadir terlalu banyak di dalam durasinya yang pendek, sehingga agak terkesan monoton dan cenderung berdesak-desakan dengan narasinya yang mengalir terburu-buru itu.


Overall, Hansel & Gretel Witch Hunters tidak lepas dari apa yang sudah kita prediksi jauh-jauh hari, yakni sebuah film hiburan kelas B yang mudah dilupakan dan tidak sanggup menghidupkan dongeng legendaris yang diadaptasinya itu. Tetapi, berkat unsur fun dan narasinya yang sedikit di atas rata-rata film sejenis, sepertinya para penonton tidak terlalu keberatan untuk menyaksikan installment Hansel & Gretel berikutnya kalau-kalau pencapaian di tangga box office mereka berhasil mendorong rasa percaya diri para petinggi studio untuk menyalakan lampu hijau proyek sequel-nya. So, my dear Hansel and Gretel, Which one do you guys plan to kill next, Death Eaters or Dumbledore’s Army?



You Might Also Like

6 comments

  1. LOL.
    Upin & Ipin.
    Btw, this review helps me a lot. Jadi bingung jadi nonton apa engga..

    ReplyDelete
  2. kedemgarannya sangat maksa ya? kenapa semua film musti 'gritty' atau 'dark'? its a frakkin hansel & gretel! masih lebih keren pinochio versi disney yg original. now thats creepy but still in a fable realm.

    ReplyDelete
  3. @movie blogger : Kalau suka film full action semacam underworld, resident evil, dan sebangsanya, agan pasti suka film ini. and vice versa. The choice is yours ;)

    ReplyDelete
  4. @gasoline sky : ya begitulah. serba dark. pinocchio versi disney belum tercemar formula serba dark waktu itu. hahaha. Sekarang kabarnya Guillermo del Toro mau buat live action pinocchio versi dark-nya.. Tahun depan ada Sleeping Beauty dark versi disney.

    Ntar maret ada Oz the wizard and powerful dan Jack the giant slayer. kabarnya jg serba dark semacam Alice in Wonderland gitu.

    ReplyDelete
  5. Correction. Alice in Wonderland itu film tahun 2010, bukan 2009 bro :)

    ReplyDelete
  6. @jeffita lie : wow thanks berat atas masukannya! Segera saya ganti :D

    ReplyDelete

Just do it.