AACH... AKU JATUH CINTA (2016) REVIEW: KOMPILASI PUISI PAHIT MANIS CINTA
4 stars movie 2/18/2016 01:06:00 PM
Lolos seleksi untuk tampil secara resmi di Busan International Film Festival tahun 2015 lalu memang bukan prestasi sembarangan. Tidak banyak film Indonesia yang mampu menorehkan prestasi serupa. Tetapi dari segi bisnis maupun bagi sutradara / penulis Garin Nugroho sendiri, film Aach... Aku Jatuh Cinta tetaplah sebuah pertaruhan besar. Kisah cinta tahun 70-an dengan dialog-dialog puitis dan judul yang nyentrik adalah sesuatu yang jelas tidak mudah untuk ‘klik’ dengan masyarakat saat ini.
Genre:
Action, Sci-fi, Romance
Negara:
Amerika
Distributor:
20th Century Fox Indonesia
Tanggal
Rilis: 10 Februari 2016 (wide)
Format:
Regular 2D, IMAX 2D, 4DX 2D, Sphere X 2D
Kehadiran 4DX di Indonesia tahun 2013 kemarin mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat dan pecinta film yang mengutamakan pengalaman menonton yang maksimal. Namun dengan harga tiket yang jauh lebih mahal (hampir dua kali lipat harga tiket reguler), tentu kalian harus lebih cermat memilih film mana yang layak ditonton dalam format 4DX dan mana yang cukup ditonton dalam format reguler. Jadi, apakah Deadpool layak disaksikan dalam format 4DX? Let’s find out!
Genre: Action, Sci-fi, Romance
Negara: Amerika
Distributor: 20th Century Fox Indonesia
Tanggal Rilis: 10 Februari 2016 (wide)
Format: Regular 2D, Sphere X 2D, IMAX 2D, 4DX 2D
Movie: 4.5/5
Dikucuri budget yang 'hanya' sebesar $58 juta, sutradara Tim Miller beserta tim marketing-nya menggunakan Ryan Reynolds dan segala resource yang ada sebaik-baiknya untuk mengangkat pamor proyek film Deadpool dari hanya sekedar 'mimpi basah' para fans-nya hingga menjadi sebuah global phenomenon. Hasilnya? Film ini sukses membuktikan bahwa ia tidak butuh budget raksasa untuk membuat film superhero yang luar biasa seru, penuh kejutan, dan membuat penontonnya terpingkal-pingkal dari awal film sampai akhir.
Sphere X format: 2D
Venue: Sphere X CGV Blitz Marvell City Surabaya
Seat: H19 (recommended)
Apakah The Revenant layak untuk disaksikan dalam format Sphere X atau cukup di layar regular saja? Let's find out!
Mengadaptasi buku ke medium film memang selamanya tidak pernah menjadi perkara mudah. Ada dua pertimbangan yang harus diperhatikan benar-benar oleh sang pembuat film, antara misinya untuk menyeimbangkan egonya dengan ego sang penulis, dan misinya untuk memuaskan penonton yang sebelumnya sudah membaca sumber materi ceritanya. Perselisihan antara pembuat film dan penonton seringkali terjadi pada materi cerita yang sudah terlebih dahulu terkenal di khayalak ramai, seperti, misalnya, buku-buku gubahan Dewi Lestari (Dee). Semenjak Rectoverso yang cukup bagus, film adaptasi berikutnya cenderung kurang memenuhi ekspetasi para penggemarnya, seperti Perahu Kertas, Madre, sampai Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.
THE IMITATION GAME (2014): BIOGRAFI TENTANG INOVASI, TANPA INOVASI
4 stars movie 1/30/2015 10:26:00 PM
2015 / Morten Tyldum / 114 Minutes / 2.39:1 Aspect Ratio / PG-13
The Imitation Game berkisah tentang Alan Turing (Benedict Cumberbatch), seorang profesor genius termuda di Inggris yang tertarik untuk bergabung dalam sebuah tim rahasia milik pemerintah. Tim tersebut dibentuk hanya untuk menunaikan satu tujuan saja: memecahkan kode rahasia milik German, membongkar semua rencana mereka, dan memenangkan Perang Dunia.
2014 / 20th Century Fox / US / Josh Boone / 125 Minutes / 1.85:1 / PG-13
Hazel Grace (Shailene Woodley) adalah seorang penderita kanker thyroid stadium empat yang merasa hidupnya tidak berarti lagi, sampai akhirnya, dia bertemu dengan Augustus Waters (Ansel Elgort), seorang pria yang berhasil memberikan cinta dan makna hidup sebenarnya untuk Hazel.
2014 / US / Walt Disney / Joe & Anthony Russo / 136 Minutes / PG-13
Tak terasa, sekuel yang paling ditunggu-tunggu masyarakat dunia, The Avengers 2 : Age of Ultron, sudah memulai proses syutingnya dan siap menyerbu bioskop dalam beberapa bulan ke depan. Menyambut puncak klimaks-nya, tensi Phase 2 dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) pun semakin membara. Setelah disambut oleh Iron Man 3 yang kontroversial dan kemudian Thor 2 yang mulai memberi secercah poin cerita tentang apa saja yang akan terjadi dalam film The Avengers 2, saga MCU phase 2 ini pun berlanjut dengan installment ketiganya, Captain America The Winter Soldier, yang kini tengah menguasai layar bioskop di seluruh dunia, dan kemudian ditutup oleh kepingan puzzle terakhir, Guardians of the Galaxy yang akan dirilis bulan Agustus nanti.
2014 / Indonesia / 150 Minutes / Gareth Evans / 2.39:1 / R
Semenjak menggebrak layar pertama kali di Toronto International Film Festival tahun 2011 silam, The Raid (Serbuan Maut) sudah menjadi sebuah sensasi. Tidak hanya di dalam negeri asalnya sendiri, Indonesia, tetapi juga di kancah dunia perfilman internasional.
2014 / Indonesia / 135 Minutes / The Mo Brothers / 2.39:1 / R
Nama The Mo Brothers sebagai sutradara mungkin belum setenar Hanung Bramantyo atau Joko Anwar di mata masyarakat awam, tetapi kiprah mereka, terlebih Timo Tjahjanto, di dunia perfilman nasional maupun internasional, tak bisa dipandang remeh. Lewat debut fitur film mereka, Rumah Dara (Macabre), lima tahun silam, nama mereka seakan sudah melambung tinggi di kalangan pecinta film dan fans film horror sebagai sutradara yang patut dinantikan karya-karyanya. Bahkan para produser film asing pun tak segan memberi kepercayaan pada Timo Tjahjanto untuk menyutratradarai salah satu segmen film horror omnibus The ABCs of Death (segmen L for Libido) dan V/H/S (segmen Safe Haven bersama Gareth Evans). Hasilnya? Karya-karyanya selalu menjadi yang paling standout dan paling tak terlupakan dari semua segmen yang lain!
2013 / Columbia Pictures / US / David O. Russell / 130 Minutes / 2.39:1 / R

2013 / Warner Bros. Pictures / US / Alfonso Cuaron / 90 Minutes / 2.39:1 / PG-13
2013 / Warner Bros. Pictures / US / 131 Minutes / Guillermo del Toro / 1.85:1 / PG-13
Guillermo del Toro memang bukan nama yang sering kita baca bersamaan dengan gelar "directed by" di depannya. Mungkin total hanya ada 8 film yang pernah disutradarainya, termasuk film terbarunya, Pacific Rim. Tetapi di antara para geeks, fanboys, pecinta film dan bahkan para petinggi studio sekalipun, del Toro adalah sosok yang sangat dihormati. Imajinasi dan keatifitasnya yang tak terbatas telah bertanggung jawab besar atas kesuksesan film-film animasi DreamWorks di mana ia sering duduk di kursi produser dan berperan sebagai creative consultants, ditambah lagi dengan film-film horror supranatural populer yang diproduserinya seperti The Orphanage, Mama, Don’t be Afraid of the Dark, sampai film aksi petualangan fantasi berkelas seperti The Hobbit Trilogy yang hampir disutradarainya, Hellboy 1-2, dan Pan's Labyrinth yang telah menganugerahinya nominasi piala Oscar. He got all that under his belt.
2013 / 149 Minutes / Gore Verbinski / US / 2.39:1 / PG-13

2013 / 110 Minutes (with “The Blue Umbrella” short) / Dan Scanlon / US / 1.85:1 / G

2013 / 115 Minutes / US / Marc Forster / 2.39:1 / PG-13
EVIL DEAD
2013 / 90 Minutes / Fede Alvarez / US / 2.39:1 / R
Evil Dead adalah sebuah legenda. Film debut sutradara Sam Raimi ini telah mengambil hati ribuan penonton sejak masa perilisannya 32 tahun silam hingga sudah menjadi sebuah keharusan tersendiri untuk menyaksikan ketiga serinya setiap malam Halloween. Jangan lupakan pula sumbangsih besarnya terhadap formula film-film horror sampai saat ini bersama dengan kawan-kawan sejawatnya seperti Nightmare on Elm Street, Friday the 13th, dan Texas Chainsaw Massacre.
THE IMPOSSIBLE (2012) : CLOSE YOUR EYES, THINK OF SOMETHING NICE
4 stars movie 1/12/2013 06:56:00 PM
THE IMPOSSIBLE
2012 / Juan Antonio Bayona / 113 Minutes / Spain / 2.39:1 Aspect Ratio / PG-13
Mimpi buruk serangan tsunami di Aceh tahun 2004 lalu memang merupakan pukulan luar biasa bagi Bangsa Indonesia. Tetapi bagi Hollywood, bencana tersebut dapat dijadikan ladang uang bagi mereka. Setelah berkali-kali mengoyak luka warga Amerika dengan berbagai film 9/11 mereka (yang terbaru adalah Extremely Loud and Incredibly Close), sebenarnya tinggal menunggu waktu saja bagi para produser dan sineas untuk mengadaptasi kisah nyata bencana lainnya yang tidak kalah memilukan : tsunami. Tetapi uniknya, film bencana terbaru ini bukan datang dari sineas-sineas kelahiran Hollywood, melainkan dari tangan dingin seorang sineas asal Spanyol, Juan Anthonio Bayona.
Sejak diterbitkan sebelas tahun yang lalu, novel Life of Pi telah berhasil mengambil hati masyarakat dan menelurkan banyak fans berkat kisahnya yang sangat indah, tidak biasa, dan memuat banyak pesan moral yang (katanya) bisa membuat para pembacanya percaya kepada Tuhan. Dengan kepopuleran seperti itu, jelas sudah bukan kejutan lagi kalau para produser dan petinggi studio Hollywood berlomba-lomba untuk mendapatkan hak adaptasi novel karya Yann Martel ke medium film. Sayangnya, materi novel ini ternyata sulit untuk ditransfer ke layar lebar, apalagi sebelumnya novel tersebut telah mendapat restu dari para fans bahwa kisah petualangan Pi ini memang unfilmable.












