2013 / Sony Pictures / US / James Wan / 106 minutes / 2.39:1 / PG-13
Tahun 2013 adalah tahun keemasan bagi seorang James Wan. Pertama, ia ditunjuk menggantikan Justin Lin untuk mengomandani proyek raksasa Universal, Fast and Furious 7, yang akan dirilis tahun depan. Kedua, film-film horror terbarunya untuk tahun ini, The Conjuring dan Insidious Chapter 2, berhasil meraup keuntungan gila-gilaan di tangga box office dunia dan membuatnya menjadi sutradara kedua (yang pertama adalah Wachowski Brothers dengan Matrix Reloaded dan Matrix Revolutions-nya) dalam sejarah perfilman yang merilis dua film dengan raupan opening weekend di atas $40 juta di tangga box office Amerika dalam tahun yang sama. Dan terakhir, nama beliau kini resmi dikenal sebagai salah satu sineas horror terbaik dalam milenium ini.
2013 / Europa Corp. / France / Luc Besson / 111 Minutes / 2.39:1 / R
Konon, sutradara film asal Perancis, Luc Besson, pernah mengungkapkan dalam salah satu wawancaranya bahwa beliau hanya akan menyutradarai 10 film dan kemudian menghabiskan sisa hidupnya untuk duduk di kursi produser dan membimbing sutradara-sutradara muda. Namun pada kenyataannya, sepak-terjangnya di dunia perfilman dan penyutradaraan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan Malavita, atau dikenal juga dengan judul The Family di wilayah Amerika, merupakan film ke-20 yang disutradarainya. Yep, dua kali lipat dari yang pernah beliau janjikan.
2013 / Universal Pictures / US / David Twohy / 119 Minutes / 2.39:1 / R
Vin Diesel memang dikenal dunia lewat sosok Dominic Toretto di franchise Fast and Furious milik Universal. Tetapi, jauh sebelum itu, Vin Diesel sebenarnya telah angkat nama terlebih dahulu lewat perannya sebagai Riddick di film Pitch Black (2000) yang dilanjutkan dengan sequelnya The Chronicles of Riddick (2004). Franchise Riddick memang sempat mengalami pasang-surut. Kedua filmnya tidak pernah menembus angka $100 juta di tangga Box Office Amerika (bahkan film keduanya rugi besar karena tidak dapat menutup biaya produksinya yang mencapai $110 juta), namun berhasil mencapai popularitas yang luar biasa ketika dirilis di home video sampai kemudian kisahnya dilanjutkan dalam bentuk graphic novel dan video games.
Menentukan pilihan untuk menyaksikan versi 3D atau 2Dnya memang masih terasa sulit di tengah masyarakat meski pihak grup 21 sekarang sudah mempermudahnya dengan menyetarakan harga tiket masuknya. Ya, kalau dulu kita punya alibi tentang masalah perbedaan harga, sekarang hanyalah masalah kualitas : apakah efek 3Dnya sanggup memberikan movie experience yang luar biasa, yang tidak dapat kita peroleh dari versi regulernya (2D) sehingga kita diharuskan untuk menyaksikan film tersebut dalam format 3D demi mendapatkan experience yang diharapkan sang sineas? Well, post ini saya harapkan dapat semakin mempermudah kalian untuk mengambil keputusan!
Note : saya SEDIKIT membahas isi filmnya dalam post ini.
Berikut 10 film summer terbaik tahun ini, plus beberapa award iseng-iseng versi Cinephile’s Diary. Spoiler alert : tidak ada film superhero dalam daftar kali ini.
2013 / Sony Pictures / US / Neill Blomkamp / 107 Minutes / 2.39:1 / R
“I know what makes you a boy. Your bald head. It’s really smooth. Sometimes I stare at it, I imagine a little chick popping out. Peep-peep-peep-peep.” -Agnes.
Neill Blomkamp, sutradara kulit putih kelahiran Afrika, sempat mengguncang dunia perfilman lewat film sci-fi District 9 hasil kolaborasinya dengan Peter Jackson yang dirilis tahun 2009 silam. Tidak hanya sukses secara komersil, film ini juga disukai oleh banyak penonton dan kritikus di seluruh dunia sampai-sampai juri Oscar tidak segan menganugerahinya empat nominasi Oscar, termasuk Best Picture, Best Adapted Screenplay, Best Editing dan Best Visual Effects. Dengan prestasi gemilang seperti ini, Blomkamp jelas tidak perlu susah payah lagi mencari studio yang mau mendanai dan mendistribusikan proyek film sci-fi terbarunya, Elysium, yang akhirnya jatuh di tangan Sony Pictures dengan total biaya produksi sebesar $100 juta.
2013 / Hindi / Rohit Shetty / 141 Minutes / R / 2.39:1
Actually, ini adalah kali pertama saya menonton film India di bioskop. Honestly, ini adalah film India kedua yang pernah saya tonton secara utuh seumur hidup--yang pertama adalah Kahaani (2012) yang telah dirilis tahun lalu. Tetapi bagaimanapun juga, film tetap film. Tidak ada yang terlalu membedakannya satu sama lain selain pada unsur budaya, karakteristik, dan juga sisi teknisnya.
Jika Hollywood menjadikan momen Summer sebagai ladang subur untuk menanam dan menuai investasi besar-besarannya, maka libur Lebaran dapat dikatakan sebagai Summer Momment bagi para produser film Indonesia untuk merilis film-film unggulannya. Penggusuran film-film blockbuster Hollywood dari slot XXI dan Blitzmegaplex biasanya mulai dilakukan pada hari awal libur Lebaran demi memberikan layar sebanyak-banyaknya untuk memutar film-film unggulan tersebut--ya gampangannya, gantian dengan film dari negeri sendiri.
2013 / US / 20th Century Fox / 126 Minutes / James Mangold / 2.39:1 / PG-13
Many said that 2009’s X-Men Origins : Wolverine is a disaster. Banyak pula yang mengatakan kalau film ini hanya mengulang beberapa poin cerita yang sudah pernah dibahas di ketiga film X-Men dengan plot hole yang lebih besar dan visual effects yang lebih payah. Hanya segelintir orang yang berpendapat bahwa film ini adalah prekuel yang baik dalam menuturkan kisah origins sang Wolverine, and mostly it’s from the general audiences. Namun toh, walau penonton dan fans banyak yang tidak menyukainya, 20th Century Fox masih tetap nekad melanjutkan kisah Wolverine sampai installment keduanya ini karena, obviously, pendapatan box office X-Men Origins dan X-Men First Class yang sangat memuaskan dan juga karena pertimbangan bahwa X-Men ini adalah satu-satunya franchise paling menguntungkan yang dimiliki Fox. Cliche.
Menentukan pilihan untuk menyaksikan versi 3D atau 2Dnya memang masih terasa sulit di tengah masyarakat meski pihak grup 21 sekarang sudah mempermudahnya dengan menyetarakan harga tiket masuknya. Ya, kalau dulu kita punya alibi tentang masalah perbedaan harga, sekarang hanyalah masalah kualitas : apakah efek 3Dnya sanggup memberikan movie experience yang luar biasa, yang tidak dapat kita peroleh dari versi regulernya (2D) sehingga kita diharuskan untuk menyaksikan film tersebut dalam format 3D demi mendapatkan experience yang diharapkan sang sineas? Well, post ini saya harapkan dapat semakin mempermudah kalian untuk mengambil keputusan!
Note : saya tidak membahas isi filmnya dalam post ini, hanya kualitas efek 3Dnya saja.