DEMI UCOK (2013) REVIEW : SEGENGGAM SEMANGAT YANG MELAMPAUI KETERBATASAN

1/06/2013 07:52:00 PM



DEMI UCOK
2013 / Sammaria Simanjutak / 79 Minutes / Indonesia / 1.85:1 Aspect Ratio / PG-13

Gaung film Demi Ucok mulai terdengar keras ketika film ini berhasil mendapatkan delapan nominasi Festival Film Indonesia 2012, yang mana salah satunya adalah film terbaik. Tetapi sayangnya, film tersebut belum dirilis di bioskop-bioskop tanah air pada waktu itu, bahkan sampai acara puncak FFI sudah selesai diselenggarakan. Meski pada akhirnya film Demi Ucok hanya memenangkan satu piala citra untuk kategori best supporting actress, hype yang sudah terbangun di kalangan para pecinta film itu jelas tidak luntur begitu saja ketika film ini akhirnya ditayangkan serentak mulai tanggal 3 Januari 2013 lalu. 



Demi Ucok adalah sebuah film komedi yang berkelas*

Kisah yang dibawakan oleh film Demi Ucok ini sedikit banyak berbagi kemiripan dengan film berjudul Adaptation yang dibintangi oleh Nicholas Cage tahun 2002 silamDemi Ucok juga menggabungkan antara kisah nyata sang creator film ini, Sammaria Simanjutak, yang berusaha keras mewujudkan film Demi Ucok agar bisa masuk tahap produksi, dengan kisah fiksi mengenai seorang perempuan berdarah Batak bernama Gloria (Geraldine Sianturi) yang ingin mencapai cita-citanya sebagai seorang sutradara film dan menentang keras permintaan ibunya, Mak Gondut (Lina Marpaung), untuk menikah dengan lelaki kaya. 

Materi cerita yang dituturkan film Demi Ucok ini dapat dikatakan biasa saja sebenarnya apabila kita mengamati dari kulit luarnya saja : cliche dan sudah sering dipakai di film-film dengan premise "remaja pemberontak". Bahkan gaya humor yang diusung film ini--bagi yang sudah mengintip trailernya--juga sangat rawan untuk terjun ke ranah cheesy dan murahan kalau tidak ditangani dengan tepat oleh sutradara yang mempunyai taste baik (5 cm adalah contoh film yang gagal di bagian ini). 

Akan tetapi, semua perasaan skeptis itu berhasil ditampik bersih ketika film Demi Ucok telah memulai menit awalnya. Well, the thing is, Sammaria Simanjutak memang memiliki gaya directing yang unik (dalam artian positif), dan bagaimana skill-nya untuk mencampurkan humor super cheesy dengan kehidupan Glo sebagai seorang filmmaker menjadi sesuatu yang membuat para penontonnya tertawa tulus sekaligus jatuh cinta sungguh dapat dikatakan magical

Dan hal tersebut secara tidak langsung berpengaruh sangat besar terhadap perguliran narasi film ini, di mana retelling kisah ‘klasik’ tersebut menjadi terasa sangat fresh dan menyenangkan untuk diikuti tiap menitnya; bahkan sukses membuat para penonton tidak sabar untuk menanti-nantikan apa yang akan terjadi selanjutnya meski arah film ini bisa ditebak sejak awal kita membaca sipnosisnya. 

*Terms and conditions apply


AAASSAALLL......

Hal di atas sebenarnya bisa berlangsung konsisten sampai film berakhir, AASSAALL... asal sang penulis naskah, yakni Sammaria sendiri, tidak kehabisan ide dan inovasi di pertengahan film. Ya, cita rasa Demi Ucok tiba-tiba menurun drastis ketika perjalanan film ini telah sampai di titik tengah-tengah durasi. Gaya humornya mulai terasa monoton, ditambah lagi dengan perkembangan ceritanya yang membosankan dan begitu-begitu saja tanpa taburan inovasi dan kesegaran seperti di bagian awalnya. Kekeringan ide ini mungkin juga berdampak banyak pada durasi film ini yang terbilang berakhir sangat singkat (hanya sekitar 65-70 menit tanpa credit title) dengan konklusi film yang cenderung lo kok cuma gitu aja forgettable

Bahkan tidak sedikit penonton yang dibuat bertanya-tanya sendiri apakah para juri FFI itu hanya nonton separuh bagian saja atau memberi nominasi Best Picture dan tujuh nominasi lainnya untuk menghargai usaha keras Sammaria untuk mewujudkan film ini.

Well, apapun itu, paruh akhir Demi Ucok dapat dikatakan mengecewakan dan tidak sesuai dengan harapan yang telah dibangun dengan baik di bagian awalnya. 


Untung saja, tiga karakter sentralnya berhasil memberi performa yang konsisten sepanjang film, terutama Lina Marpaung yang berperan sebagai Mak Gondut. Beliau memang layak diganjar piala citra atas kepiawaiannya untuk terus-menerus menjadi scene-stealer dan primadona utama film Demi Ucok ini. Demikian pula dengan pemeran dua karakter utama lainnya, Glo dan Niki, yang performanya terasa natural, sesuai dan tidak mudah dilupakan begitu saja.

Alunan musik, dialog-dialog cerdas, dan pernak-pernik visualnya--yang meksi dirasa terlalu komikal--juga berhasil memperkuat sisi quirky film ini dan membuatnya paling menonjol apabila dijajarkan dengan film-film komedi tanah air sekarang ini. 

Well, meski tidak sepenuhnya bekerja sempurna, at least poin-poin plus ini sukses membuat Demi Ucok tidak begitu terpuruk ketika bagian narasi film ini sedang mengalami kesusahan untuk menyenangkan hati penonton yang mulai mengecap rasa pahit. 


Overall, di luar segala kekurangan dan keterbatasannya itu, curahan semangat dan kecintaan Sammaria terhadap dunia film memang sangat terasa di dalam film Demi Ucok; membuat film ini tidak boleh terlewatkan begitu saja dari radar para pecinta film di Indonesia. Dan pertanyaannya sekarang, demi apa kamu menolak menyaksikan film ini?




You Might Also Like

1 comments

Just do it.